Islamis-Nasionalis bersatu jaga Ahlusunnah NKRI

Acara mudzakarah II Annas jadi ajang silaturahmi umat Islam di tanah air
Kepala Badan Intelijen Negara Daerah (Kabinda) Jawa Barat, Brigjen Dani Gautama, mengajak umat Islam Indonesia berjuang melawan ancaman negara oleh ideologi-ideologi berbahaya dan sesat.

Karena menurutnya, hal ini bisa berarti bagian dari membela Islam.

"Umat Islam sangat berperan dalam penegakan NKRI dengan melaksanakan segala perintah agama. Karena kan membela agama membela negara juga", ujar Dani, seusai menjadi pembicara mudzakarah Annas II di Bandung, Ahad (14/5).

Dani menjadi pembicara pada tema ancaman gerakan komunis yang kini dinilainya mencari-cari celah peristiwa 1965.

Para anasir dan simpatisan gaya baru, malu-malu ingin memutarbalikkan fakta, bahwa negara "yang salah dan melanggar HAM", melalui tuntutan di pengadilan asing baru-baru ini serta maraknya kampanye "playing victim".

Ia menegaskan, Komunis (maupun kelompok anti Tuhan dan agama) tak mungkin bisa diterima NKRI. PKI misalnya, mereka pernah mengaku-ngaku menerima Pancasila.

"Sangat berbahaya. Komunis itu tidak beragama, tidak mengakui adanya tuhan. Sedangkan NKRI kan negara Pancasila, sila pertama adalah Ketuhanan Yang Maha Esa, sebuah pengakuan terhadap Allah SWT", ungkapnya.

Saat mudzakarah, Dani mengapresiasi perjuangan umat Islam yang menolak Syi'ah dan Komunis demi kebaikan tanah air tercinta. Yang spontan disambut pekik takbir "Allahu Akbar" oleh peserta.

Terkait Syi'ah, Kabinda Jabar ini mengakui bahwa pihaknya turut melakukan pengawasan terhadap kegiatan sekte tersebut. Namun untuk bertindak secara hukum adalah domain polisi.

"Peranan kami memonitor, memetakan, mengetahui kegiatannya. Apabila kegiatan itu menyimpang dari dasar negara ya kami melaporkan pada yang berwenang, untuk ditindak atau dibubarkan", jelasnya.

Sama dengan Kabinda, Wakil Walikota Bandung, Oded Muhammad Danial, mengapresiasi mudzakarah yang menghadirkan berbagai elemen umat Islam ini.

Ditanya tentang Kota Bandung yang dijadikan "pusat" gerakan Syi'ah di Indonesia, ia menyatakan permintaan kepada tokoh agama dan masyarakat agar tak pernah lelah terus membimbing umat.

"Saya menghimbau, pertama kepada para ulama, mujahid, ustadz, dan aktivis dakwah Islam agar tidak ada satu hari pun tanpa kita mengingatkan kepada masyarakat betapa bahayanya aliran Syi'ah", katanya.

Oded menambahkan, pemerintah Kota Bandung berperan aktif mengkonsolidasikan berbagai elemen daerah untuk menangkal risiko adanya kelompok menyimpang.

"Peran kita yaitu harus meningkatkan rekonsiliasi solidaritas diantara penyelanggara pemerintah. Karena sesungguhnya dengan cara-cara seperti itulah kita berharap pemerintah kota bandung bisa mengantisipasi gerakan-gerakan sesat tadi... Yang akan mengancam NKRI", jelasnya.

Ia juga menegaskan, tugas pemerintah bukan hanya soal mengurus hal duniawi seperti kesejahteraan dan kenyamanan.

"Pemerintah hadir dalam rangka tiga hal: Pertama, memberikan kesejahteraan dan kebahagiaan pada rakyat, kedua yaitu memberikan keamanan dan kenyamanan, ketiga juga mengajak masyarakat untuk dekat pada Allah SWT", kata politisi PKS ini.

Mudzakarah Annas II dihadiri ratusan peserta dari berbagai daerah. Mengambil tema ancaman Syi'ah dan Komunis yang dianggap sebagai 2 kelompok dengan pemikiran mirip.

Yaitu menghalalkan segala macam strategi untuk meraih dukungan, seperti taqiyah (mengelabui) dan jebakan politik, namun setelah berkuasa semua pihak berbeda akan disingkirkan. (rslh)

from Risalah TV http://www.risalah.tv/2017/05/islamis-nasionalis-bersatu-jaga.html
via IFTTT
Sebarkan Lewat Google Plus

0 comments:

Post a Comment

Komentarlah dengan kata yang baik, bijak dan jelas

close