Indonesia Bukan Singapura

Oleh: Hilmi Firdausi

Akhir-akhir ini kalangan yang merasa pintar dengan IQnya yang mencapai 200 (sekolam) mengangkat isu terpilihnya Halimah Yacob sebagai Presiden Singapura sebagai bahan untuk menyinyiri fenomena Muslim wajib pilih Muslim di Pilkada DKI.

Mereka nyinyir dengan menyebut "Indonesia memang bukan Singapura yang rakyatnya terpelajar, mau menerima minoritas sebagai pemimpinnya." Ada lagi nyinyir yang bilang "Karena warga Tionghoa di Singapura tidak dibohongi dengan ajaran bahwa haram memilih pemimpin muslim, Singapura kini memiliki Halimah Yacob sebagai Presiden mereka". Benar-benar cerdas ala IQ 200 sekolam, nyinyir tanpa baca, nyinyir tanpa fakta. Poko'e nyinyir poko'e nyinyir---boleh dinyanyikan ala-ala acara joget di TV. 

Saya yang tadinya ga pedulipun akhirnya coba banyak cari tau tentang Konstitusi di Singapura. Saya taunya, memang Presiden di sistem pemerintahan parlementer lebih hanya kepada simbol saja, karena semua kebijakan ada di tangan Perdana Menteri, mirip kayak negara-negara Kerajaan seperti tetangga kita Malaysia dan Thailand. Akhirnya saya temukan bahwa di Konstitusi Singapura ada pasal yang isinya ;

Bila dalam lima kali pemilihan presiden berturut-turut ada ras yang tidak terwakili menjadi presiden terpilih, dalam pilpres berikutnya, jabatan presiden khusus dikompetisikan untuk ras tersebut.

Dan tahun 2017 ini adalah jatahnya orang Melayu. 

Kok bisa ???? Ya eyalahhh...

Lima kali berturut-turut dihitung mulai pilpres tahun 1991, mulai diselenggarakannya pilpres secara langsung, yang terpilih menjadi presiden adalah Wee Kim Wee.
Selanjutnya terpilih Ong Teng Cheong sebagai presiden (1993-1999).
Pilpres berikutnya lagi terpilih Sellapan Ramanathan, lebih dikenal sebagai SR Nathan, bahkan menjadi presiden Singapura dua periode (1999-2011).
Sekarang Presiden Tony Tan Keng Yam (2011-2017). Empat presiden ras Tionghoa dan seorang ras India. Tak seorang pun Melayu. Karena itu, sesuai dengan amendemen konstitusi, pilpres tahun 2017 jatah untuk ras Melayu.

Jelas ya...jadi kalau etnis minoritas mau menang di Indonesia, silahkan rubah dulu Undang-undang di negeri kita. 

Nah...selanjutnya dimunculkanlah lima calon kandidat Presiden, Mereka adalah Halimah Yacob, Abdullah Tarmugi, Yaacob Ibrahim, Masagos Zulkifli, serta Zainul Abidin Rasheed. Namun Elections Department Singapore, KPU-nya Singapura hanya meloloskan Halimah Yacob sebagai calon presiden karena empat capres lain tidak memenuhi syarat. Maka jadilah Halimah Yacob Presiden Singapura tanpa PEMILU. 

Nah...karena Indonesia bukan Singapura begitupun sebaliknya, kalau mau komparasi ya mikir-mikir dulu, cari yang Duren to duren gitu...(menurut saya lebih enak duren dibanding Apel, walau sebenarnya Apel lebih enak dari Anggur karena di Apelin lebih enak daripada di Anggurin...#apaseeeh).

Jadi sudahlah, PILKADA DKI sudah selesai, Pak Ahok sudah kalah, sudah bahagia di  penjara karena ulahnya sendiri, ga usah nyinyirin warga DKI ga terpelajar, ga usah nyinyirin muslim yang berkeyakinan wajib memilih muslim sebagai pemimpin, karena keyakinan ini bukan pakai nalar dan logika sendiri, tapi berdasar Kalam Illahi. Silahkan saja yang mau beda pendapat, tanpa perlu mencaci dan mengumpat. Kalah PEMILU, kalah PILKADA itu biasa, yang ga biasa itu kalah dalam memperbutkan hati si dia...sakiitt. 

FB : Hilmi Firdausi
FP : Kajian Hilmiyah
IG/Twitter : @hilmi28

Category: 


from Opini https://www.konfrontasi.com/content/opini/indonesia-bukan-singapura
via IFTTT

close