[Wawancara] Haikal Hassan: Di Akhir Zaman Bukanlah Nasionalisme, Tapi Islamisme

KIBLAT.NET, Jakarta – Kesalahan cetak bendera merah putih dalam flyer perhelatan SEA GAMES 2017 berbuntut panjang. Media-media di Indonesia menjadikan kasus ini seolah masalah yang genting sehingga ruang publik dihiasi komentar tokoh terkait masalah bendera dan nasionalisme. Begitu pula di dunia maya. Warganet dari kedua negara saling melayangkan komentar negatif yang turut memanaskan suasana.

Jika direnungkan secara mendalam, tak selayaknya kedua negera berseteru. Pada hakikatnya, Indonesia – Malaysia dulu adalah satu, bagian dari Nusantara. Selain itu, Indonesia dan Malaysia merupakan satu jiran (negara tetangga) yang penduduknya sama-sama mayoritas Islam.

Karenanya, wartawan Kiblat.net mewawancarai Wakil Sekjen Majelis Intelektual  dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) yang juga ahli sejarah, Ustadz Haikal Hassan.

Bagaimana kita sebagai Muslim Indonesia menyikapi insiden bendera Indonesia yang dicetak terbalik oleh Malaysia?

Bahwa kita harus berprasangka baik, dan yakin bahwa kejadian itu tidak disengaja, dan juga bukan begitu caranya menghina suatu bangsa. Apakah selama ini Malaysia menghina kita? Kita kan tidak melihat ke arah sana, kalaupun ada satu dua orang menghina bangsa kita, itu adalah oknum saja. Menurut saya, yang menghina bagsa kita secara jelas-jelas adalah Cina.

Mereka menghina kita dengan cara mengekspor narkoba ke Indonesia dengan jumlah yang sangat banyak, itu bentuk penghinaan yang sangat nyata kepada bangsa Indonesia, bukan sekedar itu (bendera terbalik).

Spesifik dalam insiden bendera terbalik, kalau sudah 1×24 jam tidak minta maaf, mungkin kita akan melakukan tindakan penekanan kepada Malaysia, apapun itu. Tapi ketika kenyataannya mereka meminta maaf dan mengaku khilaf, maka kita harus memaafkan.

Bagaimana pandangan Ustadz melihat kondisi sekarang ini, padahal malaysia dan Indonesia adalah satu rumpun satu agama?

Selama ini kita punya hubungan baik dengan Malaysia yang kita sebut negeri jiran, negara serumpun. Dulu juga disebut satu Nusantara. Bukan hanya itu, tapi Singapura dan Brunei juga termasuk dalam Nusantara.

Adapun sekarang, yang harus kita lakukan adalah tindakan pendekatan, dan harus melakukan aksi, apakah aksi bersama apakah sebuah acara bersama atau apapun itu, namun yang menggerakkan pendekatan ini adalah pemerintah.

Dahulu, ada di stasiun TVRI, ada acara Indonesia dan Malaysia bersama. Dulu ada acara itu, dinanti oleh orang Indonesia dan Malaysia, yang tampil itu adalah artis Indonesia dan Malaysia, ini baik sekali. Jadi yang melakukan itu adalah pemerintah, bukan kita (rakyat, red) karena kita tidak akan terdengar gaungnya.

Saya pun menjalin hubungan baik dengan teman-teman Malaysia, saya sendiri punya kantor di Johor Baru Malaysia. Bergerak di bidang pelatihan dn publik speaking. Dan yang menjalankan itu adalah teman-teman Malaysia.

Dalam Islam, kita mengenal prinsip Ummatan Wahidah, dan kita tahu, Indonesia merupakan negara dengan umat Muslim terbanyak di dunia, dan Malaysia adalah negara berasaskan Islam, tanggapan Ustadz?

Jadi begini, harus dibedakan, antara upaya pemerintah Malaysia, dan oknum-oknum Orang Malaysia, yang mungkin memiliki hubungan yang tidak enak secara pribadi dengan Indonesia atau orang Indonesia.

Saya akan lebih memilih mengesampingkan hubungan pribadi orang-orang itu yang menyebabkan di antaranya konflik-konflik ini. Adapun yang harus digaris bawahi adalah hubungan pemerintah Malaysia dan Indonesia. Selama ini hubungan pemerintah keduanya cukup baik, berbeda dengan pemerintah Singapura yang jelas-jelas meremehkan Indonesia.

Adapun untuk memperbaiki kejadian yang sekarang memanas ini, hendaknya dibangun lagi hubungan kebersamaan. Sudah sepantasnya dan seharusnya, keislaman akan lebih kuat dan harus dicontohkan ke Timur Tengah juga.

Karenanya, kita harus ada sebuah ikatan, antara negara-negara serumpun dan seagama, dalam hal ini Malaysia, Brunei, dan Singapura mungkin kalau berkenan. Adanya persatuan ulama se-Asia, kurang kuat dan kurang dirasa, kegiatan-kegiatannya juga belum dirasakan oleh seluruh umat Islam di Asia Tenggara.

Adapun hubungan keislaman, serumpun dan seislam dengan Malaysia, perlu kita perkuat dengan kegiatan bersama atau aktivitas keagamaan bersama, baru keliatan gaungnya, baru nanti kelihatan ikatannya. Sekarang ini belum ada tindakan yang kuat dari pemerintah yang bergerak ke persatuan keislaman.

