Dakwah Sikut-Sikutan, Setan Berjingkrakan

(Panjimas.com) – Dakwah sebenarnya adalah tugas mulia. Sampai-sampai Allah Ta’ala memuji da’i.

{ وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ } [فصلت: 33]

Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?( QS: Fussilat33).

Bila para da’i maju bersama, kompak, rukun, membina Ummat dengan ikhlas menyampaikan ajaran suci dari Allah Ta’ala yang dibawa Rasul-Nya, Muhammad Shllallahu ‘alaihi wa sallam, maka betapa bagusnya. Bagai bumi yang disirami air hujan yang berkah, menumbuhkan tanam-tanaman yang maslahat bagi kehidupan manusia, di samping menjadi pemandangan indah yang menyedapkan mata.

Ummat Islam pun berduyun-duyun shalat berjamaah lima waktu ke masjid dan langgar atau surau (kini disebutnya mushalla). Lebih-lebih di bulan Ramadhan, maka seluruh masjid dan mushalla penuh dengan jamaah shalat. Dan di hari raya sangat tampak syiar Islam dengan takbir, Allahu Akbar menggema di mana-mana.

Itulah di antara keberkahan dakwah.

Tiada tujuan ke surga yang mulus tanpa goda. Sedang Nabi Adam ‘alaihissalam dan istrinya, Hawa, pun digoda setan, hingga tergoda, dan akhirnya dikeluarkan dari surga. Sehingga, bapak manusia yang sudah di surga pun ketika kena goda setan maka dikeluarkan dari surga, kemudian bertobat, dan diterim tobatnya. Nah, para da’i yang menunjuki manusia untuk menuju surga, meneruskan tugas para Ulama, yang para Ulama itu adalah pewaris para nabi, tentunya tidak luput dari goda juga.

Dakwah yang semula mulus-mulus saja, tahu-tahu bisa saja ada orang yang hasud, dengki pada si da’i. Entah itu dari masyaakat umum, atau bahkan dari da’i yang lain. Timbulah kegaduhan, ramai, saling sindir, saling cari pengaruh, dan seterusnya. Padahal, da’i satu dengan da’i yang lainnya di satu kampung atau satu desa, itu tadinya mondok (pesantrennya) sama, atau belajarnya sama. Sama-sama sebagai wong tradisional, wong doyan melakukan ini itu yang belum tentu dalilnya kuat, atau bahkan belum tentu gampang dicari dalilnya. Sudah sama-sama dilakukan, bahkan didakwahkan, tetapi ketika dicari di kitab-kitab yang shahih belum tentu ketemu. Mereka sesama da’i tidak mempersoalkan amalan itu benar atau salah, ada dalilnya yang kuat atau tidak. Tidak jadi urusan penting dalam hal itu, di kalangan da’i tradisional ini.

Meskipun tidak mempersoalkan amalan, tidak mempersoalkan dalil, bahkan amalannya pun sama antara da’i satu dengan yang lainnya di kampung itu, namun ketika yang satu lebih tampak akan maju padahal dari segi usia lebih muda, padahal dari segi keturunan, harta dan aneka ragamnya lebih rendah, namun tampaknya makin terkemuka di masyarkat, maka timbullah rasa hasad iri dengki dari da’i yang merasa lebih senior, lebih punya harta, dari keturunan lebih terhormat dan semacamnya. Mulailah terjadi konflik-konflik, hasutan, bahkan bisa pula fitnah.

Di saat gejala akan adanya kekisruhan itu, maka wadyabala setan penggoda, baik setan ketok (kelihatan) maupun setan tidak kelihatan mulai berkasak-kusuk. Mulai memanas lah suasana. Dapat kita bayangkan suasananya, sulit surutnya, tapi kemungkinan makin panasnya lebih mungkin.

Waktu tahun-tahun zaman aktifnya ayah saya di tahun sebelum 1960-an konflik sesama da’i itu sudah menjadi rahasia umum, walau secara terang-terangan belum tentu tampak ada tengkar adu mulut. Tetapi masyarakat biasanya tahu, da’i A itu musuhnya da’i B, dan seterusnya. Padahal mereka sama-sama mondoknya tadinya bareng, di pondok pesantren tradisional, misalnya.

Jebret…, begitu da’i B tiba-tiba sakit keras kejang-kejang dan sebagainya, lalu meninggal, langsung dugaan bahwa itu kena santet pun tersebar, entah dari mana, dan siapa penyebarnya. Tidak jelas, tetapi kabar burung itupun hampir merata di kampung yang sedang ada peristiwa.

