Hati dan Jiwa Bung Karno Tertambat di Mesjid

KONFRONTASI -  Masjid tidak boleh jauh dari politik, bahkan Bung Karno melaksanakan Maulid di Istana. Jadi Islam itu menyatu dengan proses-proses politik kebangsaan.

Dibuangnya Bung Karno ke Bengkulu pada 1938-1942 membawa hikmah sendiri bagi masyarakat setempat. Lewat tangan dingin murid dari HOS Tjokroaminoto ini, masjid itu direnovasi.

Bung Karno yang kerap singgah di masjid untuk menunaikan shalat semasa mengajar di sekolah Muhammadiyah pun prihatin dengan kondisi masjid. Bangunannya rusak dan langit-langitnya bocor. Tidak mengherankan jika bahan bangunan masjid memang masih berasal dari kayu dan beratap rumbia.

Pada mulanya, masjid ini terletak di Kampung Bajak, dekat dengan lokasi makam Sentot Ali Basya, teman seperjuangan Pangeran Diponegoro. Namun akhirnya, dipindahkan ke Jalan Soeprapto.

Bung Karno pun merekonstruksi sesuai filosofi ajaran Islam. Misalnya, dari segi atapnya dibuat bentuk limas dengan tiga lapisan yang menyimbolkan iman, Islam, dan ihsan.

Sekretaris Dewan Masjid Indonesia (DMI) Imam Ad Daruqhutni menjelaskan, Bung Karno membuat atap masjid itu dari bahan seng karena untuk meminimalisasi risiko bencana alam. "Ini termasuk kokoh juga, seng di atasnya tidak genteng karena bahaya," kata dia saat berbincang dengan Republika.co.id, pekan lalu.

Menurut Imam, proklamator itu  merupakan seorang santri dari salah satu kiai yang merupakan seorang pembaru, HOS Tjokroaminoto. Karena itu, Sukarno merupakan sosok yang menguasai ajaran Islam, yang kemudian diaplikasikan dengan cara membuat monumen masjid untuk menggambarkan kebesaran umat Islam Indonesia.

Imam mengatakan, dengan belajar Islam kepada Tjokroaminoto, Bung Karno pun semangat untuk mendirikan masjid. Tidak hanya di Indonesia, tetapi juga ingin berperan dalam pemberdayaan masjid di luar negeri.

"Khusus yang berkaitan dengan masjid, Sukarno ingin menunjukkan bukan hanya soal bangunan masjidnya yang besar, melainkan kebesaran umat Islam sekaligus difisikkan seperti itu, bahwa Indonesia ini memiliki umat Islam yang besar, dalam artian juga berjiwa besar," ujar Imam.

Sejarah mencatat, Bung Karno juga aktif membangun masjid saat menjabat sebagai presiden. Pendiri Partai Nasional Indonesia (PNI) ini bahkan membangun masjid terbesar se-Asia Tenggara, yakni Istiqlal. Reputasi Istiqlal pun tidak lekang hingga sekarang.

Pada 1956, Bung Karno pun melawat ke Uni Soviet dalam rangka kunjungan kenegaraan. Dia menyempatkan diri untuk mampir ke Leningrad, nama Kota St Petersburg, ketika itu. Dikutip dari artikel berjudul “Masjid Biru St Petersburg, Saksi Sejarah Manisnya Hubungan Indonesia-Soviet di Era 50-an” karya Fauzan Al Rasyid, kolumnis Russia Beyond The Headline (RBTH), kota ini memiliki arsitektur nan memesona. Letaknya di delta Sungai Neva membuat kota ini sempat menjadi rebutan banyak negara. Di sini pun banyak berdiri istana megah. Saat melintasi Trinity Bridge yang melintangi Sungai Neva, Bung Karno sempat melihat sebuah bangunan berkubah mirip dengan masjid.

Dengan kubah birunya, bangunan ini memiliki gaya khas arsitektur Asia Tengah. Dua menara kembarnya yang menjulang tinggi berhadapan dengan beberapa gereja di sekitarnya. Saat itu, Sukarno mengalkulasi: jika bangunan itu sebuah masjid, pasti mampu menampung lebih dari 3.000 jamaah untuk beribadah.

Sukarno pun mengajak rombongan mendatangi bangunan itu. “Sejumlah jadwal kunjungan Presiden Sukarno yang telah disusun ke Leningrad dibatalkan,” cerita imam Masjid Biru Sankt Petersburg Zhapar N Panchaev kepada Fauzan.

