Surat untuk Mufti Saudi terkait Dukungan Blokade Qatar Beredar


Boikot Arab Saudi cs terhadap Qatar melahirkan beberapa masalah yang cukup pelik. Salah satunya, fatwa dari Mufti Arab Saudi, Syeikh Abdul Aziz bin Abdullah Al-Sheikh.

Sebelumnya, dalam fatwa itu dinyatakan bahwa keputusan yang diambil oleh Kerajaan Saudi melawan Qatar dianggap bermanfaat bagi umat Islam dan warga Qatar.

Rupanya, pasca keluarnya fatwa itu,  Mufti Agung Qatar, Syeikh Anwar Albadawi mengirim surat kepada Mufti Agung Arab Saudi, Syeikh Abdul Aziz bin Abdullah Al-Sheikh.

Dalam satu suratnya, yang dikirim saat bulan Ramadhan lalu, Syeikh Anwar El-Badawi,  menanyakan, alasan-alasan membolehkan memboikot saudaranya sendiri, sesama Muslim.

Dalam surat berjudul رسالة إلى سماحة مفتي السعودية (Pesan untuk Grand Mufti Arab Saudi), yang dimuat di laman berbahasa Arab, huffpostarabi, El-Badawi menambahkan bahwa blokade Saudi cs dianggap tidak mewakili citra nyata sebuah negara Muslim atau individu Muslim, yang seharusnya saling menolong dan berkasih sayang.

Syeikh Anwar El-Badawi bahkan meminta seharusnya semua Bangsa Muslim untuk bekerja sama menyelesaikan konflik antara Qatar dan Negara-negara Teluk lainnya.

Inilah petikan suratnya;

رسالة إلى سماحة مفتي السعودية (Pesan untuk Grand Mufti Arab Saudi)

“Wahai Mufti yang terhormat, engkau berfatwa bahwa apa yang dilakukan Saudi terhadap Qatar berupa boikot dan blokade adalah untuk kebaikan masyarakatnya. Di akhir fatwa engkau menyeru untuk berpegang teguh pada Kitabullah  dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Namun adakah kita temukan dalam Kitabullah  dan Sunnah rasul-Nya bahwa blokade dan pemboikotan saudara Muslim kepada sesamanya; darat, udara, laut, merupakan maslahat baginya?

Ini saya hadapkan padamu Kitabullah  dan Sunnah rasul-Nya yang engkau wasiatkan kami untuk berpegang teguh padanya. Tolong berikan kami satu dalil atas apa yang engkau katakan. Ini saya bawakan seluruh kitab hadits, tolong datangkan satu saja hadits, yang dhoif atau yang maudhu’ sekalipun, yang mendukung fatwamu.

Jika engkau tak bersandar pada Kitabullah  dan Sunnah rasul-Nya, maka dari mana engkau datangkannya fatwa itu?

Apakah telah datang padamu wahyu dari langit? Atau engkau bermimpi sesuatu lalu kau bangkit dan berfatwa? Ataukah ia mengikuti perintah waliyyul amri tanpa adanya runndingan dan diskusi terlebih dulu?

Wahai mufti yang terhormat,

Bukankah muqotho’ah (embargo) terhadap warga Qatar merupakan bentuk pemutusan ‘rahim’ yang Allah dan rasul-Nya perintahkan untuk disambung dan larang untuk diputus?

Rasulullah bersabda dalam hadits Qudsi:

يقول الله تعالى: أنا الرحمن وأنت الرحم شققت لك اسماً من اسمي.. فمن وصلك وصلته ومن قطعك قطعته

Bukankah Allah ta’ala melarang memotong tali silaturrahim dengan larangan yang keras?

فهل عسيتم إن توليتم أن تفسدوا في الأرض وتقطعوا أرحامكم

Tahukah engkau wahai mufti, embargo warga Qatar telah memisahkan antara suami dan istri, orang tua dan anak-anaknya? Sungguh demi Allah, dimana kebaikan yang engkau katakan ada di dalamnya?

Tahukah engkau wahai mufti bahwa warga Qatar dilarang pergi menuju Masjidil Haram disebabkan embargo? Kebaikan apa yang ada disana?

Tahukah engkau wahai mufti bahwa ada seorang pemuda Saudi yang dilarang menguburkan dan mensholati ayahnya karena fatwamu?

