Tak Tanggung-tanggung, Cina Gelontorkan USD 1 T Bangun Jalur Sutera Baru

KONFRONTASI -  China berharap dapat menghidupkan kembali “jalur sutra” dan menyiapkan program infrastruktur terbesar di dunia untuk menghubungkan Asia dan Eropa, proyek tersebut diperkirakan akan menelan biaya sebesar USD 1 triliun atau bahkan lebih.

 

China ingin  menciptakan kembali “Jalur Sutra” seperti halnya Marco Polo yang menghubungkan Eropa dan Asia. Tapi bukan jalur yang dilalui unta atau karavan untuk mengangkut rempah-rempah dan sutra ratusan tahun yang lalu, tapi China akan membangun sebuah jalur yang merupakan  jaringan perdagangan modern senilai USD 1,4 triliun.

Minggu (14/5), Presiden China Xi Jinping akan menjadi tuan rumah bagi 28 kepala negara pada pembukaan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) selama dua hari yang berfokus pada inisiatif “Belt and Road”.

Para analis memperkirakan proyek tersebut bakal menggeser pusat perekonomian global dan terkesan menantang tatanan dunia yang saat ini masih dipimpin Amerika Serikat.

Beijing berharap pertemuan tersebut akan menggalang dukungan internasional untuk rencana membangu Jalur Sutra baru tersebut.

Program kolosal yang direncanakan Xi 11 kali lebih besar dari yang dilakukan Marshall Plan AS, yang merekonstruksi Eropa pasca-Perang Dunia II.

Dapat dibayangkan betapa kolosal pembangunan Jalur Sutra baru yang diinginkan China, berupa rel dengan kereta kecepatan tinggi, pembangkit listrik, jaringan pipa, pelabuhan dan bandara serta jaringan telekomunikasi yang akan meningkatkan perdagangan antara China dan 60 negara di Asia, Eropa, Timur Tengah dan Afrika Utara.

Di antara peserta KTT yang datang sebagai tamu Xi Jinping adalah Presiden Rusia Vladimir Putin, serta para pemimpin Turki, Italia, Pakistan dan Filipina. Seorang menteri dari Korea Utara juga akan hadir.

Sementara itu, AS yang belakangan tampak melunak dalam hal perdagangan dengan China, dengan ditandatanganinya perjanjian perdagangan kedua negara pada 12 Mei lalu yang isinya solusi win-win bagi AS-China, juga akan mengirimkan delegasi ke KTT OBOR.

Delegasi AS dipimpin oleh Matt Pottinger, asisten khusus Presiden Donald Trump dan direktur senior untuk Asia Timur di Dewan Keamanan Nasional. AS mengirimkan delegasi untuk ikut mengamati berlangsungnya KTT tersebut. Namun, di tengah dikirimnya delegasi AS sejumlah pertanyaan timbul, seberapa serius AS mendukung inisiatif “Belt and Road” yang digagas China tersebut. Mengingat, posisi jabatan Pottinger yang relatif rendah.

“Belt and Road bisa memecahkan kesengsaraan global,” kata sebuah surat kabar Global Times yang dikelola pemerintah China.

“Rencana ambisius itu bukanlah omongan kosong,” demikian kantor berita resmi Xinhua menyatakan, menyoroti bahwa China telah menginvestasikan lebih dari USD 50 miliar di 20 negara di sepanjang rute tersebut, meliputi:

Proyek pelabuhan Gwadar di Pakistan, yang akan membuka rute perdagangan ke wilayah barat daya China di Xinjiang.

Pipa minyak China-Myanmar, yang telah memberi Beijing akses darat pertama ke minyak mentah Timur Tengah melewati titik di Selat Malaka.

Pelabuhan Piraeus yang dikuasai mayoritas China, yang akan berfungsi sebagai pintu gerbang maritim ke Eropa Tengah dengan jalur rel kecepatan tinggi Belgrade-Budapest yang sudah direncanakan.

Mantan Asisten Menteri Pertahanan AS Chas Freeman menggambarkan proyek Belt and Road sebagai “upaya rekayasa paling transformatif dalam sejarah manusia.”

Dia menyoroti, bahwa negara-negara yang terlibat merupakan sekitar 55 persen output ekonomi global, 70 persen populasi dunia dan sekitar 75 persen cadangan energi yang diketahui.

