Sambil Mengkhidmati Kemerdekaan, Ingatan Terbentur Patung Jenderal Perang Cina

KONFRONTASI -  Gegap gempita perayaan hari kemerdekaan Nekara Kesatuan Republik Indonesia penuh kedamaian di seantero pelosok negeri. Upacara bendera digelar sekhidmat mungkin. Doa-doa dipanjatkan untuk bangsa dan negara Indonesia menjadi lebih baik dan maju di hari esok. Beragam jenis perlombaan pun digelar untuk mensyukuri nikmat yang ada.

Apakah kemerdekaan Indonesia benar-benar telah dimiliki oleh seluruh rakyat Indonesia. Tidak semua menyatakan persetujuan. Sebab, ketimpangan sosial masih nyata ada. Kemiskinan pun tak juga terentaskan. Kendati segenap upaya telah dilakukan, misalnya dengan pemabngunan infrastruktur. Benarkah rakyat kecil butuh infrastruktur seperti jalan tol? Meski rakyat tidak butuh, barangkali itulah salah satu cara pemerintah untuk mengangkat martabat bangsa yang kini katanya “compang-camping”.

Baca: Patung Kwan Sing Tee Koen, Distorsi Simbolik Sejarah Indonesia

Kemerdekaan Indonesia telah dimiliki rakyat Indonesia sejak 72 tahun silam. Bendera pusaka “Merah Putih” bebas berkibar dari Sabang sampai Merauke. Apalagi di bulan kemerdekaan ini, tahun ini, Sekretarian Negara mengeluarkan imbauan kepada seluruh rakyat Indonesia untuk mengunjuk-kibarkan bendera pusaka di halaman rumahnya masing-masing, atau di pinggir-pinggir jalan, pintu gerbang, gapura, dan dimana pun sepatutnya bendera itu dipasang.

Bendera adalah simbol atau tanda bahwa negara itu ada dan merdeka dari penjajahan. Tentu ada banyak simbol dan prangkat yang membuktikan bahwa sebuah negara itu telah memiliki kemerdekaannya untuk berdaulat secara mutlak. Dan Indonesia telah memiliki sejak proklamasi kemerdekaan dibacakan oleh Bung Karno dan Bung Hatta pada 17 Agustus 1945 silam.

Membaca simbol ini, di hari kemerdekaan ini, ingatan tertuju pada patung perang jenderal Perang Cina di Tuban yang telah resmi ditutup dengan kain putih. Mulanya, Jenderal Perang Cina Kwan Sing Tee Koen yang diresminak oleh Ketua MPR Zulkifli Hasan itu diniatkan untuk meneladani kejujuran dan kesetian sang Jenderal di dalam menjalankan tugasnya di zaman San Guo (221-269 Masehi). Namun, selang beberapa hari dari peresmian patung berukuran 30,4 meter, notabene lebih tinggi 16,4 meter dibanding patung Jenderal Sudirman di Jakarta yang memiliki tinggi 12 meter, mendapat protes dari sejumlah kalangan.

Baca juga: Patung Jenderal Perang China di Tuban Ditutup, Ini Kronologisnya

Menanggapi gemuruh protes di lapangan, pengamat politik Muslim Arbi menyebut bahwa keberadaan patung sukses memecahkan rekor MURI pada Senin, 17 Juli 2017 lalu merupakan simbol atau (bahkan dia menyebut)  wujud konkrit invasi Cina di Indonesia. “Ini bisa dibaca sebagai wujud kongkrit invasi Cina. Ingat Invasi Mongol (meski bukan Cina). Tapi bisa saja invasi itu memberi inspirasi Cina untuk mewujudkan imperialisme Cina Modern,” kata Muslim Arbi kepada nusantaranews.co beberapa waktu lalu.

Apalagi, kata dia, dengan Strategi OBOR nya, One Belt One Road nya. Di bawah Xi Ji Ping dengan pembangunan patung Dewa Perang Cina itu, dapat di artikan bahwa itu sudah dapat dibaca sebagai mile stones-nya Cina mematok, kekuatan Cina (RRC), sudah di mana sekarang? “Jika melihat kekuatan Para Taipan Cukong yang kangkangi ekonomi, keuangan, dan mulai merbah politik dan hukum dalam kasus Ahok, dan mafia kekuasaan begitu kuatnya cengkram Istana, bisa saja kelompok itu bermain,” jelasnya.

Simak: Patung Jenderal Perang Cina di Tuban, Pengamat Politik: Wujud Kongkrit Invasi Cina

Pengamtan lain yang muncul belakangan, dikemukakan oleh peminat kajian budaya Cina di Indonesia Teguh Setiawan. Komentar dia berangkat dari pertanyaan wartawan Ibrahim Ajie, yang menanyakan pendapat saya soal kehadiran patung Kwan Kong, atau Dewa Perang dalam kepercayaan Tao, di Tuban. Ia mengaku tak langsung menjawab pertanyaan itu.

