Bukti Islam Toleran, Masjid di Houston Tampung Pengungsi Kristen

KONFRONTASI -  Tercatat ribuan warga Houston, Texas, mengungsi setelah badai Harvey meluluh-lantakkan pemukiman mereka pada (31/8) lalu. Sejumlah masjid di Houston pun menyediakan tempat penampungan bagi masyarakat luas. Termasuk warga Kristen yang memang penduduk mayoritas di sana.

 

Kenyataan itu membuktikan, Islam adalah agama yang menjunjung tinggi toleransi. Islam tidak seperti yang digambarkan para pembenci Islam (Islam Phobia) yang menyebut sebagai sarang teroris, kolot dan terbelakang.

Buktinya saat pemukiman warga kota Boston luluh lantak diterjang badai Harvey yang disusul oleh banjir bandang, puluhan Masjid di kota itu menyediakan tempat penampungan pengungsi dari berbagai latar belakang ras, suku dan agama.

Memang, ada sekitar 200 ribu warga Muslim yang tinggal di Houston. Wajar kalau di kota itu berdiri puluhan masjid. Komunitas muslim di sana berasal dari berbagai negara. Rasnya juga berbeda-beda. Namun mereka juga menampung siapa pun warga yang membutuhkan pertolongan. Termasuk warga setempat yang kebanyakan beragama Kristen.

Bagi pengungsi perempuan non muslim paling disediakan kerudung karena mereka mengungsi di kompleks masjid. Tapi kebanyakan menyambut gembira. Karena mereka juga disediakan selimut, makanan dan fasilitas kesehatan yang dibutuhkan oleh siapa pun pengungsi. Mereka dilayani oleh para sukarelawan muslim yang tinggal di kota itu

Memang ada juga pengungsi muslim. Sebut saja Sara Al Azaat, remaja usia 19 tahun  yang mengaku bosan karena tidak tahu kapan bisa pulang ke rumah. Terlebih saat badai Harvey menerjang Houston, Sara baru 4 bulan tinggal di kota itu.

“Di tempat saya berasal kami tidak pernah mengalami badai seperti ini. Kami tidak menganggapnya sebagai sesuatu yang serius. Ketika banjir datang, ini merupakan pengalaman yang mengubah kehidupan kami,” cetus Sara yang lumayan fasih berbahasa Inggris.

Sara Al Azzat yang berkewarganegaraan Saudi Arabia memiliki ibu asal Indonesia. Sedangkan ayahnya berasal dari Suriah. Mereka tinggal di Houston bersama keluarga dan sepupunya. Adik-adik Sara ikut tinggal di pengungsian. Mereka tampak riang bermain-main, karena beragam jenis mainan disediakan oleh relawan.

Namun saudara-saudara Sara yang lebih dewasa ingin segera bisa kembali ke rumah dan belum tahu kapan perintah wajib evakuasi akan dicabut. Tetapi umumnya para pengungsi di kompleks masjid itu merasa aman karena dikelilingi oleh kebaikan.

“Kami sangat takjub. Begitu banyak orang datang untuk tinggal di tempat penampungan sementara ini. Faktanya, ada orang datang dan mengajak mereka yang berada di tempat penampungan lain untuk tinggal bersama mereka. Kami sangat tersentuh dengan hal ini,” kata Ilyan Choudry yang asal Tunisia.

Badai Tropis Harvey menenggelamkan Kota Houston /Foto VOA

Warga di Houston barat yang tidak dilanda banjir, telah datang ke tempat penampungan ini untuk menyumbangkan barang-barang seperti selimut dan alas tidur, juga mainan anak-anak. Bagi sebagian orang yang datang, ini pertama kali mereka masuk ke masjid.

“Saya tidak pernah masuk ke masjid sebelumnya. Saya sedikit khawatir pintu mana yang harus diketuk. Seorang perempuan muda menemui saya di tempat parkir dan menunjukkan kepada saya pintu masuk ke masjid,” ujar Gina Mandell, seorang pengungsi yang meskipun beragama Kristen namun mengaku jarang ke gereja.

“Orang-orang dari semua agama, datang bersama-sama. Mereka hanya bekerja karena kemanusiaan. Bukan karena hal lain. Hanya manusia yang saling bantu membantu. Dan kemudian kita belajar dari orang yang berbeda karena setiap orang memiliki latar belakang berbeda, proses pemikiran berbeda dan kami banyak belajar dari hal-hal ini,” tambah Ilyas.

Bagi Gina Mandell, datang ke mesjid ini menghilangkan prasangka tertentu. Ia menambahkan, “Laki-laki Muslim jauh lebih hangat dari yang saya bayangkan. Saya selalu menilai kaum perempuan Muslim baik dan hangat, tetapi saya cenderung menjauhi laki-laki Muslim karena saya tidak tahu tradisi dan apa yang harus saya lakukan dengan benar.”

Para pengungsi yang berasal dari beragam ras dan agama di Kompleks Masjid itu mengaku saling belajar dan saling memahami. Ilyas Choudry juga muslim juga banyak belajar dan mengambil hikmah dari musibah itu. Karena korban bencana tidak pernah pilih-pilih agama.

‘’Mereka manusia. Mereka teman kita dan mereka ingin membantu kemanusiaan tanpa diskriminasi apapun, tanpa rasa takut, tanpa apapun. Mereka hanya ingin membantu orang-orang,” terang Choudry berapi-api.

Sara Al Azaat mengatakan pengalamannya di tempat penampungan ini tidak seperti retorika anti-Muslim yang dilihatnya di media. Islam phobia memang kerap dihembuskan orang-orang yang tidak mengenal Islam yang sebenar-benarnya. Mereka tahunya ISIS. Padahal ISIS itu sendiri dibentuk oleh agen rahasia negara-negara besar yang tamak kepada kekuasaan.

“Orang-orang yang bukan berasal dari agama Islam datang dan memberi sumbangan. Hal ini memberi saya perspektif berbeda tentang Amerika,” puji Sara

“Anda benar-benar sangat baik, sebagai warga non-Muslim datang kesini dan memberi sumbangan bagi kami. Saya sangat berterima kasih,” timpal Joud Al Azaat, kakaknya.

Memang, solidaritas kemanusiaan auranya cukup kental di setiap kompleks masjid di Houston yang dijadikan sebagai penampungan pengungsi. Solidaritas kemanusiaan seperti itu pula yang mestinya kita berikan kepada pengungsi Rohingya. Bukan justru mencapnya sebagai teroris. Bukan begitu? ***Nusantaranews

Category: 


from Politik https://www.konfrontasi.com/content/politik/bukti-islam-toleran-masjid-di-houston-tampung-pengungsi-kristen
via IFTTT