“Orang Amerika saat ini memahami kekuasaan dalam istilah militer yang hampir eksklusif, ironisnya,  kita percaya pada kekuatan pasar untuk membentuk peristiwa, dan Inisiatif Belt and Road bergantung pada pasar,” kata Freeman kepada NBC News.

Padahal “Ketidakpedulian Amerika” bukanlah jawaban atas tantangan strategis yang diajukan oleh inisiatif tersebut,” katanya.

“Jika kita tidak memanfaatkan peluang ekspor di tempat mereka (China dan inisiator lain), pekerjaan akan diserahkan ke pihak lain, bukan Amerika,” Freeman menambahkan.

“Belt and Road masih menjadi recana, namun jika disadari secara signifikan, semua jalan di Eurasia akan mengarah ke Beijing pada waktunya,” menurut Freeman.

“China akan menjadi pusat gravitasi ekonomi karena menjadi ekonomi terbesar di dunia,” tambahnya.

menurut Freeman, program “Belt and Road” memang tidak mencakup komponen militer, namun jelas memiliki potensi untuk meningkatkan geopolitik dunia dan juga ekonominya.

“Terlepas dari sikap pemerintah AS, perusahaan AS akan bergabung dengan Belt and Road jika ada uang yang harus dihasilkan,” kata Wang Yiwei, seorang profesor hubungan internasional di Universitas Renmin kepada NBC News.

“Ada pasar yang besar untuk teknologi AS, dengan memberi dampak pembangunan dan stabilitas ke Afghanistan dan bagian lain Asia Tengah, yang merupakan sarang terorisme, Belt and Road juga akan menguntungkan keamanan AS,” kata Wang.

Pada musim gugur tahun 2013, Presiden China Xi Jinping meluncurkan inisiatif “One Belt, One Road” (OBOR) raksasa yang lebih dikenal sebagai “Jalur Sutra Baru”.

Tujuannya adalah untuk meningkatkan konektivitas antara Asia, Eropa dan Afrika dengan membangun jaringan transportasi dan infrastruktur fisik lainnya seperti jalan, kereta api, pelabuhan laut dan jaringan pipa di berbagai negara di sepanjang rute “Jalur Sutra” kuno.

Proyek tersebut diharapkan dapat memfasilitasi peningkatan perdagangan antara China dan negara-negara sepanjang rute tersebut. Hal itu juga bisa menarik mereka lebih dekat ke Beijing.

Jumlah pasti negara-negara yang ikut dalam program ini belum begitu jelas, China mengklaim 65 negara telah menyatakan minat untuk bergabung. Di antara mereka yang akan ambil bagian dalam forum tersebut adalah pemimpin dari 29 negara dari empat benua, termasuk Presiden Rusia Vladimir Putin, pemimpin Turki Recep Tayyip Erdogan, Perdana Menteri Kamboja Hun Sen dan Presiden Kazakhstan Nursultan Nazarbayev.

Keikutsertaan Putin di KTT OBOR menunjukkan pentingnya Moskow menyetujui proyek tersebut. Rusia sangat tertarik untuk memastikan bahwa jalur kereta api yang direncanakan yang menghubungkan China ke Eropa melewati wilayah Rusia, dan bukan menghindarinya dan melewati negara-negara Asia Tengah.

Tapi, tidak semua negara setuju dengan proyek spektakuler China, di antara negara-negara yang telah secara terang-terangan menyatakan keberatan mereka terhadap inisiatif China tersebut adalah Jepang dan AS, meskipun belakangan AS memutuskan mengirim delegasi.

Hubungan antara Jepang dan China tegang karena terkait permusuhan historis satu sama lain dalam sengketa teritorial di Laut Cina Timur. Bagi PM Jepang Shinzo Abe, berpartisipasi dalam OBOR tidak mungkin lagi. Dengan Jalur Sutra baru, akankah China menjadi raksasa ekonomi dunia di masa depan? (Juft/Nus-News)

Tags: 
Category: 


from Politik http://www.konfrontasi.com/content/politik/tak-tanggung-tanggung-cina-gelontorkan-usd-1-t-bangun-jalur-sutera-baru
via IFTTT