Boikot Qatar; Peran Migas Indonesia hingga Isu Syiah

KIBLAT.NET Dunia dikejutkan oleh gejolak baru di Timur Tengah, saat Qatar diisolasi oleh empat negara tetangganya. Saya tidak ingin membahas alasan di belakangnya, karena sudah cukup banyak analisis para pakar. Mari kita bahas hal-hal lainnya, agar kita punya gambaran utuh tetang siapa itu Qatar, bagaimana Qatar bisa seperti sekarang, apa yang bisa kita perbuat untuk berperan aktif dalam menurunkan ketegangan, serta pelajaran-pelajaran yang bisa dipetik dari krisis ini.

Mengenal Qatar
Nama Qatar pastinya sudah akrab di telinga kita. Sirkuit MotoGP Losail dan World Cup 2022 adalah sedikit alasannya. Tetapi  sangat mungkin, kita belum tahu hal-hal mendasar tentang Qatar.

Qatar terletak di Gulf (Teluk) Arab, atau Teluk Persia kalau saya belajar di sekolah dulu. Negara-negara yang memiliki akses ke Teluk ini adalah Qatar, Saudi, Emirates, Bahrain, Kuwait, Oman, Iraq dan Iran. Mungkin disini perbedaan kenamannya. Orang Arab tentu saja lebih suka menamainya Teluk Arab, sementara Iran lebih menyukai Teluk Persia.

Kecuali Irak dan Iran, negara-negara Teluk ini membentuk persatuan regional Gulf Cooperation Council (GCC), semacam ASEAN-nya Teluk, lah.

Selain Omani, perawakan masyarakat GCC  semuanya mirip-mirip, karena secara historis mereka sebenarnya satu rumpun. Nasionalisme Arab-lah, menjelang runtuhnya Khilafah Utsmaniyah, yang membuat mereka terpecah jadi beberapa negara. Maka jangan heran, kalau marga sama, tetapi kewarganegaraan bisa berbeda. Nama-nama seperti Al-Shahry, Al-Sulaiti, Al-Qahtani, bisa kita jumpai di tiap-tiap negara GCC.

Simbol persatuan negara-negara Teluk

Tidak banyak yang tahu, kalau Indonesia sebenarnya sangat berperan dalam menjadikan Qatar seperti sekarang. Saat ditemukan sumber gas tahun 90-an, Qatar melobi dua negara. Jepang diminta memodali pendirian pabrik LNG, dan Indonesia diminta sebagai operatornya. Maka tahun 1995, berangkatlah rombongan pertama dari Arun LNG (Aceh) menjalankan pabrik di sana. Hingga singkat cerita, Qatar menjadi produsen LNG terbesar saat ini, 77 juta ton per tahun (MTPA).

Peran dan Posisi Qatar di kawasan Timur Tengah
Qatar bisa dikatakan sebagai negara paling damai dan paling makmur di kawasan Timur Tengah. Qatar mampu mengantisipasi gelombang Arab Spring dengan baik, sehingga tidak ada gejolak dalam negeri.

Transisi kekuasaan dari Sheikh Hamad ke Sheikh Tamim tahun 2013 juga berlangsung mulus dan bisa dibilang tanpa political dan social cost. Sheikh Tamim sebagai pemimpin negara termuda GCC (33 tahun waktu itu), juga segera mampu beradaptasi dengan para koleganya yang berusia jauh diatasnya, rata-rata diatas 60 tahun.

Dalam hal agama, Qatar mampu merepresentasikan Islam moderat, modal penting untuk menjembatani dialog peradaban Islam dan Barat secara proporsional. Dibanding Arab Saudi yang konservatif, dan Emirates yang cenderung liberal, Qatar berada di tengah-tengahnya.

Secara Politik, Qatar juga memainkan peran yang unik. Mereka memfasilitasi berdirinya Pangkalan Militer Amerika di Al-Udaid, pada saat yang sama mengakomodir kelompok-kelompok yang menjadi musuh politik Amerika.

Qatar adalah safe house bagi para pemimpin Ikhwanul Muslimin dan Hamas. Tercatat Sheikh Yusuf Qardhawi dan Khalid Mesh’al menetap di sana. Mereka juga membolehkan Taliban membuka kantor Biro Politik mereka—sayang, saya tidak tahu pasti kantor ini masih buka atau sudah ditutup. Selain itu, mereka juga menjalin hubungan diplomatik dengan Iran.

Qatar memainkan peran aktif dalam menyikapi konflik kawasan. Mereka tegas menolak kudeta Al-Sisi dan mendukung penuh pemerintahan Erdogan. Menjadi sponsor utama pembebasan Palestina. Beberapa kali gaji pegawai pemerintahan Gaza dibayari Qatar. Sementara dalam konflik Suriah, Qatar terang-terangan mendukung oposisi. Mereka membiayai operasional kedutaan Suriah, yang sepenuhnya dijalankan kelompok kontra Assad.

Sikap-sikap politik yang banyak berseberangan dengan para tetangganya inilah, yang kemudian menjadi alasan Qatar dikucilkan.

Akankah Qatar bertahan?
Ada cerita guyon dari kawan, menyikapi blokade Qatar saat ini. Ketika meminta komentar kawan Qatari, dijawabnya enteng, bahwa blokade seperti ini adalah hal biasa. Ini yang ketiga sejak dia akil baligh katanya.

Blokade seperti ini tentunya menyulitkan Qatar. Impor bahan makanan, terutama yang dari Saudi terhenti. Penerbanganpun harus memutar, tidak boleh melewati wilayah udara tetangganya yang sedang mutung. Tetapi saya yakin, Qatar akan mampu bertahan.

Untuk sekedar bertahan hidup, mereka sudah memiliki program ketahanan pangan cukup baik. Banyak makanan dan minuman yang sudah dibuat sendiri. Di berbagai supermarket, mudah dijumpai rak-rak berlabel ‘Produk Nasional’.

Kementrian Ekonomi dan Perdagangan Qatar juga telah memiliki Contingency Plan (rencana tanggap darurat) yang baik, sehingga supply bahan pangan ke masyarakat tidak terganggu.

Qatar pastinya juga telah memperhitungkan resiko terburuk atas pilihan politiknya. Pemerintahan Qatar terkenal solid, sama sekali tidak ada kabar adanya friksi di antara The Ruling Family. Kondisi sosial GCC yang sebenarnya borderless, memudahkan para diplomat Qatar dalam bernegosiasi dengan para tetangganya. Kabarnya dua sponsor utama blokade ini, Saudi dan Emirates, mulai melunak. Ini tentu yang kita semua harapkan.

The post Boikot Qatar; Peran Migas Indonesia hingga Isu Syiah appeared first on Kiblat.



from Kiblat /2017/06/09/boikot-qatar-peran-migas-indonesia-hingga-isu-syiah/
via IFTTT

0 Response to "Boikot Qatar; Peran Migas Indonesia hingga Isu Syiah"

Post a Comment

Komentarlah dengan kata yang baik, bijak dan jelas

close