Akibatnya fatal. Anak muda banyak yang takut, maka anak-anak muda jadi mlempem, takut, tidak ada gairah belajar agama. Karena kalau belajar agama, mengaji kitab dengan tekun, lalu pulang ke kampung dan bisa mengajari masyarakat untuk mengaji kitab, lalu punya murid-murid; maka bisa-bisa terancam hidupnya. Kalau ga’ mati muda ya sakit-sakitan yang sulit diobati. Ketakutan semacam ini menghantui anak-anak muda Islam di kampung itu. Takut kena santet, kalau sampai muncul sebagai tokoh agama di kampung itu.

Satu-satunya jalan, ya minggat saja dari kampung itu. Bebas. Tidak akan ada yang merasa terganggu lagi, hingga kemunginan untuk disantet pun relatif berkurang. Karena, kalau toh jadi orang terkemuka, tidak berhadapan langsung dengan dedengkot kampung yang takut tersaingi.

Nah, betapa mengenaskannya. Berdakwah itu merupakan tugas yang terpuji sebagaimana dalam ayat tersebut di atas, namun ketika da’inya sudah kena goda setan, justru dakwah itu bisa-bisa dibalut dengan sarana santet. Yang dalam Islam santet itu merupakan jenis kekufuran, termasuk dosa terbesar. Kekufuran santet itu terdapat dalam Al-Qur’an QS 2: 102.

وَٱتَّبَعُواْ مَا تَتۡلُواْ ٱلشَّيَٰطِينُ عَلَىٰ مُلۡكِ سُلَيۡمَٰنَۖ وَمَا كَفَرَ سُلَيۡمَٰنُ وَلَٰكِنَّ ٱلشَّيَٰطِينَ كَفَرُواْ يُعَلِّمُونَ ٱلنَّاسَ ٱلسِّحۡرَ وَمَآ أُنزِلَ عَلَى ٱلۡمَلَكَيۡنِ بِبَابِلَ هَٰرُوتَ وَمَٰرُوتَۚ وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنۡ أَحَدٍ حَتَّىٰ يَقُولَآ إِنَّمَا نَحۡنُ فِتۡنَةٞ فَلَا تَكۡفُرۡۖ فَيَتَعَلَّمُونَ مِنۡهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِۦ بَيۡنَ ٱلۡمَرۡءِ وَزَوۡجِهِۦۚ وَمَا هُم بِضَآرِّينَ بِهِۦ مِنۡ أَحَدٍ إِلَّا بِإِذۡنِ ٱللَّهِۚ وَيَتَعَلَّمُونَ مَا يَضُرُّهُمۡ وَلَا يَنفَعُهُمۡۚ وَلَقَدۡ عَلِمُواْ لَمَنِ ٱشۡتَرَىٰهُ مَا لَهُۥ فِي ٱلۡأٓخِرَةِ مِنۡ خَلَٰقٖۚ وَلَبِئۡسَ مَا شَرَوۡاْ بِهِۦٓ أَنفُسَهُمۡۚ لَوۡ كَانُواْ يَعۡلَمُونَ ١٠٢ [سورة البقرة,١٠٢]

“Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan lah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan: “Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir”. Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan isterinya. Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorangpun, kecuali dengan izin Allah. Dan mereka mempelajari sesuatu yang tidak memberi mudharat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Demi, sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barangsiapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat, dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui” (QS: Al Baqarah102).

Da’i satu dengan lainnya dalam satu golongan, bahkan dari guru yang sama pun bisa cakar-cakaran, bahkan kemungkinan bisa santet-santetan.

Masalah ini tentunya diketahui pula oleh musuh-musuh Islam yang mengintai-intai. Maka celah yang sangat rawan tapi sangat strategis untuk dimasuki oleh pengadu domba itu ketika dimanfaatkan oleh musuh-musuh Islam, sangat membahayakan. Bahkan celakanya, memang ada yang justru dipiara puluhan tahun oleh musuh Islam untuk kepentingan memech belah Ummat Islam. Hanya saja persaingan jenis yang awal ini, sesama serekanan, segolongan, sepemahaman ini mengalami variasi-variasi  baru.

Dalam perkembangannya, da’i-da’i dan pengikutnya yang lebih mementingkan obyekan dan berjilatan dengan pengorder dari kubu yang sejatinya berseberangan dengan Islam, mereka dengan lego lilo (suka rela) menjadi partner orang kafir, munafik, liberal, aliran sesat, dan musuh-musuh Islam lainnya. Sedang teman serekanan yang masih relatif meneruskan perjuangan sebagaimana semula justru dipojokkan, tidak diberi tempat untuk mengurusi golongan itu, dan diupayakan untuk dianggap sebagai yang tidak boleh mewakili suara golongan itu.

