Mari Melihat dari Dekat Pesantren Khusus Penggodokan dan Pembinaan Para Mualaf

Oleh:   Kun Aqmar

 

Setelah menyatakan keislamannya, banyak muallaf (orang-orang yang baru masuk Islam) masih hidup dalam keadaan serba kesulitan. Mereka kehilangan tempat tinggal, pekerjaan dan terusir dari keluarga yang tak mau menerima keislaman mereka. Bermula dari keprihatinan itulah, Yayasan Annaba Center mulai merintis Pesantren Pembinaan Muallaf yang diciptkan untuk para muallaf mulai menata hidup barunya sebagai muslim sejati. Bagaimana mulanya?

 

 

 

Singgah sejenak di Pesantren Pembinaan Muallaf, Yayasan Annaba Center yang terletak di Jalan Cenderawasih IV No.1 RT.02/RW.03, Kelurahan Sawah Baru, Kecamatan Ciputat Kota Tangsel langsung mengingatkan kita pada sebuah pesantren modern pada umumnya.  

 

Bangunan mentereng dua lantai dengan hiasan kaligrafi di tiap dindingnya semakin menambah keindangan gedung pesantren yang dibangun di atas lahan seluas 1.200 meter persegi tersebut. Kelebihan lainnya, bangunan itu sengaja didesain untuk membuat nyaman orang yang masuk kedalamnya untuk tujuan mempelajari Islam seutuhnya.

 

Namun begitu, terbesitkah sedikit bahwa berdirinya bangunan yang dikhususkan sebagai tempat pembinaan bagi para muallaf tersebut berawal dari keprihatinan seorang muallaf yang melihat bahwa masih banyak kaum muallaf yang setelah keislamannya justru jauh dari hidup layak, merasa terbuang, dan kehilangan seluruh kesejahteraan yang dulu pernah dirasakannya sebelum menjadi muslim.

 

Pendirian Pesantren Pembinaan Mualaf, Ustadz Syamsul Arifin Nababan (44) yang mendapati para mualaf terlantar dan tidur di kolong-kolong masjid lantas berinisiatif untuk membangun tempat khusus bagi para muallaf ini. Harapannya, tak ada lagi rasa khawatir bagi muallaf menjalankan keislamannya, tak ada lagi rasa terbuang dan tentunya tak lagi kembali murtad (kembali keagama lamanya) kerena mendapati Islam merupakan agama yang membawa kedamaian bagi pemeluknya.

 

“Kondisi muallaf saat baru menjadi muslim sangat memperihatinkan karena setelah masuk Islam, mereka terusir dari rumah dan hidup tanpa perlindungan orang tua atau keluarga. Jalan terjal ini mereka pilih karena mereka yakin iman Islam sangat cocok dalam memenuhi gemuruh batin akan kebenaran ajaran Islam,” jelasnya saat ditemui Satelit News, kemarin.

 

Nababan juga menjelaskan, beranjak dari rasa prihatin itu pula lah, dia merasa perlu untuk membantu kaum sepertinya dapat merasakan penghidupan yang lebih baik. Merasa memiliki saudara serasa yang bisa sama-sama membantu menguatkan akidah (ideologi) Islam mereka. Terlebih, katanya, tak satupun selama dirinya menganut Islam, organisasi Islam yang besar maupun yang kecil mau memikirkan nasib kaum muallaf ini.

 

“Sekarang coba lihat sejenak panomena saat ini. Banyak organisasi Islam besar maupun kecil yang sibuk berebut kursi politik. Para ulama berebut kue kekuasaan. Maka tak heran, jika keterlantaran para muallaf dan kegelisahan mereka tak pernah terjawab. Dalam kondisi semacam ini kami punya niat kuat mendirikan pesantren yang khusus bergerak di bidang pembinaan, penyantunan, dan perhatian serta pelayanan pendidikan bagi para muallaf,” teranganya.

 

Di pesanteren ini, sosok ustad yang sebelum keislamannya menyandang nama Bernand Nababan tersebut berharap, Annaba Center bisa jadi rumah para muallaf untuk singgah dan menguatkan akidahnya, berharap para muallaf ini bisa merasakan bahwa Islam adalah agama pembawa kedamaian bukan pembuat kesusahan.

 

“Terlebih, di Annaba Center ini seluruh fasilitas yang diterima para santri didapatkan secara gratis dan murni sosial. Tak ada urusan uang di sini. Kami hanya berharap bahwa kepedulian Islam terhadap para muallaf itu ada dan bisa menjembatani mereka menjadi muslim yang sejati, menerima ajaran Islam yang lurus dan tentu saja mendamaikan,” teranganya.

