LUIS: Lebih dari Persekusi, Pembubaran Pengajian Saat Ramadhan Bisa Sulut Konflik Horizontal

SOLO (Panjimas.com) – Pembubaran paksa acara bedah buku dan buka puasa bersama para mualaf hingga ditangkapnya Sekjen Komisi Nasional Anti Pemurtadan (KNAP), Ustadz Bernard Abdul Jabbar, di Cirebon oleh  Polres Cirebon, pada Ahad (18/6/2017), terus menuai kecaman umat Islam.

Pasalnya, peristiwa itu bisa menodai kesucian bulan Ramadhan, ketika umat Islam tengah khusyu’ menjalankan ibadah puasa.

Endro Sudarsono, Tokoh Laskar Umat Islam Surakarta (LUIS), yang pernah merasakan pahitnya hidup di balik terali besi, ikut angkat bicara.

LUIS menegaskan tidak bisa menerima tindakan pembubaran pengajian serta penangkapan Ustadz Bernard Abdul Jabbar bersama beberapa aktivis Islam lainnya.

“Penangkapan Ustadz Bernard dan Andi Mulya semestinya tidak perlu terjadi karena tidak ada alasan dan dasar hukum sebagai pembenar dilakukan penangkapan terhadap mereka,” kata Endro Sudarsono, humas LUIS.

LUIS meminta kepada Kapolres Cirebon segera membebaskan Ustadz Bernard yang merupakan mantan misionaris Kristen itu. Kejadian semacam ini, menurut Endro, menjadi preseden buruk di mata dunia, mengingat Indonesia merupakan negara Muslim terbesar dunia.

“Kepada Kapolres Cirebon, segera membebaskan atau melepaskan Ustadz Bernard Abdul Jabbar. Dan kami berharap tidak ada lagi kegiatan pembubaran paksa oleh aparat atau Ormas terkait kegiatan keagamaan,” ungkapnya.

Tindakan pembubaran pengajian dan buka puasa bersama di masjid saat Ramadhan ini, menurut LUIS lebih dari tindakan persekusi. Ia juga khawatir persoalan akan melebar dan menyulut konflik horizontal, ketika ada Ormas seperti Gerakan Masyarakat Bawah Indonesia (GMBI) dan Macan Ali diduga ikut terlibat dalam tindakan tersebut.

“Jika tidak segera ada penjelasan, penyelesaian yang cepat dan tepat kami khawatir persoalan melebar. Keterlibatan GMBI dan Macan Ali bersamaan dengan aparat yang dihadapkan dengan jamaah kajian sudah mengadu domba,” tutupnya.

Untuk diketahui, Bedah buku sekaligus Buka Puasa bersama para muallaf dan Aktivis Anti Pemurtadan yang diadakan oleh forum silaturahmi umat & Alumni 212 Se-Cirebon Raya hari ini tanggal Ahad, (18/6/ 2017) dengan pemateri Ust. Bernard A Jabbar mendapat penolakan dan tekanan dari aparat.

“Semula acara ini bertempat di masjid  Pertamina Klayan namun di pindah ke masjid Baiturrohim kota Cirebon akibat adanya penolakan dari Presdir Pertamina, pihak Kristen terutama para Pendeta dan Polda, namun setelah di pindah tempat, ternyata tetap masih ada intervensi dari aparat yang arogan meminta agar acara dibatalkan,” ujar staff Komnas Anti Pemurtadan, Rifai Iwan.

Apabila tetap dilaksanakan maka mereka akan mengerahkan seluruh pasukan dan akan memproses seluruh orang yang ada di dalam masjid, hingga saat ini masih diupayakan untuk negosiasi dengan Kapolres agar acara tetap terlaksana namun dengan format yang berbeda, bukan bedah buku akan tetapi hanya santunan dan buka puasa bersama.

Namun pihak aparat tetap tidak mau bernegosiasi, dan tepat pukul 12.43 WIB banyak anggota polisi disertai Ormas GMBI dan Macan Ali datang langsung membentuk formasi mengepung Masjid Baiturrohim, ketika salah satu dari kami (Ust. Andi Mulya) keluar pintu masjid beliau langsung ditarik dan dipaksa untuk masuk ke dalam mobil, kemudian diikuti dengan semua panitia beserta Ust Bernard Abdul Jabbar selaku pemateri juga ikut di bawa ke Polres Cirebon Kota. [SY]

from Panjimas http://www.panjimas.com/news/2017/06/18/luis-lebih-dari-persekusi-pembubaran-pengajian-saat-ramadhan-bisa-sulut-konflik-horizontal/
via IFTTT


Tidak ada komentar:

Write a Comment

Komentarlah dengan kata yang baik, bijak dan jelas


Ke atas
close