Namun, akhirnya ia pun menjawab dengan sebuah pengamatan sejarah bertajuk “Jendral Tran, Kwan Kong, dan Kamikaze” di republika.co.id, 15 August 2017 . Dulu, tutur Teguh, di era Dinasti Yuan, tentara Cina-Mongol — saat itu daratan Cina dikuasai Mongol — kerap membawa patung Kwan Kong ke wilayah yang diinvasi. Mereka mendirikan kuil di wilayah taklukan, dan meletakan patung Kwan Kong di dalamnya, sebagai rasa syukur.

“Saat menyerang Jepang, Pulau Jawa, dan Vietnam, mereka juga membawa patung Kwan Kong. Namun, mereka tidak sempat mendirikan kuil untuk Kwan Kong,” kata Teguh Setiawan yang juga mantan jurnalis Republika

Di Jepang, lanjutnya, dua serangan Cina-Mongol digagalkan topan Kamikaze. Di Vietnam, tiga kali invasi Cina-Mongol digagalkan Jendral Tran Hung Dao. Di Jawa, tepatnya di Tuban, bala tentara Jawa menghalau serangan Cina-Mongol. “Orang Jepang mengabadikan kamikaze untuk banyak hal, sebagai wujud terima kasih kepada peristiwa alam yang melindungi mereka dari serangan Cina-Mongol. Salah satunya menjadi nama operasi serangan bunuh diri saat Jepang menghadapi AS di Perang Pasifik,” imbuhnya.

Teguh melanjutkan, di Ho Chi Minh City, patung Tran Hung Dao berdiri gagah — dengan tangan menunjuk ke bawah dan dagu lurus — menghadap ke daratan Cina. Jenderal Tran adalah ‘dewa perang’ Vietnam. Ia menginspirasi rakyat Vietnam untuk melawan Prancis dan memerdekakan diri, melawan AS untuk menyatukan Vietnam. “Di Jawa, figur pemimpin yang mengalahkan pasukan Cina-Mongol seolah terlupa. Tidak ada patung Ronggolawe, Raden Wijaya, atau siapa pun yang terlibat dalam pengusiran pasukan Cina-Mongol,” ucapnya.

Ditambahkan Teguh, sejarah serangan Cina-Mongol ke Jawa hanya dinarasikan, menjadi sumber penelitian sarjana sejarah, tapi masyarakat yang mewariskan cerita itu tidak pernah mengenal sosok pahlawan yang dibadikan. Terjadi ‘kekosongan’ sejarah, yang coba diisi oleh orang lain. “Kekalahan di Tuban, seperti kegagalan invasi ke Vietnam, adalah peristiwa memalukan bagi Cina-Mongol. Anehnya, orang Jawa seakan tidak pernah bangga bahwa mereka pernah mengalahkan satu kekuatan besar,” ujar dia.

“Pertanyaannya, bagaimana kita memaknai kehadiran patung Kwan Kong di Tuban, wilayah yang tidak pernah ditaklukan pasukan Cina-Mongol?,” kata Teguh diakhir jawabannya itu.

Pendangan Teguh setiawan nampak memberi peluang pada pikiran untuk mengembangkan makna simbol di atas. Bahwa, dengan keberadaan patung tersbeut, meski Tuban tidak pernah ditaklukkan di jaman dulu, tapi di abad ini, Patung tersebut dapat menjadi simbol kekuatan Cina di Indonesia sebagimana yang dikemukakan oleh Muslim Arbi.

Telaah: Patung Jenderal Perang Cina di Tuban, Simbol Kekalahan Ranggalawe Abad 21

Sepintas, mempersoalkan keberadaan patung tersebut tak ada guna. Namun secara simbolik, maknanya sangat luas, makna yang dekat sekali dengan pandangan Muslim Arbi. Anggapan ini, berangkat dari banyaknya investasi dan pinjaman Cina terhadap Indonesia, seiring banyaknya pembangunan yang dimotori oleh Cina, seperti Reklamasi Pulau G di Teluk Jakarta, Kota baru Meikarta di Cikaran, Kereta Cepat Jakarta-Bandung, pembangunan kota Walini di daerah Bandung, serta penguasaan para Taipan terhadap sejumlah tanah di banyak daerah di Indonesia.*************Nusantara.News)

Category: 


from Politik https://www.konfrontasi.com/content/politik/sambil-mengkhidmati-kemerdekaan-ingatan-terbentur-patung-jenderal-perang-cina
via IFTTT

0 Response to "Sambil Mengkhidmati Kemerdekaan, Ingatan Terbentur Patung Jenderal Perang Cina"

Post a Comment

Komentarlah dengan kata yang baik, bijak dan jelas