INSIST: Meski Kolonialisme di Indonesia Hilang, Praktiknya Masih Ada

KIBLAT.NET, Jakarta – Peneliti dari Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSIST), Alwi Alatas menjelaskan cara kolonial mendiskreditkan Islam di Indonesia pada masa itu. Ia menjelaskan, kolonial selalu membatasi amalan yang biasa dilakukan umat Islam, salah satunya haji.

“Ada batasan dari kolonial yang diberikan pada umat Islam karena dinilai memberikan ancaman. Misalnya kebijakan haji pemerintah Belanda abad 19. Orang haji harus mendaftar dengan menyetor uang 110 gulden,” katanya dalam diskusi di Gedung DPR RI, Jakarta pada Kamis (08/07).

“Tujuannya bukan cari uang, tapi karena orang yang memberontak kebanyakan bergelar haji,” sambungnya.

Selain haji, amalan lain yang dibatasi yaitu zakat. Ia menjelaskan, soal zakat belanda meminta kepada umat Islam untuk sukarela. Tidak diwajibkan.

“Alasannya ada penyelewengan dari pengumpul zakat. Semua itu tujuannya tidak menghapus praktik umat Islam, tapi menghalangi praktik-praktik yang menimbulkan fanatisme Islam,” tuturnya.

Alwi juga mengatakan bahwa meskipun kolonialisme sudah tidak ada, ia menjelaskan masih ada kebijakan yang tidak berkeadilan pada umat Islam.

“Walaupun kolonialisme tidak ada, kadang muncul kebijakan umat Islam merasa diperlakukan tidak adil. Seperti dipertentangkan dengan pancasila, kebhinnekaan. Ini tidak lepas dari kebijakan kolonial Belanda,” tegasnya.

Walapun sudah merdeka, kata dia, tidak seharusnya hal-hal terdapat di kolonialisme masih berlaku. “Walaupun bentuknya berbeda,” tandasnya.

Reporter: Taufiq Ishaq
Editor: M. Rudy

The post INSIST: Meski Kolonialisme di Indonesia Hilang, Praktiknya Masih Ada appeared first on Kiblat.



from Kiblat /2017/06/09/insist-meski-kolonialisme-di-indonesia-hilang-praktiknya-masih-ada/
via IFTTT

close