Bahaya Membenarkan Hukum Jahiliyah

KIBLAT.NET – Tauhid merupakan pokok dasar yang harus dipelajari oleh setiap individu muslim. Ia bagaikan pondasi yang mengokohkan sebuah bangunan, seluruh amal ibadah akan dibangun di atas pondasi tauhid. Karena itu, kelurusan dalam memahami makna tauhid menjadi penentu lurusnya amalan ibadah yang dilakukan hamba.

Secara istilah makna tauhid bisa diartikan menjadikan Allah sebagai satu-satunya sesembahan yang benar dengan segala kekhususan-Nya. Makna kekhususan di sini mencakup segala hal-hal khusus bagi Allah SWT sebagaimana yang telah diwahyukan dalam Al-Quran dan disampaikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

Di antara hal yang khusus bagi Allah Ta’ala adalah al hukmu wa at tasyri’ (kewenangan membuat hukum) yang tidak boleh disandarkan kepada selain-Nya. Allah Ta’ala telah menerangkan sifat dan hak khusus-Nya dalam masalah membuat hukum ini di dalam berbagai ayat dalam Al-Qur’an. Di antara firman-Nya adalah:

إِنِ الْحُكْمُ إِلاَّ لِلّهِ يَقُصُّ الْحَقَّ وَهُوَ خَيْرُالْفَاصِلِينَ

“….Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah. Dia menerangkan yang sebenarnya dan Dia pemberi keputusan yang paling baik.” (Qs. Al-An’am: 57)

Kewajiban Mengingkari Hukum Jahiliyah

Para ulama berpendapat bahwa di antara hal yang bisa membuat seseorang jatuh kepada kekufuran adalah berhukum kepada selain hukum Allah. Siapa pun yang memutuskan perkara dengan hukum yang berlawanan dengan hukum Allah atau berpedoman dengan hukum yang dibuat bukan atas landasan al-Qur’an dan As-sunnah (hukum jahiliyah), maka dia telah melakukan kekufuran kepada Allah Ta’ala.

Walaupun tidak semua pelakunya langsung divonis kafir—harus melewati proses kajian yang mendalam oleh ulama yang kapabel—, akan tetapi semua ulama kaum  muslimin sepakat bahwa berhukum kepada selain hukum Allah adalah salah satu bentuk kemaksiatan kepada-Nya.

Namun, terkadang ada orang-orang yang membela penguasa sekuler, mereka beranggapan bahwa meninggalkan hukum Allah bukanlah perkara yang besar. Orang-orang seperti ini biasanya mencoba mengaburkan fakta bahwa penguasa telah meninggalkan hukum Allah dan Rasul-Nya dengan berbagai cara.

Cara yang paling sering mereka gunakan adalah menggeserkan makna kafir dalam QS Al-Maidah 44 kepada pengertian kufrun duna kufrin (kekufuran di bawah kekufuran). Padahal konteks istilah kufrun duna kufrin yang digunakan oleh Ibnu Abbas, berbeda dengan konteks hari ini. Dahulu pemimpnnya adalah Ali bin Abi Thalib yang menjalankan penuh syariat Allah, sementara konteks hari ini adalah penguasa sekuler yang sama sekali tidak melihat kepada hukum Allah.

Namun demikian, para pebel penguasa sekuler tersebut tetap tidak bisa mencari dalil atau celah hukum untuk mengatakan bahwa berhukum dengan hukum thaghut tersebut bukan bentuk maksiat. Jadi, sekali lagi, terlepas dari perdebatan apakah berhukum dengan hukum Allah membatalkan keislaman, akan tetapi semua sepakat bahwa berhukum dengan selain hukum Allah adalah perbuatan maksiat.

Ingkar kepada Allah dalam hal berhukum merupakan satu kedurhakaan kepada-Nya. Keterangan ini disebutkan berulang kali di dalam ayat Al-Qur’an. Di antaranya:

فَلاَ وَرَبِّكَ لاَ يُؤْمِنُونَ حَتَّىَ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لاَ يَجِدُواْ فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجاً مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُواْ تَسْلِيماً

“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An-Nisa: 65)

 ثُمَّ جَعَلْنَاكَ عَلَىٰ شَرِيعَةٍ مِنَ الْأَمْرِ فَاتَّبِعْهَا وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَ الَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ

“Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama) itu, maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui.” (QS. AL-Jatsiyah: 18)

Keterangan serupa juga bisa ditemui dalam banyak hadits, yaitu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasllam menjelaskan ayat-ayat di atas. Atas dasar tersebut para ulama sepakat tentang keharaman berhukum dengan selain hukum syariat islam. Mereka juga bersepakat tentang haramnya menggantikan hukum syariat dengan aturan-aturan jahiliyah. Tidak ada satu pun yang mengingkarinya. Sebab, Allah memerintahkan hamba-Nya agar senantiasa berpegang kepada petunjuk hukum yang telah diturunkan dalam al-Quran.

The post Bahaya Membenarkan Hukum Jahiliyah appeared first on Kiblat.



from Kiblat /2017/06/16/bahaya-membenarkan-hukum-jahiliyah/
via IFTTT

0 Response to "Bahaya Membenarkan Hukum Jahiliyah"

Post a Comment

Komentarlah dengan kata yang baik, bijak dan jelas

close