Bahas Proses Perundingan Damai, Mahmoud Abbas Hubungi Emir Qatar dan Putra Mahkota Saudi

RAMALLAH, (Panjimas.com) – Presiden Palestina Mahmoud Abbas pada hari Jumat (25/08) mengadakan percakapan melalui sambungan telepon dengan pemimpin Qatar dan Arab Saudi dalam rangka membahas perkembangan terbaru proses perdamaian Israel-Palestina.

Menurut laporan WAFA, Mahmoud Abbas berbicara dengan Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani dan Putra Mahkota Saudi Pangeran Mohammad bin Salman tentang kunjungan delegasi AS baru-baru ini yang dipimpin oleh penasihat senior Presiden Donald Trump Jared Kushner.

Ketiga pemimpin tersebut juga membahas upaya-upaya penting untuk melanjutkan pembicaraan damai antara Palestina dan Israel.

Mahmoud Abbas dan Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani mengakui pentingnya melanjutkan perundingan perdamaian.

Dalam percakapan lainnya antara Mahmoud Abbas dengan Pangeran Mohammad bin Salman, kedua pemimpin tersebut menyoroti pentingnya konsultasi dalam proses negosiasi pihak Israel-Palestina.

Abbas dilaporkan bertemu dengan anggota delegasi AS pada hari Kamis (24/08) di Ramallah.

Delegasi AS pimpinan Kushner tersebut juga mengunjungi Arab Saudi, Qatar, Yordania dan Mesir.

 

Perundingan Perdamaian Palestina yang Serius dan Efektif

Sementara itu, Turki dan Yordania sebelumnya telah mendesak digelarnya perundingan “serius dan efektif” antara Palestina dan Israel untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung sejak beberapa dekade, menurut pernyataan bersama kedua pemimpin negara tersebut.

Sebuah komunike disepakati setelah Presiden Recep Tayyip Erdogan dan Raja Abdullah II mengadakan pembicaraan di ibukota Yordania, Amman, Senin (21/08), di mana keduanya membahas “sejumlah isu kepentingan regional dan internasional, dan tantangan utama yang dihadapi negara-negara di kawasan”.

Kedua pemimpin tersebut menekankan pentingnya “meluncurkan perundingan Palestina-Israel yang serius dan efektif untuk mengakhiri konflik berdasarkan solusi dua negara yang memungkinkan munculnya negara Palestina merdeka berdasarkan pada perbatasan tanggal 4 Juni 1967”.

Erdogan dan Raja Abdullah II juga menegaskan bahwa perundingan perdamaian Palestina-Israel harus memiliki “garis batas waktu yang jelas dan harus didasarkan pada kerangka acuan internasional yang telah ditetapkan, terutama Prakarsa Perdamaian Arab tahun 2002,” menurut pernyataan keduanya di Amman, dikutip dari AA.

Pemimpin Yordania Raja Abdullah II  menyambut baik upaya Erdogan selama krisis baru-baru ini di Yerusalem, pungkasnya.

 

Dunia Muslim Harus Bersatu

Negara-negara Muslim harus membentuk sebuah front persatuan untuk melindungi tempat-tempat suci di Yerusalem, kata Presiden Recep Tayyip Erdogan pada hari Senin (21/08), dilansir dari Anadolu Ajensi.

Erdogan, yang telah berulang kali mendukung hak umat Islam untuk secara bebas beribadah di Masjid Al-Aqsa, berbicara kepada para wartawan di Istanbul sebelum berangkat ke Yordania untuk kunjungan resmi kenegaraan.

“Saya ingin mencatat pentingnya peran Yordania dalam melindungi tempat-tempat suci di Yerusalem,” ujarnya.

“Kami tidak ingin mengalami penganiayaan, pelanggaran hak-hak dan serangan yang sama.”

“Jadi, Dunia Muslim harus dalam solidaritas di Yerusalem.”[IZ]

 


From Panjimas http://www.panjimas.com
Media Partner SUARA RAKYAT
via IFTTT