Demi Membela Kafir Dzimmi, Ulama Tabiin ini Rela Berkelahi dengan Polisi

KIBLAT.NET – Adalah ‘Amir bin Abdullah At-Tamimi, selain dikenal dengan sosoknya yang zuhud, tokoh tabi’in ini juga terhitung tokoh ulama yang cukup tegas terhadap siapapun yang berbuat zalim. Nama lainnya adalah ‘Amir bin Qais, beliau adalah salah satu ulama qurra’ yang cukup tersohor di kota Basrah.

Kedudukan ‘Amir sama seperti kedudukan para da’i. Dia senantiasa mengatakan kebenaran sebagaimana yang telah kami sebutkan, dan di jalan Allah dia tidak pernah takut cercaan orang-orang yang mencela.

Suatu saat ketika ‘Amir sedang berjalan-jalan di kota Basrah, tiba-tiba ia melihat polisi sedang mencekal leher seseorang hingga hampir saja orang itu tercekik oleh kedua tangannya. Sementara polisi yang lainnya tengah membantu temannya dalam menyeret laki-laki itu dengan kekerasan dan kekuatan.

Maka ‘Amir pun mendekati laki-laki tersebut, lalu dia mendengar laki-laki itu berkata, “Lindungilah aku, wahai kaum muslimin. Lindungilah seseorang dari ahli dzimmah (kafir dzimmi) ini.”

Maka ‘Amir mendatanginya seraya bertanya, “Apakah ada kewajiban upeti yang harus engkau bayarkan?”

Dia menjawab, “Tidak, aku telah membayarnya. Akan tetapi, lindungilah aku dari laki-laki ini.”

Maka ‘Amir pun memalingkan mukanya kepada polisi itu seraya berkata, “Tinggalkanlah dia dan

urusannya.” Namun, polisi itu menolak seraya berkata, “Aku tidak akan meninggalkannya sampai dia datang ke kebun milik kepala kepolisian di Basrah untuk membersihkannya.”

‘Amir pun berkata kepada kafir dzimmi itu, “Mengapa engkau tidak pergi saja bersamanya untuk menunaikan apa yang diminta darimu?”

Laki-laki itu menjawab, “Aku tidak bisa karena di pundakku ada beberapa orang anak sehingga aku harus berkerja untuk memberi makan mereka. Sedangkan pekerjaan ini menyibukkan aku dari usaha mencari nafkah, serta melemahkan kekuatanku yang telah aku simpan demi makanan anak-anakku.”

Maka ‘Amir berkata kepada polisi itu, “Tinggalkanlah dia dan urusannya.” Namun, polisi itu menolak permintaan ‘Amir.

‘Amir pun berkata, “Apakah engkau berniat akan melanggar perjanjian Mauhammad Rasulullah? Demi Allah, perjanjian Muhammad itu tidak akan pernah dilanggar selama aku masih hidup.” Lalu ‘Amir menyerang polisi itu dan membebaskan laki-laki kafir dzimmi dari cengkeraman kedua tangannya dengan kuat, lalu dia melepaskannya seraya berkata, “Pergilah untuk mencari nafkah bagi keluargamu.”

Peristiwa itu pun sampai kepada gubernur Basrah sekaligus kepala kepolisian di sana. Maka dia pun menuduh ‘Amir telah melakukan pembangkangan terhadap pemerintah yang kemudian ditafsirkan bahwa dia telah keluar dari sunnah dan jama’ah. Lalu perkara itu diajukan kepada khalifahnya kaum muslimin Utsman bin ‘Affan adi Madinah.

Maka Utsman memerintahkan gubernurnya di Basrah untuk memanggil ‘Amir dan memeriksa kebenaran perkara yang dituduhkan kepadanya, lalu memberitahukan kepadanya setelah selesai pemeriksaan. Maka didatangkanlah ‘Amir bin Abdullah ke hadapan gubernur Basrah, lalu gubernur berkata kepadanya, “Amirul Mukminin Utsman bin ‘Affan memerintahkan kami untuk memeriksa kebenaran berbagai perkara yang dituduhkan kepadamu.”

‘Amir bertanya, “Perkara apakah yang dituduhkan kepadaku itu?”

Gubernur menjawab, “Bahwa engkau tidak menikahi wanita, tidak makan keju, serta menghindari pintu-pintu rumah para penguasa dan tidak mau menghadiri majelis mereka.”

