Tempat Hiburan Malam Tetap Beroperasi Selama Ramadhan?

KIBLAT.NET- Sudah menjadi tradisi di Indonesia, ketika bulan Ramadhan tiba, pemerintah membatasi jam operasi Tempat Hiburan Malam (THM). Bisa jadi pemerintah menutup seharian aktivitas item tersebut pada hari-hari tertentu, atau hanya menutupnya sampai shalat tarawih selesai setiap malamnya. Hal tersebut dilakukan guna menghormati bulan suci Ramadhan.

Menyoal Jam Operasi THM

Pemerintah menyerahkan kebijakan buka tutup THM pada masing-masing daerah. Pemkot Bintan misalnya. Bupati Bintan, Apri Sujadi, akan berlakukan sistem buka tutup terhadap THM, seperti lokalisasi Kilometer 24 di KecamatanToapaya. Tak hanya THM, sistem ini juga berlaku untuk jam operasi warnet, dimana jam operasinya juga akan dikurangi dan dilarang keras untuk tutup terlalu malam. Sedangkan untuk usaha pijat plus-plus, dilarang keras beroperasi Selama bulan Ramadan, hingga lebaran nanti (batampos.co.id, 29/05/2017).

Tak jauh berbeda, jam operasi THM dan tempat pijat di Kota Merauke, Papua, juga dibatasi selama bulan Ramadhan (Metromerauke, 10/05/2017). THM hanya boleh beroperasi pada pukul 20:00-00:30 WIT. Hal itu disepakati dalam pertemuan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Merauke dengan 29 pengusaha THM dan tempat pijat, yang dihadiri perwakilan kejaksaan negeri, kepolisian dan Dinas Sosial, Rabu (10/05/2017).

Sementara Pemda Bogor dan Kendari, sama-sama mengeluarkan surat edaran bahwa THM wajib tutup sementara selama bulan Ramadhan. Mulai Jumat (26/5/2017) hingga satu minggu setelah Idul Fitri, THM hingga restoran dan warung makan di Bogor tidak diperbolehkan untuk menerima pelanggan (Tribunnews.com, 30/05/2017). Sedangkan di Kendari, THM ditutup pada H-3 hingga H+3 Ramadhan (Antarasultra.com, 30/05/2017).

Masih Saja Bandel

Meski sudah ada edaran terkait pembatasan jam operasi THM, ternyata masih saja ditemukan THM yang tidak mengindahkan aturan ini. Bahkan ada yang berdalih mereka belum menerima surat edaran tersebut. Anggota Komisi I DPRD Kotawaringin Timur, H. Abdul Khalik menyayangkan hal tersebut (Fajar.co.id, 07/06/2017). Dia menyebutkan, tidak ada alasan bagi THM untuk tidak tahu bahwa ada surat edaran dan larangan untuk menghentikan operasional. Sebab itu, sudah menjadi hal yang tidak asing setiap tahunnya.

Menurutnya, padahal sudah jelas dari jauh-jauh hari, instruksi tersebut sudah disampaikan bahkan edaran dilayangkan ke sejumlah THM. Namun nampaknya masih ada yang tidak menjalankan. Dikatakannya lagi, harus ada tindakan tegas yang diberikan kepada pengelola THM agar ada efek jera. Selain itu supaya kedepan tidak ada yang berani main-main dengan instruksi tersebut.

Seperti diberitakan di beberapa media online, beberapa usaha rumah makan, plays station, dan THM di Bontang, Kutim, Bogor, dan beberapa wilayah lainnya masih beroperasi seperti biasa.

Mengurai Sebab

Berbagai kebijakan yang dikeluarkan masing-masing pemerintah daerah terhadap jam operasi THM selama Ramadhan berimbas pada pandangan umum masyarakat bahwa menjamurnya THM, baik di bulan Ramadhan maupun di luar bulan Ramadhan, merupakan hal yang wajar dalam kehidupan manusia.

Ya, mendapatkan hiburan malam di tempat-tempat yang sarat akan nuansa maksiat menjadi kebutuhan pokok bagi sebagian masyarakat sekuler. Mereka hanya menganggap Allah SWT hanya hadir dalam ibadah saja. Ketika mereka bersinggungan dengan aspek kehidupan lain, banyak alasan yang mereka sodorkan guna menolak aturan Allah SWT.

Padahal Allah SWT telah berfirman dalam QS. Al-Isra: 32 yang berarti, “Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” Mendekati zina saja dilarang, apalagi jika sampai menjadi pelaku perzinahan yang difasilitasi oleh THM. Itulah salah satu bentuk distorsi Ramadhan dalam sistem kapitalis.

Jadi, tidak heran. Walaupun pemerintah sudah mengeluarkan surat edaran yang isinya melarang THM beroperasi selama bulan Ramadhan, beberapa oknum masih saja tidak mengindahkan aturan ini.

Kondisi ini diperparah dengan ketidaktegasan pemerintah ketika ada THM yang masih beroperasi. Mereka hanya diberi peringatan keras, tidak sampai dicabut izin operasionalnya. Padahal, permasalahan ini tergolong serius sebab menodai kesucian bulan Ramadhan.

Begitulah cara kapitalis dalam berhadapan dengan bulan Ramadhan. Yakni melarang sementara hiburan malam (maksiat) beroperasi agar masyarakat luas tidak protes dan merazia, namun mengambil untung dari hasil maksiat tersebut berupa pemungutan pajak. Miris!

The post Tempat Hiburan Malam Tetap Beroperasi Selama Ramadhan? appeared first on Kiblat.



from Kiblat /2017/06/13/tempat-hiburan-malam-tetap-beroperasi-selama-ramadhan/
via IFTTT


Tidak ada komentar:

Write a Comment

Komentarlah dengan kata yang baik, bijak dan jelas


Ke atas
close