Tahukah engkau bahwa ada ibu-ibu Saudi, Emirat Arab, Bahrain yang dipaksa meninggalkan suami-suami dan anak-anak mereka yang bernegarakan Qatar karena fatwamu?

Tahukah engkau bahwa kegundahan, kesedihan, kesengsaraan, telah menguasai lebih dari 12.000 pasangan suami-istri, ditambah anak-anak, kerabat, dan sahabat mereka karena fatwamu?

Tahukah engkau bahwa teriakan anak-anak, rengekan bayi-bayi, tangisan para kerabat pecah karena perpisahan yang mana hati mereka menjadi tanggung jawabmu? Maka dimana kebaikan itu?

Tahukah engkau bahwa mereka akan berubah menjadi pembeci syariat dan penjunjungnya, marah terhadap masyarakat dan peraturan, muak terhadap ulul amri?

Engkau tanamkan dalam diri mereka kebencian terhadap negeri dan pemimpinnya, kemudian engkau bertanya dari mana datangnya terorisme?

Dahulu kita bermimpi menjadi sebab persatuan, menghilangkan perselisihan dan menyatukan antar saudara.

Dahulu kita bermimpi untuk menjadi penasehat yang amanah terhadap waliyyul amri sebagaimana yang diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaiho wasallam.

Dahulu kita bermimpi untuk menghalangi kedzoliman waliyyul amri apabila mereka berbiat dzolim, sebagai bentuk amal dari sabda Nabi:

(انصر أخاك ظالماً أو مظلوماً)، قالوا عرفنا كيف ننصره مظلوماً فكيف ننصره ظالماً؟ قال: (أن ترده عن ظلمه)

Dahulu kita mengira bahwa kalian menghalangi waliyyul amri yang menyulut api muqotho’ah atas saudara mereka di Qatar secara dzolim atas kedzoliman dan permusuhan mereka.

Adapun engkau berjalan bersama mereka, membenarkan kedzoliman mereka, dan berfilsafat atas permusuhan mereka, maka ini berlawanan dengan perintah Allah dan rasul-Nya.

Bukankah engkau telah membaca firman Allah:

إنما المؤمنون إخوة فأصلحوا بين أخويكم واتقوا االله لعلكم ترحمون

Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara. Karena itu, damaikanlah kedua saudara kalian, dan bertakwalah kalian kepada Allah supaya kalian mendapatkan rahmat. (QS al-Hujurat [49]: 10).

Bukankah engkau telah membaca:

وتعاونوا على البر والتقوى ولا تعاونوا على الإثم والعدوان

Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya [al-Mâidah/5:2]

Maka dimanakah engkau letakkan muqoto’ah atas masyarakat Muslim, tetangga dekat, di Bulan Rahmah ini?

Di “البر والتقوى” atau di “الإثم والعدوان“?

Bukankah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berdabda:

المسلم أخو المسلم لا يظلمه ولا يسلمه ولا يخذله ولا يحقره

Bukankah syariat melarang memutuskan hubungan antar saudara lebih dari 3 hari? Mengingkari perbuatan keduanya dan yang orang yang terbaik adalah yang mendahulukan salam?

Bukankah sifat seorang Muslim adalah pengasih sayang terhadap sesama, maka apakah muqotho’ah adalah bentuk kasih sayang?

Bukankah sifat seorang Muslim adalah “mendahulukan kebaikan atas orang lain daripada diri mereka meski mereka sendiri membutuhkan”?

Bagaimana engkau bisa lalai dari dalil-dalil yang jelas ini padahal engkau sedang berfatwa?

Kami mengharap kepadamu dan kepada seluruh ummat Islam untuk menarik kembali fatwa-fatwa kalian yang bertentangan dengan kitab, sunnah dan ijma’. Dan perlu engkau ketahui bahwa mempersatukan dan melenyapkan sebab-sebab permusuhan antar saudara adalah bentuk pengamalan dari:

واعتصموا بحبل الله جميعا ولا تفرقوا

Aku memohon kepada Allah agar memberi kita hidayah untuk beramal baik dan terbaik, serta memberimu taufik dalam urusan umat Islam.

hidayatullah

from Muslimina http://muslimina.blogspot.com/2017/07/surat-untuk-mufti-saudi-terkait.html
via IFTTT