Dari Bobotoh: Kritik atas Sanksi hingga Aksi #KOINUNTUKPSSI



Persib Bandung kembali menerima denda dari Komisi Disiplin PSSI. Lewat surat bernomor 92/L1/SK/KD-PSSI/IX/2017, hukuman tersebut disampaikan.

Sidang Komisi Disiplin PSSI dilaksanakan seperti biasa, per awal bulan. Beberapa kesebelasan, seperti Persib, Arema, Persipura, Persela, dan Sriwijaya FC terkena hukuman akibat dianggap lalai ketika menyelenggarakan pertandingan.

Namun, dari beberapa hukuman ada satu yang dianggap janggal: hukuman untuk Persib karena ulah kelompok suporter mereka atau yang biasa disebut Bobotoh.

Beberapa musim terakhir, Persib begitu lekat dengan sebutan anak kesayangan PSSI. Pasalnya, dari beberapa pelanggaran yang mereka lakukan, hukuman yang diberikan kadang tak masuk di akal, bahkan menurut Bobotoh sekalipun.

Namun, dalam kasus kali ini, hukuman yang diberikan jauh dari konteks anak kesayangan. Hukuman kali ini diberikan oleh Komisi Disiplin PSSI akibat koreo Bobotoh yang membentuk sebuah tulisan “Save Rohingya” dalam laga Persib Bandung Vs Semen Padang.

Komisi Disiplin PSSI, melalui surat bernomor 92/L1/SK/KD-PSSI/IX/2017 mengatakan bahwa hukuman denda sebesar Rp 50 juta yang harus dibayarkan oleh manajemen Persib selambat-lambatnya 14 hari setelah surat diterima oleh yang bersangkutan.

"Suporter Persib Bandung terbukti dengan sengaja merencanakan melakukan konfigurasi dengan tulisan 'Save Rohingya' dan diperkuat dengan bukti-bukti yang cukup untuk menegaskan terjadinya pelanggaran disiplin," jelas surat PSSI yang diterima oleh manajemen Persib, Kamis (14/9) waktu setempat.

Hukuman yang diberikan oleh PSSI kepada Persib memantik pembicaraan Bobotoh di jagat media sosial. Sebagian dari mereka merasa bahwa tindakan Komisi Disiplin PSSI tak masuk akal karena aksi yang mereka lakukan jauh dari kata anarkis.

Viking, salah satu kelompok suporter Persib, mengecam tindakan PSSI. Mereka pun menggalakkan aksi #KOINUNTUKPSSI demi menunjukkan sikap kecewa mereka atas tindakan federasi sepak bola tertinggi Tanah Air tersebut.

Bahkan #KOINUNTUKPSSI ini sendiri sampai menjadi trending topic di Twitter, karena ramainya suara dari para Bobotoh. Aksi itu sendiri akan terus dilakukan uang Rp 50 juta terkumpul dan dipusatkan di Stadion Sidolig, Bandung.

“Tentu sanksi itu terlalu besar, niat sekali. Padahal ini kan tidak ada muatan politiknya, hanya (aksi) kemanusiaan saja. Disaat ada manusia ditindas masak kita mau diam saja,” ucap dirigen Viking, Yana Umar seperti dilansir www.vikingpersib.co.id.

“Mulai sekarang sampai 13 hari ke depan, karena kan batas pembayaran (sanksi) itu dua minggu. Kalau ada lebihnya kita langsung sumbangkan ke Rohingya,” tambah Yana.

Tidak hanya Yana yang reaktif akan sanksi yang dijatuhkan oleh PSSI. Manajer Persib, Umuh Muchtar, mengaku geram atas sanksi tersebut. “Kenapa disanksi, itu kan sikap kepedulian Bobotoh pada warga etnis Rohingya. Mereka simpatik, kenapa tidak boleh,” jelas Umuh.

“Saya bukan membela Bobotoh, tapi (aksi) kemanusiaannya. Pemerintah saja mendukung soal (aksi) kemanusiaannya, kenapa PSSI tidak?” tambah Umuh. 

Kekecewaan Viking dan Umuh memang wajar. Namun, menyimak peraturan sepak bola atau Law of the Game, aksi yang dilakukan oleh Bobotoh memang tak dipersilakan. Dalam Law of the Game disebutkan bahwa kegiatan yang berbau politik, SARA, dan tidak berkaitan dengan olahraga dilarang masuk ke tempat penyelenggaraan sepak bola.

sumber: kumparan



from muslim bersatu http://www.muslimbersatu.net/2017/09/dari-bobotoh-kritik-atas-sanksi-hingga.html
via IFTTT