Pengamat: Dua Jenderal TNI Yang Ideal & Kuat Pimpin Indonesia


Republik.in ~ Belakangan ini nama Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo disebut tepat untuk disandingkan dengan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto untuk maju dalam Pilpres 2019 mendatang. Keduanya dinilai mampu menandingi Joko Widodo (Jokowi) jika kembali mencalonkan diri. Banyak pihak berharap agar Prabowo - Gatot benar-benar maju untuk merubah Indonesia menjadi semakin baik.

"Jika pertimbangannya memperkuat kembali pemerintah yang efektif, stabil dan nasionalisme ekonomi dan politik, maka Prabowo dan Gatot Nurmantyo adalah pilihan terbaik saat ini," kata peneliti Institute For Strategic and Development Studies (ISDS), M. Aminudin kepada Harian Terbit, Minggu (18/6/2017).

Menurutnya, antara Prabowo dan Gatot memiliki prestasi terbaik di Indonesia. Tidak heran keduanya lolos dari seleksi kepempimpinan TNI yang merupakan organisasi paling solid, modern, dan paling nasionaslis di Indonesia.

Selain itu, lanjutnya, Prabowo juga memiliki karakter yang heroik meledak-ledak seperti Soekarno. Sementara Gatot adalah sosok yang cenderung tenang dan ilmiah seperti Mohamat Hatta, yang juga proklamator. "Keduanya bisa saling melengkapi atas kekurangan yang dimiliki masing-masing," jelasnya.

Terkait Prabowo dan Gatot dari Jawa sehingga dipastikan bakal mendapatkan penolakan, Aminudin menegaskan, semua harusnya faham untuk tidak menolak orang alasan primordial. Apalagi Indonesia merupakan negara yang berdiri dengan landasan kebangsaan atau nation state. Sehingga ukuran orang untuk diterima atau tidak adalah prestasi.

"Tapi saya yakin Jenderal Gatot adalah seorang Jenderal yang taat azas yang loyal pada pemerintah yang sah sehingga dia saat ini akan fokus selesaikan amanah sebagai Panglima TNI seperti yang sering katakannya," jelasnya.

Lebih lanjut Aminudin mengatakan, para petinggi militer TNI saat ini hampir semuanya lulusan lembaga-lembaga pendidikan seperti AMN AKABRI yang selalu menanamkan nilai-nilai demokrasi dan ketaatan pada konsitusi. Sehingga dimana alasannya jika keduanya terpilih akan bersikap otoriter. Contohnya, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) walaupun berlatar belakang militer tapi tak ada penangkapan sejumlah posisi.

"Orang beroposisi seperti Sri Bintang Pamungkas, Rahmawati, dan sebagainya "diculik" oleh aparat justru di era Jokowi yang sipil," jelasnya.

ADA BERITA UNIK DAN MENARIK SCROLL KE BAWAH www.REPUBLIK.in
Sumber Berita : harianterbit.com


from Republikin http://www.republik.in/2017/06/pol-pengamat-dua-jenderal-tni-yang.html
via IFTTT


Tidak ada komentar:

Write a Comment

Komentarlah dengan kata yang baik, bijak dan jelas


Ke atas
close