‘Amir pun berkata, “Yang pertama; supaya wanita tidak menyibukkan aku dari berzikir kepada Allah karena aku adalah seseorang yang hanya memiliki satu jiwa sebagaimana yang telah aku sebutkan sebelumnya, dan aku takut istriku akan menguasai diriku. Akan tetapi, aku bersaksi bahwa tidak ada kerahiban dalam agama (Islam).”

Yang kedua; karena aku berada di wilayah kediaman orang-orang Yahudi yang menyembah api dan matahari, mereka membuat keju, sementara mereka adalah suatu kaum yang tidak membedakan antara bangkai dan binatang yang disembelih. Aku khawatir jika keju itu terbuat dari kambing yang tidak disembelih dan tidak disebutkan nama Allah kepadanya. Namun, apabila datang seseorang yang dapat memberikan kesaksian bahwa keju itu berasal dari kambing yang disembelih dan disebutkan nama Allah kepadanya maka aku akan memakannya dan tidak menghindarinya.

Adapun yang ketiga; karena di pintu-pintu rumah para penguasa banyak orang yang sedang mengajukan permohonan untuk keperluannya, sedangkan aku bukanlah bagian dari mereka. Maka panggillah orang-orang yang memiliki keperluan kepada kalian dan penuhilah segala kebutuhan mereka, namun tinggalkanlah orang yang tidak memiliki keperluan dengan kalian.” (Târîkh Ibnu ‘Asakir (368-370). Al-Hilyah(II/114).Ath-Thabaqat (VII/103-107)

Semua jawaban itu pun sampai kepada Utsman maka dia pun memaafkannya. Akan tetapi, para gubernurnya di Irak tidak puas dengan hal itu maka muncullah perselisihan di antara orang-orang yang menyukai ‘Amir dan para pembelanya dengan orang-orang yang memusuhinya.

Oleh karenanya, Utsman memerintahkan untuk memindahkan ‘Amir ke Syam, dan dia berwasiat kepada Mu’awiyah agar menghormati dan melindunginya.

Penduduk Basrah pun semuanya keluar untuk mengucapkan salam perpisahan kepadanya, dan para sahabatnya pun berjalan berbondongbondong untuk mengantarkan kepergiannya. Hingga ketika mereka sampai di suatu wilayah yang bernama Marbad, ‘Amir berhenti untuk mengucapkan selamat tinggal kepada mereka seraya berkata, “Wahai saudara-saudaraku sekalian, aku akan berdoa maka katakanlah âmîn.”

Lalu dia mengangkat kedua tangannya seraya berkata dengan suara nyaring, “Ya Allah, siapa yang telah memfitnah aku, berbohong atas namaku, dan telah mengeluarkan aku dari negeriku sendiri, serta telah mencerai-beraikan antara aku dan saudara-saudaraku maka perbanyaklah hartanya, sehatkanlah tubuhnya, dan panjangkanlah umurnya.” (Târîkh Ibnu ‘Asakir(368-369). Syar A’lâmin Nubalâ’(IV/18-19)

Demikianlah toleransi dari orang-orang yang memiliki kemauan keras, dan pemaafan dari orang-orang yang zuhud terhadap dunia dan para penguasa. Mereka menjauhkan diri dari membalas dendam dan membalas keburukan dengan keburukan yang serupa. Melainkan keburukan dari orang-orang yang didera kebodohan itu tidaklah dihadapi kecuali dengan kebaikan dari orang-orang yang memiliki kekhusyukan dan kemauan yang keras.

Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada ‘Amir. Karena dalam peristiwa tersebut dia telah memberikan contoh kepada kita tentang memaafkan, keluhuran dan ketinggian jiwanya, serta rendahnya kebodohan dan orang-orang yang bodoh.

 

Fakhruddin

Dikutib dari buku: Kisah Para Tabi’in Karya Abdul Mun’im Al-Hasyimi, Penerbit Aqwam, Solo

The post Demi Membela Kafir Dzimmi, Ulama Tabiin ini Rela Berkelahi dengan Polisi appeared first on Kiblat.



from Kiblat /2017/06/20/demi-membela-kafir-dzimmi-ulama-tabiin-ini-rela-berkelahi-dengan-polisi/
via IFTTT

Daftar dan dapatkan update terkini melalui email.: