Djarot Minta Pelanggan Saracen Ditindak. Polisi Kantongi Nama Klien Penyebar Kebencian Saracen

JAKARTA- Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat berharap, polisi tidak hanya menangkap orang-orang yang tergabung dalam grup Saracen, sindikat yang mengunggah konten ujaran kebencian dan berbau SARA berdasarkan pesanan.

Menurut Djarot, seharusnya orang-orang yang memesan jasa Saracen untuk menyebarkan konten SARA juga diselidiki.

"Saya harap polisi bisa melacak dan menindak tegas, bukan hanya kelompok Saracen ini, tetapi juga siapa yang memesan. Kenapa? Karena 2018 nanti ada pilkada di 171 daerah," ujar Djarot di Balai Kota DKI Jakarta, Jalan Medan Merdeka Selatan, Sabtu (26/8/2017).

Kepala Bagian Mitra Divisi Humas Polri Kombes Pol Awi Setiyono mengatakan, penyidik akan melacak penyandang dana kelompok Saracen. Tak hanya itu, polisi juga akan menelusuri pihak-pihak yang memesan konten untuk kemudian diviralkan di akun media sosial.

"Transaksi-transaksinya tidak semua melalui dunia maya, ada kopi darat dan termasuk penyidik melacak untuk transaksi itu," ujar Awi di Mabes Polri, Jakarta, Jumat (25/8/2017).

Namun, kata Awi, proses pelacakan itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Penyidik perlu bukti untuk menguatkan adanya transaksi antara pihak pemesan dengan Saracen.

Oleh karena itu, penyidik belum dapat menyampaikan data-data yang sudah didapat karena khawatir mengganggu proses penyidikan.

"Tapi percakapan ketiga tersangka itu ada terkait masalah uang. Tapi untuk siapa yang pesan, pembayaran kapan, di mana, itu harus dibuktikan," kata Awi.

 

(Baca juga: Mendagri Minta Pengguna Jasa Saracen Diusut Tuntas)

Djarot mengatakan, saat ini masyarakat harus semakin cerdas dalam memilih informasi di media sosial.

Jangan sampai, masyarakat diadu domba karena berita hoaks yang disebar kelompok sejenis Saracen. 

Djarot menilai, kelompok Saracen ini hanya mementingkan uang tanpa peduli dampak dari konten SARA yang mereka sebar di masyarakat.

"Ketika warga kita masih mencari jati diri dan mudah termakan oleh berita hoaks itu, maka ini berbahaya sekali," kata Djarot.

Dalam kasus ini, polisi menangkap tersangka berinisial JAS (32), MFT (43), dan SRN (32). JAS selaku ketua berperan sebagai perekrut anggota.

Ia menarik minat warganet untuk bergabung dengan mengunggah konten yang bersifat provokatif menggunakan isu SARA sesuai perkembangan tren media sosial.

JAS juga memiliki kemampuan di bidang informasi teknologi dan bisa memulihkan akun anggotanya yang dibiokir.

Ia juga membuat akun anonim sebagai pengikut grup dan berkomentar yang juga provokatif di setiap unggahan mereka.

Untuk menyamarkan perbuatannya, JAS kerap berganti nomor ponsel untuk membuat akun Facebook anonim.

Sementara itu, peran tersangka MFT yakni di bidang media informasi. Ia menyebar ujaran kebencian dengan mengunggah meme maupun foto yang telah diedit.

(Baca juga: Polisi Sebut Saracen Pasang Tarif Rp 72 Juta Per Paket Konten SARA)

MFT juga membagikan ulang unggahan di Grup Saracen ke akun Facebook pribadinya. Terakhir, tersangka SRN yang merupakan koordinator grup Saracen di wilayah.

Sama dengan MFT, SRN juga mengunggah konten berbau ujaran kebencian dan SARA menggunakan akun pribadi dan beberapa akun lain yang dipinjamkan JAS.

Tags: 
Category: 


from Politik https://www.konfrontasi.com/content/politik/djarot-minta-pelanggan-saracen-ditindak-polisi-kantongi-nama-klien-penyebar
via IFTTT

0 Response to "Djarot Minta Pelanggan Saracen Ditindak. Polisi Kantongi Nama Klien Penyebar Kebencian Saracen"

Post a Comment

Komentarlah dengan kata yang baik, bijak dan jelas