Jakarta Islamic School Dahulu Disebut “Kandang Kerbau”

JAKARTA (Panjimas.com) – Sudah banyak sekolah yang menerapkan kurikulum internasional, tetapi belum diimbangi dengan wawasan dan pemahaman keIslamannya. Juga sudah banyak sekolah-sekolah yang menekankan ke-Islam-an, tapi belum memiliki kurikulum.

“Internasional Jakarta Islamic School (JISc) berdiri menjawab tantangan dunia pendidikan di Indonesia. Dengan lahirnya JISc diharapkan bisa memenuhi dahaganya orang tua yang menginginkan anaknya memiliki wawasan global, berahlak Islami, dan tidak melupakan jati dirinya sebagai bangsa Indonesia,” demikian dikatakan Pendiri Jisc, Fifi Proklawati Jubilea disela-sela Halal Bi Halal JISc di Jl. Manunggal I No.17, Komplek Kodam Kalimalang, Jakarta Timur.

Fifi selaku pendiri JISc, mencermati kepincangan yang ada dalam realitas pendidikan yang dimiliki kaum muslimin saat ini. Di satu sisi sekolah unggul secara duniawi, tetapi runtuh moralnya. Disisi lain, berorientasi akhirat, tetapi tidak mampu menghasilkan individu yang mampu bersaing untuk memimpin dunia di segala bidang secara global.

“Untuk itulah kami bertekad untuk menghadirkan sekolah unggulan yang mampu melahirkan manusia sukses menurut versi Allah SWT. Namun kami menyadari bahwa ikhtiar ini bukanlah mudah. Oleh karena itu dukungan dari para muslimin, khususnya orang tua sangat dibutuhkan untuk menggapai cita-cita mulia kami. Kami berharap, akan lahir generasi Islam yang unggul dimasa depan,” ungkap Fifi.

Dikatakan Fifi, pada awal JISc berdiri jumlah siswa ada 180 anak, yang terdiri dari Playgroup, TK dan SD yang berlokasi di jalan Inspeksi No. 41 A Pangkalan Jati. Bangunan sekolah pada saat itu sangat amat sederhana, bahkan ada orang tua siswa yang meragukan sekolah baru tersebut dengan sebutan “kandang kerbau”.

Tapi dengan ketekunan dan usaha Firi Proklawati Jubilea dan guru-guru, banyak orang tua yang percaya, karena banyak perubahan yang dialami oleh anak-anaknya terutama dalam kemampuan agama dan bahasa Inggrisnya, sehingga secara tidak langsung mereka telah menjadi duta-duta iklan JISc berjalan dan mengajak teman serta tetangganya untuk masuk di JISc.

Hal itu bisa dilihat dari peningkatan jumlah siswa di tahun berikutnya berjumlah 280 orang, yang terdiri dari Playgroup, TK dan SD. Di tahun ketiga berdiri, kepercayaan masyarakat akan keberadaan JISc semakin tinggi. Hal itu dibuktikan dengan banyaknya permintaan untuk mendirikan JISc dekat wilayah mereka. Dan banyaknya jumlah siswa baru yang mendaftar di JISc.

“Di tahun ini pula, selain JISc pusat di Kalimalang, Alhamdulillah telah didirikan cabang-cabang JISc, diantaranya JISc Cabang Joglo, Jakarta Barat, dan Boy Boarding School di Bogor-Jawa Barat,” kata Fifi.

Sejak 2007 JISc telah dipercaya masyarakat untuk membuka program SMU dan yang terakhir dibukanya sekolah rintisan di Depok-Jawa Barat. Pada tahun 2013 jumlah siswa-siswi di seluruh cabang yang ada telah mencapai hampir 3000 siswa.

Ada yang berbeda, antara sekolah tingkat menengah di JISc dan sekolah lainnya. “Kami menamakan sekolah lanjutan pasca sekolah dasar dengan nama Secondary School. Untuk lanjutan tingkat pertama atau yang sering disebut SMP, JISc menggunakan nama Lower Secondary School. Dan untuk setingkat SMU, JISc menggunakan nama Uper Secondary School.”

“Hal lain yang membuat kami berbeda, bukan hanya pada namanya, tapi juga target untuk memberikan ijazah IGCSE dari University of Cambridge, UK,” ungkap Mom Fifi, begitu beliau akrab disapa.

Hingga saat ini alumni JISc tersebar di Perguruan Tinggi dalam dan luar negeri, seperti di USA, England, Netherland, Germany, France, Turkey, Poland, Malaysia dan Australia. Adapun dalam negeri, alumni JISc diterima Universitas Terkemuka seperti UI, ITB, UGM, UNHAS, UNSOED, ITS, UNIBRAW, UNPAD dan Universitas terkemuka lainnya. (desastian)



from Panjimas http://www.panjimas.com/news/2017/07/17/jakarta-islamic-school-dahulu-disebut-kandang-kerbau/
via IFTTT

0 Response to "Jakarta Islamic School Dahulu Disebut “Kandang Kerbau”"

Post a Comment

Komentarlah dengan kata yang baik, bijak dan jelas