» » » » Mampukah Jokowi Mengatasi Jusuf Kalla?

Mampukah Jokowi Mengatasi Jusuf Kalla?

Penulis By on Rabu, 17 Mei 2017 | No comments

KONFRONTASI- Bukan Prabowo, bukan SBY, bukan pula Anies-Sandi, apalagi rakyat Jakarta.  Pemenang sejati Pilkada DKI 2017 adalah Jusuf Kalla alias JK.  Tidak heran, dengan terbuka JK semakin berani dan lantang sekaligus mengejutkan dengan pernyataan-penyaan politik yang mengarah ke SARA.

Kekuatan “kelompok Paramadina” terasa lengkap di Jakarta yang akan datang setelah Sudirman Said pun tanpa malu-malu lagi ditarik kembali menjadi ketua tim sinkronasi. Perlu diketahui, Jusuf Kalla adalah ketua yayasan wakaf Paramadina, Sudirman Said dan Anies Baswedan adalah anggota, dan Sandiaga Uno adalah bendahara umum (sumber).

Kelompok inilah yang rupa-rupanya “dibersihkan Jokowi” dari kabinet melalui reshuffle-reshuffle yang ada. Dan rupa-rupanya JK membalas dengan mengambil alih Jakarta melalui tangan Prabowo, SBY, dan kelompok radikal. Di umurnya yang ke-75, JK terlihat sudah menjelma seperti “matahari lain” dibalik Jokowi. Sesuatu yang sudah diprediksi para relawan Jokowi yang menolak JK dan semakin jelas sekarang ini.

    Di umur yang sangat sepuh, ternyata ambisi politik JK bagaikan politikus muda yang baru lulus S3 politik. Dan sosok Anies yang memang adalah “anak kesayangan JK” semakin terasa sebagai manifestasi JK yang sempurna di dunia politik, oportunis-sektarian.

JK saat ini memiliki tiga kekuatan utama dalam masyarakat.  Pertama, JK memiliki kekuatan politik sebagai RI2. Sebagai Wapres, JK memiliki akses yang “hampir sama” dengan Jokowi sendiri. Kekuatan posisi legal JK ini didukung dengan posisi JK di Golkar yang sudah mengakar, dan harus diingat JK menjadi wakil Jokowi tentu ada tawar-menawar politik dengan PDI-P.  Satu hal lagi, kekuatan “jaringan Makassar” di yudikatif terlihat cukup signifikan, sehingga hampir sempurnalah posisi politis JK saat ini.

Kedua, grup bisnis JK melalui Kalla Group dan Bosowa adalah kekuatan bisnis yang semaking menggurita. Tidak heran Erwin Aksa sangat pongah dan terbuka dalam mendukung Anies, meskipun Golkar menyatakan mendukung Ahok.  Kekuatan uang mampu membeli siapapun dan apapun dalam dunia politik yang serba abu-abu dan remang-remang.

Yang ketiga, JK sangat mengakar dan memiliki kekuatan sosial (massa) melalui DMI (Dewan Mesjid Indonesia) dan PMI (Palang Merah Indonesia). Dan ini ditiru Anies melalui Indonesia Mengajar yang terbukti bersumbangsih besar dalam kemenangan di Pilkada DKI 2017.

Politik, Uang, dan Massa ketiga kekuatan utama ada di tangan si “Pak Tua”, JK.  Satu-satunya yang dia tidak punya hanyalah kursi kepresidenan.  Sebab itu, tidak berlebihan sebagai rakyat kita was-was, akankah pak JK nekat menggunakan semua kekuatannya untuk menggulingkan Jokowi?  Kita berharap tentunya JK tetap menunggu 2019 dan bertempur secara konstitusional di Pilpres 2019, apabila masih ingin jadi presiden.

***

Prabowo, SBY, TS (Tommy Soeharto), JK adalah 4 pemain utama yang melawan Jokowi – Ahok saat ini. Ketika mereka bersatu, Ahok yang dicintai rakyat pun terguling.  Akankah Jokowi mampu menahan laju kekuatan ini? Secara politik PDI-P adalah supporter utama Jokowi, Surya Paloh terlihat cukup konsisten mendukung Jokowi-Ahok sesudah pilpres 2014.  Yang lain, semua bermain kaki ganda, susah untuk ditebak kemana mereka akan berpihak.

Secara keuangan, Jokowi termasuk politikus miskin.  Keluarganya pun hanya jualan martabak kecil alias markobar. Tidak ada kekuatan uang yang signifikan untuk ukuran presiden.

Mungkin, kekuatan terbesar Jokowi tetap ada pada para relawan. Kekuatan yang sedang diuji kesolidannya karena kasus Ahok.  Riak-riak terlihat ada meskipun dalam taraf normal. #StandBehindJokowi menjadi indikasi bahwa para relawan Jokowi sedang menkonsolidasi diri.

    Peta sudah jelas, pertanyaannya tetap sama apakah Jokowi mampu mengatasi JK? Kali ini yang dihadapi bukan KMP (Koalisi Merah Putih), tapi KMP+ (KMP Plus).  JK lebih lihai dari Prabowo, karena dia belajar dari politikus sejati SBY selama 5 tahun.

Sekarang JK telah memiliki Anies sebagai panglima perang badar, sementara Jokowi kehilangan Ahok. Posisi yang sangat tidak menguntungkan, membuat rakyat kuatir dan menyalakan lilin harapan, berseru “Jangan hancurkan mimpi kami!”

***

Diamnya Jokowi adalah sebuah gaya politik yang konsisten dia jalankan. Jokowi hanya bertindak apabila dia yakin dan sudah menghitung semua. Apabila belum yakin dia akan diam menunggu waktu yang tepat. Demo 411 dia tidak muncul, demo 212 dia ambil panggung pendemo.  Manuver yang membikin kawan maupun lawan terbengong-bengong.

Ahok divonis penjara, Jokowi ke Papua dan ke China.  Papua adalah simbol dari kantong kristen, dan China adalah simbol yang sering dipakai untuk PKI.  Di China pun Jokowi khusus memperlihatkan dia memperhatikan orang-orang muslim disana.  Terlihat Jokowi sekali lagi mengirim pesan politik. Tapi dia tetap diam, berarti masih ada yang sedang dikonsolidasi dibelakang layar.

Peta lawan politik Jokowi sudah terbuka semua, Jokowi jelas sudah tahu sebelum kita. Setelah rakyat tahu, dan mengaminkan, maka biasanya Jokowi akan mengetuk palu, “Saya mau ini diselesaikan!”

Doa saya untuk Jokowi, Ahok, dan Indonesia, supaya bisa menang menghadapi ujian ini. (Pendekar Solo/Seaword)

Tags: 
Category: 


from Politik http://www.konfrontasi.com/content/politik/mampukah-jokowi-mengatasi-jusuf-kalla
via IFTTT
Baca Juga Berita/Artikel Terkait

Komentarlah dengan kata yang baik, bijak dan jelas