Bangunan itu ternyata memang sebuah masjid. Pada masa rezim komunis berkuasa, semua masjid dan gereja memang bertukar fungsi menjadi gudang. Salah satunya adalah masjid biru yang disaksikan Bung Karno. Masjid ini menjadi gudang untuk berbagai kebutuhan setelah Perang Dunia II.

Setelah kunjungannya ke masjid tersebut, Sukarno kemudian bertemu pemimpin Soviet, Nikita Khruschev. Saat Khrushchev bertanya bagaimana kesan Sukarno mengenai Leningrad, sang presiden malah membahas kondisi Masjid Biru yang baru ia kunjungi.

Sukarno meminta masjid ini dikembalikan sesuai fungsinya. Hanya 10 hari setelah kunjungan Presiden Sukarno, bangunan ini kembali menjadi masjid. Pada 1980, masjid ini pun mengalami pemugaran besar-besaran. Hingga kini, kemegahan Masjid Biru bisa dinikmati masyarakat Rusia dan dunia.

Mesjid Salman ITB, Bandung

 

Sukarno dan Masjid Salmat ITB

Menurut Imam, Bung Karno juga tidak lepas dari pembangunan masjid di Amerika Serikat. Sejarah mencatat presiden pertama dan proklamator kemerdekaan Indonesia ini juga pernah singgah dan shalat di Masjid Islamic Center Washington DC.

Dia menjelaskan, Bung Karno juga merupakan salah satu penyumbang terbesar terhadap masjid itu. "Termasuk Bung Karno itu penyumbang terbesar di Masjid Islamic di Washington juga. Kalau Arab Saudi pertama, Bung Karno nomor duanya," ujar dia.

Imam menambahkan, Bung karno memikirkan masjid-masjid tersebut juga tidak jauh dari politik. Menurut dia, Bung Karno melihat masjid tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat yang berkaitan dengan perkembangan politik kebangsaan.

Ia mengungkapkan, gagasan Bung Karno ini juga luar biasa, tetapi akhir-akhir ini mulai ditinggalkan. Dia mengatakan, Bung Karno bukan merupakan orang spekulan, melainkan negarawan yang betul-betul memikirkan Islam dari sejarah dan perannya dalam sejarah.

"Masjid tidak boleh jauh dari politik, bahkan Bung Karno melaksanakan maulid di Istana. Jadi Islam itu menyatu dengan proses-proses politik kebangsaan itu, ini gagasan yang akhir-akhir ini ditinggalkan," katanya menjelaskan.

Ahli sejarah Islam Muhammad Jazir ASP menjelaskan, Bung Karno sempat berkali-kali membuat konsep pembangunan masjid. Beberapa di antaranya selesai pada masa pemerintahan Soeharto.

Selain tiga masjid di atas, Sukarno juga menyutujui berdirinya Masjid Syuhada Yogyakarta dan Masjid Salman ITB. Menurut Jazir, masjid-masjid besar yang mendapat sentuhan tangan Bung Karno memiliki landasan filosofi yang kuat. Dimulai dengan Masjid Syuhada yang berarti pejuang, untuk mengenang jasa para pejuang yang syahid. Mereka berhasil memenangkan pertempuran senjata di Kota Baru, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Pengorbanan para syuhada ini membuat cita-cita kemerdekaan bisa tercapai. Untuk itu, dibangunlah Masjid Istiqlal di Ibu Kota yang bermakna merdeka. Maknanya setelah ada pengorbanan dari para pejuang maka lahir kemerdekaan.

Kemudian, untuk menciptakan negara yang aman, tenteram, maju, dan penuh kasih sayang adalah dengan mendidik masyarakat agar bisa menjadi warga negara yang baik. Simbolnya adalah Masjid Salman ITB. Karena selain berdiri di kampus, masjid tersebut diberi nama sahabat Nabi, Salman Alfarisi, yang tidak lain merupakan seorang arsitek cerdas.(Juft/Rol)

Category: 


from Tokoh http://www.konfrontasi.com/content/tokoh/hati-dan-jiwa-bung-karno-tertambat-di-mesjid
via IFTTT


Tidak ada komentar:

Write a Comment

Komentarlah dengan kata yang baik, bijak dan jelas


Ke atas
close