Bukan Hanya Wangi Badan

(Panjimas.com) – “Wahai manusia, makanlah dari (makanan) yang halal dan baik yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagimu.” (al-Baqarah: 168)

Dulu ibu bapak kita seringkali mengingatkan anaknya agar segera mandi sebelum berangkat ke sekolah. Untuk segmen keluarga, iklan di televisi membangun opini bahwa mandi itu wajib memakai sabun agar kuman di kulit mati. Untuk segmen pasar wanita muda, perusahaan sabun merilis iklan yang mengopinikan bahwa bebas kuman saja tak cukup; kulit harus putih dan lembut. Alhasil, menempel di alam bawah sadar masyarakat kita bahwa untuk mencapai kebersihan badan, caranya adalah mandi pakai sabun yang diiklankan di televisi. Juga sampo, pasta gigi, dan aneka produk pembersih dan kosmetik yang dipercaya ampuh menjaga kebersihan badan.

Sebatas itu sajakah cakupan kebersihan badan? Apakah hanya bila kulit tak berdaki, rambut tak berdebu, gigi tak berkarang, ujung kuku tak hitam, badan sudah layak disebut bersih? Belum!

Kebersihan badan bukan saja mencakup kebersihan sisi luar badan (eksterior of body), tetapi juga sisi dalamnya (interior of body). Maka itu, kebersihan badan berkait sangat erat dengan kebersihan makanan dan lingkungan, terkait sangat erat dengan pola makan dan gaya hidup. Dan produk-produk pembersih saja tak cukup sebagai solusinya.

Noda badan tidak saja melekat di kulit, kuku, gigi, dan rambut; di dalam tubuh pun terdapat “noda” yang disebut toksin. Toksin adalah zat beracun yang diproduksi di dalam sel atau organisme hidup, yang mampu menciptakan penyakit melalui sentuhan atau serapan oleh jaringan tubuh yang berinteraksi dengan makromolekul biologis, seperti enzim atau reseptor seluler.

Penyebab munculnya toksin adalah makanan-minuman dan lingkungan. Udara yang tercemar, kosmetik, bahkan produk-produk pembersih seperti disebut di atas pun bisa menjadi penyebabnya.

Makanan-minuman yang diolah secara modern yang hanya mengedepankan kelezatan dan profit, yang beredar luas di pasaran saat ini, banyak yang menjadi penyebab munculnya toksin. Bukan saja karena bahan-bahannya yang tidak alami, kemasannya pun berpengaruh. Makanan-minuman panas yang dikemas dengan plastik dan styrofoam misalnya, membuat ia yang sedianya sehat pun menjadi tidak sehat. Apalagi yang sejak mula sudah tidak sehat? Hal itu disebabkan adanya kontaminasi zat kimia berbahaya dari kemasan tersebut.

Styrofoam misalnya, ia mengandung zat beracun bernama benzana yang dapat melekat pada makanan-minuman yang bersentuhan langsung dengannya. Semakin tinggi suhu dan kandungan lemaknya, semakin cepat dan banyak zat beracun tersebut menempel, yang akhirnya masuk ke tubuh. Organ dalam tubuh terkena noda yang tak tampak tapi bersifat merusak.

Selain makanan-minuman, produk-produk kosmetik juga perlu diwaspadai. Sebagian produk kosmetik mengandung zat-zat berbahaya seperti merkuri, asam retinoat, hidrokinon, dan bahan pewarna tertentu yang berpotensi menjadi penyebab munculnya toksin. Jangan sampai maksud hati ingin tampil cantik menawan, tapi kulit malah rusak dan tubuh berpenyakit.

Rokok juga jadi penyebab munculnya toksin di dalam tubuh. Dan barang konsumsi yang satu ini punya “keistimewaan” tersendiri. Bukan saja perokoknya yang terkena, orang lain yang ada di dekatnya pun ikut terancam bila menghirup asapnya. Tak hanya menzalimi diri sendiri, penghisap rokok juga menzalimi orang lain yang tak bersalah padanya. Astaghfirullah…

Lebih luas lagi, kebersihan lingkungan berpengaruh besar terhadap pemunculan toksin di dalam tubuh. Udara dan air yang tercemar potensial menyebabkan munculnya toksin bila masuk ke tubuh.

Jelaslah sudah. Satu pesan pentingnya adalah, kita harus memandang segala hal -termasuk kebersihan badan- secara komprehensif. Tak seyogianya hamba beriman yang meyakini luas dan dalamnya ilmu Allah ta’ala, memandang sesuatu hanya dari satu sisi saja dan melupakan sisi-sisi lainnya.

Badan disebut bersih bukan saja bila kulit, rambut, kuku, dan giginya, bebas dari noda yang tampak oleh mata telanjang dan bau yang tak sedap; ia juga harus bebas dari “benda-benda asing” yang masuk ke tubuh dan menyebabkan munculnya toksin, yang kemudian menyebabkan timbulnya penyakit.

Oleh karenanya, sebagai makhluk yang bertanggung jawab, seharusnya kaum Muslim senantiasa menjaga kebersihan makanan dan lingkungan, tak hanya bersemangat mandi pakai sabun wangi seperti yang diiklankan di televisi. Perihal kebersihan makanan, insya Allah akan kita kupas pada edisi mendatang. Wallahu a’lam. [IB]
From Panjimas http://www.panjimas.com
Media Partner SUARA RAKYAT
via IFTTT

close