Globalisasi: Amerika, Asia dan Indonesia Menuju Dunia yang Berubah

Setelah berakhirnya Perang Dingin pada tahun 1989, dunia telah memasuki periode perubahan yang cepat dan itu dipercepat oleh kenyataan globalisasi. Beberapa ilmuwan menganggap globalisasi sebagai perluasan dunia oleh kekuatan imperialisme yang ada, Amerika ada di puncaknya.

Meminjam perspektif Brzezinski, (2004) dan Amartya Sen (2004), globalisasi menjadi proses progresif karena melemahkan struktur homogen. Dalam pengertian ini, istilah seperti mosaik, hibridisasi, dan artikulasi dikerahkan untuk mendefinisikan proses globalisasi. Dengan globalisasi, kita menyaksikan bangkitnya 'kesadaran menjadi seorang individu'; dan individu didorong untuk berorganisasi dalam sub-identitas atau organ seperti 'hak etnik dan budaya' atau 'lingkungan sosial' dll. 

Di sini, kebangkitan kembali agama membawa serta eksploitasi emosi suci. Menempatkan demokrasi dan hak demokratis di Indonesia sebagai agenda nasional memunculkan pertanyaan politik baru seperti hak minoritas, hak berbagai identitas untuk mengekspresikan diri, dan perlindungan budaya bagi mereka. Namun itu bisa dilakukan dengan tata kelola pemerintahan yang baik.

Fakta terpenting tentang globalisasi adalah kemampuannya untuk mempengaruhi bangsa dan masyarakat. Globalisasi secara tidak langsung menghancurkan struktur negara berkembang. Menurut Joseph Nye dari Universitas Harvard, lapisan terendah piramida kekuatan tidak hanya berisi negara semata, tapi juga aktor non-negara seperti Al-Qaida yang menyebabkan lingkungan keamanan yang kacau pada tingkat transnasional.

Pada abad ke-21, situasi-kondisi untuk menjadi kekuatan global atau regional telah berubah sebagai berikut : adanya kondisi alam; Pengendalian peredaran uang, penetapan agenda internasional, postur militer di daerah-daerah kunci, dan pusat kebudayaan. Dalam istilah tersebut, seorang aktor memastikan kondisi tersebut lebih dari yang lain atau dia memiliki kapasitas yang lebih koersif untuk menegakkan kehendaknya pada yang lain, mendeklarasikan hegemoni dan menjadi pusat kekuatan global .

Beberapa ilmuwan mengatakan bahwa sebuah negara harus memastikan kondisi berikut agar bisa menjadi kekuatan pusat (Centre):

(1) Kapasitas ekonomi yang berpengaruh secara global.

(2) Perkembangan teknologi khususnya energi dan komunikasi,

(3) kekuatan Uang secara global.

(4) Militer yang kuat dengan senjata nuklir memadai dan 10 divisi infanteri yang beroperasi di wilayah luar negeri.

(5) Secara geografis diposisikan sebagai sekutu penting, rute laut utama, sumber air minum, sumber energi, dan posisi pertahanan yang adekuat untuk mempromosikan gagasan/pikiran Amerika.

(6) Nilai budaya yang diakui secara universal dalam dimensi nasional atau adanya agama menarik orang lain untuk bekerja sama, demi kepentingan bersama

(7) Ruang diplomatik (memiliki negara yang kuat dan harmonis yang memapu merancang dan menerapkan kebijakan imperialis). (Denk, 1998: 24)

KESEIMBANGAN KEKUATAN

Dunia saat ini masih dikuasai oleh Amerika Serikat (USA). Uni Eropa (EU) dan kekuatan lama seperti Jerman, Perancis dan Inggris tidak akan mampu menyaingi kecepatan produksi USA. Jepang dan Russia tidak akan meningkat pesat, tapi bertahan dengan posisi tetap sebagai kekuatan adidaya ( major power) seperti sekarang ini. Yang berpotensi menyaingi USA ke depan adalah China dan India.

Sementara 4 negara lain yang punya potensi kemampuan produksi besar adalah Rusia, South Africa, Indonesia dan Brazil yang akan berperan penting dalam posisi menciptakan balance of power (keseimbangan kekuatan) guna mendukung posisi Cina dan India dalam mengimbangi kekuatan USA.

