VERBODEN VOOR HONDEN EN INLANDER,(Dilarang Masuk Untuk Anjing Dan Pribumi.)

Oleh: Dr. Batara R. Hutagalung,

 

  *JASMERAH*
"Kerjasama belanda dan cina dalam perdagangan budak,opium/candu dan po an tui"
VERBODEN VOOR HONDEN EN INLANDER,
artinya
“DILARANG MASUK UNTUK ANJING DAN
PRIBUMI.”
Pribumi generasi ’45 masih mengalami
penghinaan ini, yaitu disetarakan
dengan anjing!!!


Perilaku banyak Cina yang masih
merasa lebih tinggi dari pribumi,
terlihat dari sikap mereka sehari-
hari.
Mereka tidak mau menyapa orang
Indomesia dengan sapaan Bapak, Anda
atau Saudara. Mereka selalu
mengatakan YOU (bahasa Inggris =
KAMU) kepada pribumi.


Di antara mereka masih menggunakan
kata-kata JIJ (kamu) dan IK (saya).
Jadi nenek-moyang BANGSA INDONESIA,
diperjual-belikan SEBAGAI BUDAK DI
NEGERI SENDIRI.
Kemudian naik tingkat, dijadikan
JONGOS DI NEGERI SENDIRI.
Berdasarkan sejarah perbudakan dan
sejarah menjadikan pribumi menjadi
JONGOS DI NEGERI SENDIRI, maka UNTUK
MEMBUAT PRIBUMI MENJADI TUAN DI
NEGERI SENDIRI, para pendiri Republik
Indonesia memanifestasikan dalam
Pasal 6 Ayat 1 Undang Undang Dasar
yang disahkan pada 18.8.1945, yaitu:
Presiden ialah ORANG INDONESIA ASLI.
Di UUD tahun 2002 kata ORANG
INDONESIA ASLI dihapus, dan diganti
menjadi: PRESIDEN IALAH WARGA NEGARA
INDONESIA.


Dengan demikian siapapun dapat
menjadi Presiden Indonesia, termasuk
keturunan mereka yang ratusan tahun
ikut memperjual-belikan Pribumi dan
membuat menjadi jongos di negeri
sendiri.
Memang sejak masa penjajahan belanda
muncul gagasan mendirikan Republik
Indonesia, ada segelintir Cina yang
mendukung gagasan ini, namun
mayoritasnya tetap pro belanda.
Demikian juga sekarang, ada yang
benar-benar membaur dengan pribumi.
Namun belakangan ini muncul Tulisan-
tulisan sejarah mengenai “heroisme”
Cina melawan belanda.
Ironis!!!


Saya lampirkan tulisan mengenai
perdagangan opium (candu) di wilayah
jajahan belanda.
Catatan: Penjelasan di atas hanya
sebatas masa penjajahan di Nusantara.
Penjelasan mengenai ketidakpercayaan
pribumi terhadap Cina belum mencakup
masa perang mempertahankan
kemerdekaan, antara tahun 1945 –
1950, di mana belanda membentuk
pasukan Cina, Po (Pao) An Tui, yang
dipersenjatai dan dilatih tentara
belanda.


Mula-mula di Sumatera Utara kemudian
di Jawa. Po An Tui juga dipakai oleh
belanda dalam penyerangan terhadap
Republik Indonesia di masa agresi I
dan agresi II.
Mengenai alasan diterbitkannya
Peraturan Presiden No. 10, November
tahun 1959, yaitu larangan pengusaha
kecil dan eceran asing untuk
perdagangan diluar Ibukota Daerah
Tingkat I, II dan Karesidenan, adalah
untuk melindungi pedagang kecil dan
eceran pribumi.


Seperti telah disebut di atas, bahwa
selama ratusan tahun penjajahan
Belanda, orang-orang Cina dari
berbagai usaha perdagangan, termasuk
perdagangan budak dan perdagangan
candu, telah memiliki modal kuat dan
jaringan, sehingga pribumi tidak
mungkin bersaing dengan pengusaha
Cina.
Pada tanggal 19 Maret 1956 pada
Kongres Importir Nasional Seluruh
Indonesia di Surabaya, Asaat Datuk
Mudo, Mantan Pejabat Presiden
Republik Indonesia berorasi bahwa
orang-orang Cina telah bersikap
monopolistis dalam perdagangannya
dengan tidak membuka jalan bagi
penduduk pribumi untuk ikut
berdagang. [erche]

------------------

**Dr. Batara R. Hutagalung,
Sejarawan, Alumni Hamburg
Universiteit, Deutch, Jerman.****

Category: 


from Politik https://www.konfrontasi.com/content/politik/verboden-voor-honden-en-inlanderdilarang-masuk-untuk-anjing-dan-pribumi
via IFTTT

close