Bagaimana seorang muslim memposisikan dirinya dengan prinsip kewarganegaraan?

Begini, pada zaman Rasulullah Saw, nasionalisme itu ada, terbukti adanya 35 butir perjanjian Madani, yang dibuat Rasulullah SAW dan para sahabat r.a yang kemudian dijadikan undang-undang untuk mendirikan negara Madinah Al-Munawwarah pada waktu itu.

Di antara butirnya adalah setiap warga Madinah harus melindungi Madinag dengan segenap tumpah darahnya, bahkan Rasul SAW mengharuskan orang di luar negeri Madinah jika ingin masuk harus ada izin, artinya ini harus ada izin seperti paspor atau visa, dan orang non muslim di Madinah itu hrus membayar jizyah atau pajak yang sama nilainya dengan zakat bagi orang muslim, jadi terjadi penyetaraan di Madinah.

Jadi sebenarnya konsep nasionalisme ada dalam Islam, hanya saja aplikasinya saat ini terbengkalai karena kita dikotak-kotakkan oleh Amerika, Inggris, dan kroninya.

Makanya adalah sebuah ide yg sangat brilian apabila Kiblat.net membuat wacana, atau membuat sebuah diskusi bahwa kemungkinan penyatuan antata negara Nusantara, itu diskusi yang sangat menarik dan keren, apalagi dengan menggali akar budaya, satu rumpun ini seperti apa, jadi wacana ke sananya bisa mulai dan jalan.

Subhanallah, jika Indonesia dan Malaysia bisa bergabung, dan menyatukan diri dengan Brunei, bahkan satu mata uang, bukankah ini adalah arah untuk menuju Islam secara kesatuan.

Jadi, prinsip negara bangsa (Nation State) yang mengkotak-kotakkan negara ini memang sengaja diciptakan?

Betul, Nation State ini memang sengaja dimunculkan. Adapun kita sebagai muslim, harusnya
mengadakan sebuah dialog, diskusi, dan wacana bahwa apa yang dimaksud serumpun, sejarahnya bagaimana, dulu bagaimana kondisi Indonesia Malaysia dulu dan kini, kenapa terpisah, apa yang dilakukan Belanda dan Inggris itu, lalu adakah upaya untuk penyatuan-penyatuan negara ini?

Saran saya, awali dengan diskusi ini, saya harap Kiblat.net dapat jadi promotor dalam mengundang orang-orang yang kompeten untuk bicara soal sejarah Melayu ini, dan memanggil saksi-saksi sejarah seperti keturunan raja-raja. Sehingga membuat wacana baru bagi pemerintah, dan membuat masukan bagi pemerintah.

Apakah kita boleh mengesampingkan nasionalisme sedikit, dan meninggikan keislaman?

Bukan bolehkah, tapi harus meninggikan keislaman. Idealnya begitu, dan akhirnya nanti dunia ini, bukan berdasarkan nasionalisme, tapi akhir zaman nanti adanya Islamisme. Penyatuan orang-orang akan berdasarkan agama nantinya.

Hanya saja saat ini belum ada tanda-tanda ke arah sana, sehingga upaya yang dilakukan oleh HTI, dianggap membahayakan nasionalisme. Jadi saya kira, HTI itu mendahului zamannya, to now or later, semuanya akan menuju masa itu, tapi ketika HTI melakukan itu sekarang, maka akan dianggap membahayakan nasionalisme.

Tapi pasti, dunia akan menerima bahwa suatu saat, pemisahan akan berdasarkan agama. Rasulullah SAW sudah menyuratkan, bahwa di akhir zaman nanti, akan ada perang besar, antara dua kubu besar yaitu Yahudi dan Islam.

Ini sudah menjadi tanda, bahwa ada kubu Islam yang besar dan kubu Yahudi, akan bertarung, mau tidak mau semua mengarah ke sana.

Terkait situasi dua negara berpenduduk mayoritas Islam, Indonesia-Malaysia ini apa saran Ustadz?

Jadi, harus ada yang memprakarsai pembicaraan mengenai persatuan Islam Indonesia-Malaysia, saya sangat mendukung jika Kiblat.net membuat acara dan mengundang ustadz yang dikenal di Malaysia, dan juga di Indonesia yang juga mengerti sejarah, yang satu visi dan misi dengan apa yang kita inginkan yaitu persatuan Islam.

Buatlah diskusi panel, dan dirilis diberitakan di Malaysia dan Indonesia. Saya kira dengan adanya insiden bendera terbalik ini, diskusi ini saya kira akan lebih viral dan lebih kuat, usul saya segera dibuat, dan dampaknya akan lebih luar biasa.

Reporter: Muhammad Jundii
Editor: Fajar Shadiq

The post [Wawancara] Haikal Hassan: Di Akhir Zaman Bukanlah Nasionalisme, Tapi Islamisme appeared first on Kiblat.


From Kiblat https://www.kiblat.net
Media Partner SUARA RAKYAT
via IFTTT

0 Response to "[Wawancara] Haikal Hassan: Di Akhir Zaman Bukanlah Nasionalisme, Tapi Islamisme"

Post a Comment

Komentarlah dengan kata yang baik, bijak dan jelas