Kalau taktik yang da’i kampung (dalam ilustrasi ini tadi) dikabarkan main santet (dan itu sulit dibuktikan, tapi jadi rahasia umum), maka cara baru yang bersekongkol dengan musuh-musuh Islam ini lebih canggih. Dengan aneka sarana dan dana, maka mereka bisa membekuk dan mengurangi pengaruh dari teman serekanan yang sejatinya meneruskan perjuangan lama namun diupayakan dikungkung itu. Sehingga muluslah pembelokan dari kumpulan orang-orang Muslim yang tadinya untuk memperjuangkan aspirasi Islam sesuai pemahaman dan pengamalan mereka, namun dibelokkan menjadi kendaraan yang bisa bergandengan tangan (baca ditunggangi) pihak-pihak yang sejatinya bisa menghancurkan kepentingan kelompok muslim itu sendiri.

Misalnya, syiah adalah jelas memusuhi Islam dan menyimpang dari Islam. Namun justru ditemani, bahkan dibela atau pura-pura tidak tahu akan bahayanya. Lalu serekanan yang memberikan petunjuk bahwa syiah itu memusuhi Islam dan membahayakan; justru dilawan sendiri oleh kelompok yang sudah sering kongkalikong dengan orang kafir itu.

Dalam menyingkirkan rekannya sendiri, kelompok da’i yang kongkalikong dengan kafirin dan aliran sesat ataupun aktivis macam-macam yang bersebererangan dengan Islam itu gampang pula berputar haluan. Rekan mereka sendiri yang ditlikung itu, tempo-tempo justru bisa dipermainkan dengan canggihnya. Kepada rekannya yang ditlikung itu dibangkitkan lah semangatnya dalam melawan apa yang dianggapnya musuh, misalnya apa yangmereka sebut wahabi. Sedang kepada rekanan kafirin, aliran sesat, dan aktivis-aktivis anti Islam lainnya diberi aba-aba untuk menghadapi rifalnya itu (yakni yang mereka sebut wahabi) dengan dalih pemberantasan radikalisme, pengancam kebhinekaan dan entah slogan apa yang dituduhkan. Sehingga kelompok “sewaan” kafirin ini bisa membangkitkan 3 unsur: pertama kelomponya sendiri, kedua rekannya sendiri yang biasanya ditlikung tapi diajak maju bersama karena yang dihadapi adalah wahabi, dan unsur ketiga adalah syiah, kafirin, dan musuh- musuh Islam lainnya. Sehingga jadilah seakan yang sejatinya hanya rival main tapi  telah dicap sebagai wahabi dan bahkan kelompok radikal yang membahayakan ini itu, itu dijadikan sebagai sasaran, seakan dijadikan musuh bersama.

Akibatnya, sangat bertentangan dengan ayat yang memberi petunjuk bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya itu asyiddaau ‘alal kuffari ruhamaau bainahum. Bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tapi berkasih sayang sesama Muslim. (lihat QS Al-Fath/48: 29). Namun jenis “sewaan” yang menggejala kini adalah sebaliknya: berkasih sayang terhadap kafirin, syiah, aliran sesat, liberal, munafiqin, musuh-musuh Islam dan semacamnya; namun benci kepati-pati  terhadap orang Muslim yang konsisten istiqamah terhadap ajaran Nabi shallaahu ‘alihi wa sallam. Benar-benar terbalik.

Nah, dari warisan yang konon tadinya beredar kabar bahwa yang dilakukan ketika bersaing dengan rivalnya setradisi itu mengajukan jurus andalan berupa (konon disebut) santet, dan itu merupakan sikap raja tega (sangat tega sekali); kini ketegaan dan kesadisan itu dikemas sedemikian rupa. Dalih dan alasan yang dikemukakan seakan merupakan perjuangan memberantas bahaya, padahal itu hanya meneruskan warisan licik dan curang dalam menapaki kehidupan ini.

Mau dibungkus serapi-rapinya pun, kejahatan itu tetap akan tercium. Maka jangan dianggap polah tingkah selama ini tidak diketahui oleh masyarakat umum. Bahkan mungkin masyarakat sudah sangat malu untuk melihat atau menceritakannya. ‘

Semoga saja para pelakunya masih punya malu, sehingga mau kembali ke jalan yang benar.

Adapun bila sudah tidak punya malu lagi, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun telah memberikan kata-kata sindiran telak yang sangat mengena:

إِ“Sesungguhnya perkataan yang diwarisi oleh orang-orang dari perkataan nabi-nabi terdahulu adalah: ‘Jika engkau tidak malu, maka berbuatlah sesukamu’.” (HR. Bukhari, no. 3483). Wallahu a’lam bisshawaab.[RN] Penulis, Hartono Ahmad Jaiz

 

 


From Panjimas http://www.panjimas.com
Media Partner SUARA RAKYAT
via IFTTT

close