Artinya, Indonesia berpotensi besar menjadi Major Power/negara yg punya kekuatan besar mempengaruhi dunia. Dalam kenyataannya, kekuatan yang sedang bangkit di dunia Islam, terutama Indonesia, bukanlah fundamentalis, melainkan kekuatan modernisasi yang sedang melanda Asia dan nantinya juga akan merasuki masyarakat Muslim juga.

Keseimbangan kekuatan 2 + 3 pada periode Perang Dingin (USA-USSR + China-Japan-Germany) beralih ke 1 + 4 dengan pembubaran Uni Soviet pada tahun 1989 (Buzan, Waever, 2003: 3). Pada tahun 2000-an, Amerika Serikat berada di puncak piramida kekuatan; sedangkan Cina, Uni Eropa, Jepang, dan Rusia mengikutinya (Brzezinski, 2004: 279). Dalam urutan semacam itu, kekuatan puncak dan pemimpin hegemoni dunia adalah Amerika Serikat.

Tapi dunia terus berubah. Akademisi Rajesh Shukla dan akademisi Shashi Tharoo mencatat bahwa di abad pertama masehi, Asia menyumbang hingga 76,3% produk domestik bruto global. Eropa Barat pada waktu ini hanya 10,8%. Di tahun 1000 masehi, kontribusi Eropa Barat pada PDB global adalah 8,7%, sebaliknya Asia turun sedikit 70,3%. Keseimbangan ini mulai bergesar dengan revolusi industri.

Di tahun 1820, andil Eropa Barat naik hingga 23,6%, sementara Asia turun sampai 59,2%. Akademisi Singapore Kishore Mahbubani mencatat bahwa pada akhir perang dunia kedua, kontribusi AS pada global produk domestik bruto hampir 50%. Kontribusi ini turun perlahan-lahan secara relatif (tidak absolut) ketika negara-negara Eropa Pulih dari puing-puing Perang Dunia Kedua.

Di tahun 2005, Barat naik sedikit dengan 13,4% dari penduduk dunia dan menguasai 62,6% PDB dunia. Kemampuan ekonomi inilah yang memampukan Barat secara signifikan untuk memperkuat investasinya dalam kemampuan militer. Dominasi ekonomi Barat itu makn diperkuat lagi jika anda melihat cara pandang Jepang. Meski lokasi geografisnya di Asia, namun fungsinya bukan sebuah negara Asia melainkan sebuah kekuatan ekonomi Barat juga. Jepang memang bercita-cita untuk masuk ke semua klub-klub kunci Eropa, termasuk organisasi untuk Kerja Sama dan Pengembangan Ekonomi (OECD-di mana Jepang selama bertahun-tahun merupakan satu-satunya anggota dari Asia), Komisi Trilateral dan G-7.

Angus Maddison mencatat, kebangkitan Barat terjadi sangat cepat dalam waktu 200 tahun terakhir. Di hampir sepanjang sejarah yang terekam, Asia, pernah dan telah memberi sumbangan terbesarnya pada ekonomi dunia.

Melihat latar belakang sejarah ini, kita semestinya tidak usah heran dengan prediksi yang dibuat oleh penelitian Goldman Sachs BRICs Study, bahwa pada tahun 2050 nanti, tiga dari empat kekuatan ekonomi terbesar dunia akan datang dari Asia dan urutannya adalah China, AS, India dan Jepang. Dalam hal ini, di Asia potensi India, Indonesia dan China untuk menjadi kekuatan besar, merupakan suatu keniscayaan asalkan pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia bisa dilakukan secara simultan dan berkelanjutan, demikian halnya dengan supremasi hukum dan pemberantasan korupsi yang harus konsisten dan berkesinambungan.

Prakondisi lain seperti etos kerja yang keras, pembangunan ekonomi yang konsisten, adil dan merata, demokrasi yang kredibel dan substansial untuk India dan Indonesia, kecuali China, jelas merupakan prasyarat yang diperlukan.

Indonesia diyakini mampu menjadi Negara adidaya di Asia kalau mampu mewujudkan good governance, membangkitkan etos kerja, revolusi mental yang persisten dan konsisten, peningkatan keadilan dan kesejahteraan yang memadai, penegakan hukum yang adil dan pemerataan pembangunan yang baik.

______________________________

Catatan Bursah Zarnubi, Aktivis Senior dan mantan Anggota DPR-RI

Category: 


from Opini https://www.konfrontasi.com/content/opini/globalisasi-amerika-asia-dan-indonesia-menuju-dunia-yang-berubah
via IFTTT