Sesungguhnya Full Day School Untuk Siapa?

Oleh: Fadh Ahmad Arifan*

Bulan romadhon yang Mulia tahun ini cukup membuat gaduh umat Islam. Pertama, tarif listrik yang naik bertahap secara diam-diam. Kedua, tiba-tiba Mendikbud RI mulai tahun ini akan memberlakukan sistem full day school. Tahun lalu hanya sebatas wacana. Namun sebagian besar menolak hingga menulis Surat terbuka. Penolakan tersebut dilakukan kalangan yang selama ini mempercayakan penanaman nilai keislaman anak-anak kepada Madrasah diniyah (Madin). Bukan hanya madin, Taman pendidikan al-Quran (TPA) akan kena imbas dari kebijakan full day school yang digulirkan Mendikbud.

Partai berlambang ka’bah adalah yang pertama melakukan penolakan. "Kebijakan memaksakan perubahan jam belajar siswa sekolah akan memunculkan kegaduhan baru. Kami meminta Mendikbud untuk mengurungkan kebijakan itu," kara Arwani Tomafi seperti dikutip oleh Antaranews. PBNU juga bersikap senada, “Hal mendasar yang terjadi saat full day school diterapkan adalah matinya madrasah-madrasah diniyyah, belajar agama sore hari, interaksi santri-kiai di sore hari," kata Ketua PBNU Muhammad Sulton Fatoni di Detikcom. Dari kalangan Muhammadiyah dan PAN belum saya temukan penolakan terhadap full day school.

Penolakan terhadap full day School bukan terjadi tahun lalu dan sekarang. Berdasarkan informasi yang saya peroleh dari Alvan Fathony M.HI, dosen Institut agama islam Nurul jadid (IANJ) kabupaten Probolinggo, pada tahun 1994 pengasuh Pondok Pesantren Sukorejo KH. Fawaid As'ad bersama 200 kiai yang hadir dalam acara haul KH As’ad Saymsul Arifin, membuat surat pernyataan penolakan dan menandatangani penolakan terhadap 5 hari sekolah dalam sepekan. Alasan utama kala itu, kebijakan sekolah lima hari tersebut akan menggusur keberadaan TPQ yang kegiatannya berlangsung di sore hari dan makin membebani orang tua dari segi finansial. 

Pertama tama sebelum mengkritisi sistem full day school ala Mendikbud. Yang patut diketahui pembaca adalah apa latar belakang dari Mendikbud. Dengan latar belakang beliau, kita akan mengetahui kompeten atau tidaknya seseorang saat diamani suatu jabatan. Pak menteri yang mengenyam pendidikan doktoral di Unair Surabaya ini sebetulnya pantas disebut “pengamat Militer”. Disertasinya mengulas Profesionalisme perwira Menengah TNI-AD. Bisa ditebak bukan apa jadinya kalau pemangku kebijakan tidak linier dengan kementerian dimana ia bekerja dan membaktikan diri kepada negara. Pendidikan akan “amburadul” jika pemangku kebijakannya bukan jebolan fakultas Tarbiyah atau ilmu keguruan.

Kebijakan full day school yang akan digulirkan sejak juli 2017 ini durasinya delapan jam tiap hari. Guru-guru diminta berada selama itu di sekolah mulai hari senen hingga jum’at. Sabtunya libur mengajar. Masalahnya adalah sudahkah pemerintah memberi gaji sesuai upah minimum regional dengan beban mengajar seperti itu?. Kemudian bagaimana dengan sekolah yang krisis guru, apa tidak kian sengsara guru yang mengampu 3-4 mapel yang berbeda. Mereka adalah guru, bukan seorang buruh.

Sesungguhnya full day School berdurasi lima hari ini untuk siapa? Untuk menjawab pertanyaan ini, perlu melihat lagi latar belakang Mendikbud. Dimana anak-anaknya ternyata sekolah di SD Islam tersohor dan dihuni kalangan berduit di Kota Malang. Sekolah ini menganut sistem full day. Pasti cocok  dengan selera Mendikbud yang sidak kesana kemari, ke berbagai daerah terutama di luar Jawa. Sementara sang istri belum tentu siap siaga di rumah dengan padatnya jadwal Mendikbud RI.

Full day school hanya cocok untuk kalangan berduit dan yang malas mengirim anaknya ke pesantren. Cocok bagi suami istri yang sibuk mencari harta dari pagi hingga malam. Di mata saya, sekolah yang menerapkan sistem full day adalah sekolah yang mirip dengan tempat penitipan anak. Pagi mengantar anak, saat petang tiba sang anak dijemput pulang. Jadi mereka sepenuhnya memasrahkan kognitif, penanaman karakter dan kedekatan emosional anak-anak kepada gurunya. Apakah dengan begitu, pendidikan karakter akan berhasil?

Terakhir sebelum mengakhiri artikel singkat ini, ingatlah satu hal, anak kita bukanlah robot. Yang tidak punya perasaan dan rasa jenuh bila menjalani aktivitas yang amat padat. Anak kita adalah manusia yang perlu banyak interaksi dengan orang tua dan masyarakat sekitar. Idealnya belajar itu cukup durasinya yang singkat. Buat apa berlama-lama di sekolah jika nantinya seusai pulang, ia masih ikut les privat dan dijejali dengan banyak pekerjaan rumah. Rugi sekali bukan?. Sebagai penulis yang pernah merasakan jenuhnya full day school, saya minta dengan hormat supaya Mendikbud RI meralat kebijakannya. Wallahu’allam.

*Alumni Fakultas syariah di UIN Maliki Malang. Sehari-hari diamanahi mengajar Sejarah kebudayaan islam dan Fiqih

Tags: 
Category: 


from Opini http://www.konfrontasi.com/content/opini/sesungguhnya-full-day-school-untuk-siapa
via IFTTT
Sebarkan Lewat Google Plus

0 comments:

Post a Comment

Komentarlah dengan kata yang baik, bijak dan jelas

close