Skandal Kremlingate: Kerjasama Rahasia Trump-Rusia Menangi Pilpres AS

KIBLAT.NET – Donald Trump dan pembelanya mungkin bisa bernafas lega setelah kesaksian mantan Direktur FBI Justin James Comey di depan Senat menunjukkan betapa rendahnya ekspektasi terhadap presiden AS yang baru.

Tentu, Trump telah berbohong dan berperilaku tidak etis – tapi, setidaknya, dia sendiri tidak pernah diselidiki secara pribadi karena berkolusi dengan Rusia untuk mengubah jalannya pemilihan presiden 2016. Trump bahkan menuntut adanya “pemulihan nama baik secara total dan lengkap.”

Trump memang terlalu nekat. Pasalnya, bukan hanya kesaksian Comey yang memberatkan, tapi situasinya jauh lebih buruk bagi presiden daripada kesaksian yang diambil secara terpisah. Apa yang dikatakan Comey, dengan penuh ketenangan, adalah fakta-apa adanya. Ini hanyalah salah satu potongan dari kepingan puzzle Skandal Kremlingate.

Anda harus melihatnya secara total untuk melihat keseluruhan gambaran sebenarnya. Ada alasan bagus mengapa Senator John McCain baru-baru ini mengatakan bahwa skandal ini menyamai Skandal Watergate. Ada tiga bagian dari teka-teki ini: kolusi, kamuflase, dan quid pro quo (bantuan dengan harapan ada balasan, red).

Sangat sedikit kesaksian Comey yang menyentuh dugaan kolusi antara Rusia dengan Trump. Dalam kesaksiannya, Comey menganggap hal ini terlalu sensitif untuk dibahas dalam sesi terbuka – itu merupakan fakta yang memberatkan. Jika ini adalah “berita palsu,” seperti tudingan Trump, seharusnya tidak perlu ada informasi rahasia yang harus disembunyikan.

Kendati demikian, bahwa ada kolusi publik antara kampanye Trump dan Rusia, dan dugaan Kremlin mencampuri pemilihan Amerika, tidak perlu dipertanyakan lagi. Trump, bagaimanapun, secara terbuka membuat panggilan telepon pada tanggal 27 Juli 2016, meminta Rusia untuk meretas email Hillary Clinton. Dia kemudian merayakan kebocoran yang dihasilkan dari WikiLeaks, yang oleh direktur CIA-nya sendiri telah diidentifikasi sebagai “dinas intelijen non-negara yang memusuhi AS dan didukung oleh aktor negara seperti Rusia.”

Satu-satunya pertanyaan ialah: apakah ada kolusi pribadi juga? Banyak bukti menunjukkan hal itu. Dalam kesaksiannya, Comey membantah artikel New York Times tentang adanya kontak antara tim kampanye Trump dan Rusia, dengan mengatakan bahwa “yang utama, itu tidak benar.” Tapi dia tidak mengatakan apa yang tidak benar, dan banyak artikel berita lainnya telah melaporkan bahwa tim kampanye Trump memiliki banyak interaksi dengan perwakilan Rusia yang berpengaruh. Reuters, misalnya, melaporkan bahwa setidaknya ada 18 kontak selama tujuh bulan terakhir semasa berjalannya kampanye presiden AS.

Ada segudang bukti adanya hubungan finansial dan hubungan lainnya yang melibatkan Paul Manafort, mantan manajer kampanye Trump, dan Carter Page, mantan penasihat kebijakan luar negerinya dengan pihak Kremlin. Ada alasan bagus mengapa FBI memperoleh surat perintah Intelijen Luar Negeri untuk Carter Page. Hal itu menandakan bahwa FBI memiliki alasan kuat untuk percaya bahwa dia seorang agen Rusia, atau terhubung dengan cara tertentu.

Bahkan Mike Flynn, penasehat keamanan nasional Trump yang sudah dipecat, pernah menerima $45.000 lebih dari Kremlin yang tidak pernah terungkap. Roger Stone, orang lama kepercayaan Donald Trump sepertinya memiliki pengetahuan yang mencurigakan tentang apa yang akan diungkapkan oleh WikiLeaks. Stone pernah mengaku punya jalur khusus untuk berkomunikasi dengan Julian Assange, pendiri Wikileaks, terkait bocoran email Hillary Clinton.

Menurut Comey, Trump, sambil bersikeras “bahwa dia tidak melakukan kesalahan,” namun secara tersirat mengakui bahwa ada “beberapa rekan satelitnya” yang mungkin telah melakukan kesalahan.

Sebenarnya, kontak yang mencurigakan dengan Rusia tidak terbatas pada “rekan satelitnya,” tapi juga melibatkan orang-orang terdekat dan tersayang Donald Trump. Comey mengatakan kepada senator dalam sebuah sesi tertutup bahwa ada pertemuan ketiga antara Jaksa Agung Jeff Sessions dan pihak Rusia yang sebelumnya tidak diungkapkan di atas dua pertemuan sebelumnya pada sesi konfirmasi.

Jared Kushner, menantu dan penasihat senior Trump, malah secara sengaja mengosongkan siapa saja daftar kontak Rusia-nya dalam formulir keamanan. Flynn dipecat karena berbohong tentang pembicaraannya dengan duta besar Rusia tersebut. Mengapa mereka berbohong jika memang tidak ada yang disembunyikan? Dan alibi terbaik apa yang bisa menjelaskan perilaku mereka? Tidak ada satupun jawaban yang diberikan oleh tim kampanye Trump.

Sangat sulit untuk menjelaskan apa yang Kushner sudah lakukan. Kini, hal itu menjadi penyelidikan FBI. Dia dilaporkan mencoba memasang kembali saluran rahasia dengan orang-orang Rusia menggunakan peralatan komunikasi yang disediakan oleh Kremlin. Dia juga bertemu dengan Sergei Gorkov, seorang mata-mata Rusia yang terlatih dan rekan dekat Presiden Rusia Vladimir Putin, yang mengelola sebuah bank berafiliasi Kremlin. Padahal, bank ini telah mendapat sanksi dari pemerintah AS.

Yang menarik, Kushner adalah kepala analisis data untuk kampanye Pilpres Donald Trump. Hal itu memungkinkan dugaan orang-orang Rusia menggunakan bot secara diam-diam untuk meningkatkan popularitas Trump di Facebook dan Twitter.

The post Skandal Kremlingate: Kerjasama Rahasia Trump-Rusia Menangi Pilpres AS appeared first on Kiblat.



from Kiblat /2017/06/12/skandal-kremlingate-kerjasama-rahasia-trump-rusia-menangi-pilpres-as/
via IFTTT
Sebarkan Lewat Google Plus

0 comments:

Post a Comment

Komentarlah dengan kata yang baik, bijak dan jelas

close