Pelipur Lara Saat Tak Mampu Berjihad

KIBLAT.NET – Jihad adalah amalan tertinggi di dalam Islam. Seorang muslim tentunya sangat merindukan  berjihad sebagaimana yang telah dicontohkan Rasulullah dan para shahabatnya.

… رَأْسُ الْأَمْرِ الْإِسْلَامُ وَعَمُوْدُهُ الصَّلَاةُ وَذِرْوَةُ سَنَامِهِ الْـجِهَادُ فِـي سَبِيْلِ اللهِ

Artinya : “… Pokoknya perkara adalah Islam, tiangnya adalah shalat, dan puncaknya adalah jihad fii sabiilillaah.” (HR. Ahmad, Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Kerinduan berjihad ini didasari dengan berbagai alasan didalamnya. Selain dengan alasan bahwa jihad adalah amalan puncak yang dicontohkan Rasulullah, jihad adalah jalan satu-satunya untuk mengembalikan kejayaan Islam yang hilang.

Jihad adalah jalan perjuangan yang dicontohkan Rasul. Selain itu, dibalik beratnya amalan jihad, Allah telah menjanjikan pahala yang besar bagi mujahid fi sabilillah. Dalam sebuah hadits dari sahabat Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh Bukhari Muslim disebutkan bahwa Nabi ditanya perihal amal yang bisa menandingi jihad, beliau menjawab, “Aku tidak mendapatkannya.”

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata: “Wahai Rasulullah, Amalan apakah yang (pahalanya) sebanding dengan Jihad fi Sabilillah?” beliau menjawab, “Kalian tidak akan sanggup mengerjakannya.”

Mereka (para sahabat) mengulangi pertanyaan tersebut dua atau tiga kali, dan jawaban beliau atas setiap pertanyaan itu sama, “Kalian tidak akan sanggup mengerjakannya.” Kemudian setelah yang ketiga beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,

مَثَلُ الْمُجَاهِدِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ الصَّائِمِ الْقَائِمِ الْقَانِتِ بِآيَاتِ اللَّهِ لَا يَفْتُرُ مِنْ صِيَامٍ وَلَا صَلَاةٍ حَتَّى يَرْجِعَ الْمُجَاهِدُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ تَعَالَى

Artinya :“Perumpamaan seorang mujahid Fi Sabilillah adalah seperti orang yang berpuasa yang mendirikan shalat lagi lama membaca ayat-ayat Allah. Dan dia tidak berhenti dari puasa dan shalatnya, sehingga seorang mujahid fi sabilillah Ta’ala pulang.” (Muttafaq ‘Alaih)

Sedangkan bagi para mujahid yang diberikan Allah kenikmatan syahid, maka akan mendapatkan 6 keutamaan yang disebutkan dalam hadits riwayat Ibnu Majah

حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ عَمَّارٍ قَالَ: حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ عَيَّاشٍ قَالَ: حَدَّثَنِي بَحِيرُ بْنُ سَعْدٍ، عَنْ خَالِدِ بْنِ مَعْدَانَ، عَنِ الْمِقْدَامِ بْنِ مَعْدِيكَرِبَ، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ” لِلشَّهِيدِ عِنْدَ اللَّهِ سِتُّ خِصَالٍ: يَغْفِرُ لَهُ فِي أَوَّلِ دُفْعَةٍ مِنْ دَمِهِ، وَيُرَى مَقْعَدَهُ مِنَ الْجَنَّةِ، وَيُجَارُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَيَأْمَنُ مِنَ الْفَزَعِ الْأَكْبَرِ، وَيُحَلَّى حُلَّةَ الْإِيمَانِ، وَيُزَوَّجُ مِنَ الْحُورِ الْعِينِ، وَيُشَفَّعُ فِي سَبْعِينَ إِنْسَانًا مِنْ أَقَارِبِهِ “

Artinya : … Rasulullah SAW bersabda: “Bagi orang yang mati syahid disisi Allah mendapatkan enam keutamaan: diampuni dosanya saat pertama kali darahnya mengalir, dan ditunjukkan tempatnya di Surga, diselamatkan dari siksa kubur dan diamankan dari guncangan kubur, dan dihias-hiasi dengan perhiasan iman, dan dinikahkan dengan bidadari yang cantik jelita, dapat mensyafaati tujuh puluh orang keluarganya”. (HR Ibnu Majah)

Pahala Bagi yang Belum Berjihad

Dengan alasan yang telah penulis paparkan di atas, tentu menjadi pendorong yang sangat kuat untuk berjihad. Namun, urusan jihad bukanlah hanya sekadar keinginan semata. Tidak semua muslim mendapatkan rahmat Allah hingga diberi kesempatan bertempur di jalan-Nya.

Pertanyaannya, bagaimana dengan seseorang yang berudzur dari jihad? Udzur syar’i seperti tidak ada biaya dan belum terbukanya medan jihad atau letaknya jauh. Orang-orang seperti ini mendapatkan pahala sebagaimana hadits berikut :

روى البخاري عن أنس بن مالك -رضي الله عنه-: أن رسول الله -صلى الله عليه وسلم- رجع من غزوة تبوك فدنا من المدينة، فقال: “إن في المدينة أقواماً ما سرتم مسيراً ولا قطعتم وادياً إلا كانوا معكم” فقالوا: يا رسول الله وهم بالمدينة؟! قال: “وهم بالمدينة حبسهم العذر”.

Artinya :Diriwayatkan Al-Bukhari dari Anas bin Malik bahwasannya Rasulullah pulang dari Tabuk. Saat hampir tiba di Madinah beliau bersabda, “Sesungguhnya di Madinah ada para laki-laki yang mana tidaklah akan menempuh perjalanan, tidak pula melewati lembah melainkan mereka bersama kalian, sakit telah menghalangi mereka.” Shahabat bertanya,”Mereka di Madinah?” Beliau bersabda,”Mereka di Madinah terhalang udzur.” Diriwayat yang lain”…melainkan mereka berserikat dengan kalian dalam pahala.” (HR Al-Bukhari : 4423 dan Muslim : 1911).

The post Pelipur Lara Saat Tak Mampu Berjihad appeared first on Kiblat.



from Kiblat /2017/06/10/pelipur-lara-saat-tak-mampu-berjihad/
via IFTTT

0 Response to "Pelipur Lara Saat Tak Mampu Berjihad"

Post a Comment

Komentarlah dengan kata yang baik, bijak dan jelas

close