 

Menyinggung soal tujuan pendidikan yang diselenggaakan di pesantren tersebut, Nababan mengutarakan, pendidikan pertama yang ditanamkan kepada para muallaf tersebut adalah soal akidah (ideologi) Islam. Sebab, menurutnya, menggugurkan kepercayaan agama lama dan menggenapkan keyakinan Islam di hari muallaf adalah tugas utama yang sangat penting dalam perjalanan keislaman seseorang.

 

“Islam yang dipegang teguh para muallaf jangan sampai hanya  80 persen, 90 persen tapi 100 persen. Sebab, kalau mereka berada dalam dua kaki, tentu untuk memasukan pelajaran Islam akan susah, bahkan bisa menyimpang. Karena keragu-raguan akan mudah diselewengkan ke arah yang merusak yang mana hal itu bukan jati diri sesungguhnya Islam,” paparnya.

 

Pendidikan simultan diluar akidah, para muallaf juga dibina untuk dapat baca tulis alquran, sunah, fikih, bahasa arab dan sumber agama Islam lainnya yang bermuara pada pemahaman akidah yang benar. Apa akidah yang benar itu? Akidah yang mengarah pada alquran dan sunah Rosulullah Muahmmad Alaihisalam.

 

“Barometer rukjukan utama kami disini adalah dua kitab itu, kita tidak boleh termakan opini, seoalah-olah organisasi lebih utama dari alquran dan sunah. Karena orang yang mengikuti alquran dan sunah-sunah rosul adalah akidah yang selamat,” ucapnya.

 

Dalam kesempatan itu, Nababan juga menyatakan, Islam adalah agama anti kekerasan dan  anugerah bagi seluruh alam. Sehingga, kalau ada orang Islam yang melakukan tindak kekerasan jangan pernah dihubungkan dengan agama. Sebab, pemahaman agama yang dangkal akan membahwa pada kerusakan. “Sesuai namanya, Islam artinya, damai, selamat, bahagian dan tentram. Hal ini pula yang terus kami yakinkan kepada para muallaf di sini,” pungkasnya.

 

Minim Perhatian Pemerintah

Sebagai sebuah institusi pendidikan non formal, Pesantren Pembinaan Muallaf, Yayasan Annaba Center sejatinya bertujuan melahirkan pribadi-pribadi Muslim yang kaffah, berkarakter serta berjiwa kemandirian. Sayang, hingga dua tahun berdirinya pesantren ini, belum satupun ada kepedulian pihak manapun dalam mengembangkan muallaf ini sebagai salah satu kekuatan Islam.

 

Melihat kondisi itu pula, maka tak heran jika perhatian terhadap para mualaf ini semakin jauh terasa dari tahun ke tahun. Keberadaan mereka terabaikan baik oleh pemerintah dalam hal ini kementerian Agama maupun oleh organisasi-organisasi Islam yang ada. Padahal mereka adalah sekelompok umat yang disebutkan dalam al-Qur'an sebagai entitas yang wajib dibina dilindungi, diperhatikan nasib mereka setelah masuk Islam.

 

“Sejak awal membangun pesantren ini, kami berjuang sendirian. Dananya pun berasal dari sumbangan muallafin lain yang cukup kaya. Melihat perkembangannya, kami sangat berharap ada sentuhan pemerintah dan juga kaum muslimin lainnya agar kelangsungan hidup para muallaf ini lebih terjamin,” harapnya.

 

Harapannya pula, kedepan keberadaan Yayasan Annaba Center tidak hanya sekedar untuk mengisi kekosongan peran pembinaan mualaf, tetapi juga untuk mengefektifkan kerja-kerja pembinaan mualaf secara lebih baik dan bisa dilakukan semua pihak yang bergerak dibidang keislaman. “Alhamdulilah, saat ini kami masih bisa berjalan dengan kemandirian. Namun, besar pula harapan kami tiap ummat Islam bisa membantu perjuangan kami ini,” imbuhnya.

(Juft/Banten F)

Tags: 
Category: 


from Khazanah http://www.konfrontasi.com/content/khazanah/mari-melihat-dari-dekat-pesantren-khusus-penggodokan-dan-pembinaan-para-mualaf
via IFTTT


Tidak ada komentar:

Write a Comment

Komentarlah dengan kata yang baik, bijak dan jelas


Ke atas
close