Mewabahnya Kepercayaan ‘SINGULARITY’

Lingkarannews.com Sosbud- Di amerika kini sedang mewabah trend kepercayaan yang mengarah menjadi agama baru yaitu singularity, dan para pengikut kepercayaan singularity kebanyakan adalah para sleebrities dan para tokoh yang mengedepankan soal pemahaman dan kepercayaan mengenai teknologi dan manusia kedepannya akan menjadi satu kesatuan tak terpisah

Singularity adalah suatu titik dimana gravitasi itu sedemikian kuatnya sehingga ruang dan waktu akan runtuh dalam titik itu, seperti Big Bang atau Black Hole.

Dalam bidang teknologi, singularity adalah suatu titik dimana teknologi dan manusia itu sendiri sudah bukan lagi menjadi dua hal yang berbeda. Pada titik itu manusia sudah mampu mengatasi keterbatasan biologisnya seperti melawan penuaan dan kematian.

Manusia akan menjadi tuhan-tuhan kecil yang mampu membuat apa saja, termasuk mampu menciptakan sebuah spesies baru hanya dengan menekan nekan tombol keyboard komputer.

Bahkan manusia memiliki probabilitas untuk membuat planet-planet dengan cara membuat artificial Big Bang. Dengan analogi yang sama, tidak menutup kemungkinan bahwa para alien juga telah mencapai singularity dalam intelejensia mereka dan telah menciptakan tatasurya dan para spesiesnya seperti yang kita kenal selama ini.

Menurut teori bing-bang, Alam semesta itu mengembang, semua galaksi bergerak saling menjauhi satu sama lain. Itu berarti alam semseta mempunyai awal.

Awal dari alam semesta ini disebut dengan “singularity”. Apa itu “singularity”? Yaitu keadaan dimana tidak ada ruang, tidak ada waktu, tidak ada materi, Nothing. Dari kacamata teori Relavitas, “singularity” itu adalah medan gravitasi yang tak-terhingga. Menurut teori relavitas, gravitasi bukanlah gaya tetapi merupakan ruang waktu (Spacetime) curvature. Itulah sebabnya Hawking berkata

Because there is a law such as gravity, the universe can and will create itself from nothing.

Dari “singularity”, alam semesta mulai mengembang (Big-bang) kemudian berdasarkan hukum-hukum fisika terciptah lah dengan sendirinya materi, bintang, planet, galaksi dan lain sebagainya (bahkan termasuk kita), itulah sebabnya Hawking berkata

“Spontaneous creation is the reason there is something rather than nothing, why the universe exists, why we exist.

Untuk mengetahui bagaimana caranya  mobil bergerak perlukah kita melibatkan pencipta mobil tersebut? Untuk mengetahui bagaimana jam berdetak perlukah kita melibatkan pencipta Jam tersebut? Begitu pula dengan alam semesta ini, untuk mengetahui bagaimana alam semesta ini terbentuk kita tidak perlu membawa-bawa Tuhan. Semua bisa dijelas kan secara sains tidak perlu menyinggung-nyinggung hal-hal yang transendental. itulah sebabnya Hawking berkata

It is not necessary to invoke God to light the blue touch paper and set the universe going

Jadi menurut saya Hawking tidak menolak tuhan. Hawking hanya ingin berkata bagaimana alam semseta ini terbentuk bisa dijelaskan secara sains tidak usah membawa-bawa nama Tuhan.

Sementara disisi lain, singularitas, adalah suatu masa ketika kecerdasan buatan berkembang jauh sehingga melampaui kecerdasan manusia dan mengubah peradaban dan umat manusia. Karena kemampuan kecerdasan semacam itu sulit untuk dipahami manusia, singularitas teknologi sering dipandang sebaagai peristiwa (mirip singularitas gravitasi) yang setelahnya masa depan umat manusia tak dapat diprediksi atau bahkan tak dapat diukur.

Istilah “singularitas” dalam konteks ini pertama kali digunakan oleh matematikawan John von Neumann.

Pada tahun 1958, mengenai ringkasan percakapan dengan von Neumann, Stanislaw Ulam menjelaskan “percepatan kemajuan teknologi dan perubahan mode kehidupan manusia, yang seolah-olah mendekati singularitas dalam sejarah ras di luar manusia, tidak bisa dilanjutkan lagi”.

Istilah ini dipopulerkan oleh penulis fiksi ilmiah Vernon Vinge yang berpendapat bahwa kecerdasan buatan, pemutakhiran biologis manusia, atau antarmuka otak-komputer bisa jadi penyebab potensial singularitas.

Futuris Ray Kurzweil mengutip penggunaan istilah ini oleh von Neumann dalam kata pengantar karya klasik von Neumann, The Computer and the Brain. f Pendukung singularitas biasanya menyebut “ledakan kecerdasan”, yaitu masa ketika kecerdasan super (superintelligence) merancang generasi pemikir yang semakin kuat dan dapat terjadi sangat cepat dan mungkin tidak akan berhenti sampai kemampuan kognitif generasi atau agen tersebut melampaui manusia manapun di Bumi.

Kurzweil memprediksikan singularitas akan terjadi sekitar tahun 2045, sedangkan Vinge memperkirakan ini terjadi sebelum 2030.

Pada Singularity Summit tahun 2012, Stuart Armstrong melakukan studi prediksi kecerdasan umum buatan (artificial generalized intelligence) oleh para pakar dan menemukan berbagai macam tahun perkiraan yang rata-rata bertengger di angka 2040. Prediksinya sendiri adalah terdapat 80% kemungkinan bahwa singularitas akan terjadi antara 2017 dan 2112.(dari berbagai sumber)

Adityawarman @aditnamasaya



from Lingkaran News http://lingkarannews.com/mewabahnya-kepercayaan-singularity/
via IFTTT


Tidak ada komentar:

Write a Comment

Komentarlah dengan kata yang baik, bijak dan jelas


Ke atas
close