Haji dan Insiden Merah Putih Terbalik

KIBLAT.NET,  Saat berada di shaf awal di Masjid Nabawi, sebelah saya orang India berperawakan gempal. Azan Ashar masih dua jam lagi, ketika ia pamit berwudhu. “Tolong jaga tempat ini. Nanti saya akan kembali,” pesannya. Tak berapa lama, kakek-kakek berwajah etnis China pun mengikuti jejaknya.

Yang saya kuatirkan saat itu, bagaimana kalau nanti mereka terlalu lama pergi, sedangkan shaf awal ini menjadi incaran banyak orang? Bagaimana saya menjelaskan kepada jamaah yang ingin mengambil tempat itu. Atau kepada kedua orang itu ketika nanti ada yang “menyerobot” tempat mereka?

Apa yang saya khawatirkan terjadi. Seorang Negro bertubuh tinggi besar menduduki tempat si India. Si India sendiri belum kembali, padahal kakek-kakek China tak berselang lama kembali ke posisi semula. Ah, bodo amat… lagian siapa suruh berlama-lama wudhu.

Kira-kira 10 menit jelang azan, si India kembali. Mengetahui tempat duduknya dihuni, ia pun tak kalah akal. Duduk di antara saya dan si Negro, menghadap arah berlawanan kiblat. Dan saat iqomat dikumandangkan, bisa dibayangkan bagaimana sesak dan berhimpitannya shaf.

Si Negro protes karena menuding si India memaksakan tempat. Si India membela diri, bahkan menodongkan sikutnya. Si Negro cuma bilang, “Ittaqillah…!” Setelah itu keduanya takbiratul ihram. Begitu selesai salam, si Negro mengulurkan tangan dan disambut senyum si India. Jamaah di samping kanan-kiri mereka—termasuk saya, pun turut senyum lega.

Suasna jelang shalat berjamaah di Masjid Nabawi pada musim haji 2017

Itu cerita dua hari lalu di Masjid Nabawi. Sementara tadi pagi saat thawaf di Masjidil Haram, ada juga sedikit insiden. Rombongan saya memilih thawaf di lantai atas karena anggota kami ada anak kecil penyandang difable. Tiba-tiba kawan saya bernama Yusuf yang persis di samping saya, diseruduk kursi roda milik jamaah berwajah India, tepat di otot di atas tumit kanannya.

Sontak, Yusuf mengaduh kesakitan sambil berusaha memegang tangan saya agar tidak jatuh. Saya pun menatap si India. “I am sorry… maaf.. maaf,” katanya berulang-ulang sambil menghentikan kursi roda yang di dorongnya.

Yusuf masih kesakitan, tapi sedikitpun tak menatap wajah penyeruduk. Sepertinya ia sudah memaafkan, meski sakitnya tidak tertahan. Sesaat kemudian, thawaf pun berjalan kembali. Si India berlalu meninggalkan saya dan Yusuf yang masih tertatih kesakitan.

***

Ibadah haji dengan segenap kompleksitas masalah di dalamnya memang seringkali menimbulkan kejadian-kejadian yang kurang menyenangkan. Jutaan manusia datang dari beragam negara, bangsa, warna kulit dan bahasa. Meski beragam, tujuan mereka hanya satu: memenuhi panggilan Allah untuk datang ke Tanah Haram serta memproklamirkan tauhid dalam lantunan talbiyah yang berulang-ulang.

Kesamaan itulah mungkin yang membuat berbagai insiden yang kurang mengenakkan dapat berlalu begitu saja tanpa meninggalkan jejak kesumat apalagi perseteruan. Semangat persaudaraan yang dibangun di atas pondasi tauhid membuat para jamaah mudah untuk saling memaafkan dan merelakan haknya. Itulah salah satu yang membuat orang tahan menempuh kerasnya tempaan fisik selama melaksanakan manasik haji di Tanah Suci.

The post Haji dan Insiden Merah Putih Terbalik appeared first on Kiblat.


From Kiblat https://www.kiblat.net
Media Partner SUARA RAKYAT
via IFTTT