Tergesa-gesa dan Mengabaikan Tarbiyah Ruhiyah, Bencana Amal Islami

KIBLAT.NET – Manusia adalah makhluk yang sempurna. Selain diberi hawa nafsu sebagai fitrahnya sebagai manusia, juga dikaruniai akal oleh Allah. Akal di sini diciptakan untuk manusia agar dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Dengan demikian, manusia mampu bersikap menjadi makhluk yang beradab karena keberadaan akal di dalam dirinya.

Memperturutkan hawa nafsu adalah salah satu godaan terbesar bagi manusia. Terlebih bagi para aktivis atau abna’u shahwah islamiyah. Karena mana mungkin seorang mujahid dapat mengalahkan musuh-musuh Allah dalam pertempuran? Sedangkan ia tidak dapat mengendalikan dirinya sendiri?

Rasulullah bersabda

أفْضَلُ الْجِهَادِ أَنْ يُجَاهَدَ الرَّجُلُ نَفْسَهَ وَ هَوَاهُ

Artinya : Jihad yang paling utama adalah seseorang berjihad [berjuang] melawan dirinya dan hawa nafsunya. (Hadits shahih yang diriwayatkan Ibnu An-Najjar dari Abu Dzarr Radhiyallahu anhu. Juga diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dan Ad-Dailami)

Namun,terkadang para aktivis Islam dihadapkan dengan godaan nafsu yang lain. Bagi orang awam mungkin godaan hawa nafsu bagi mereka adalah soal perut dan apa-apa yang ada dibawahnya. Bagi aktivis dakwah ada godaan yang lain, yaitu masalah ketergesa-gesaaan.

Pelajaran Dari Ketergesa-gesaan Sebagian Sahabat

Generasi sahabat adalah generasi terbaik umat ini. Generasi ini adalah generasi yang paling istimewa. Karena mereka adalah sekelompok manusia yang pendidikannya langsung di bawah Rasulullah. Setiap tindak-tanduk mereka berada di bawah pengawasan Nabi sehingga jika mereka berbuat kesalahan, Rasulullah akan meluruskannya berdasar petunjuk dari Allah.

Di saat Al-Quran masih turun, sebagian dari orang yang beriman saat itu ada yang menginginkan ayat turun memberikan pembenaran dan izin kepada mereka untuk melakukan tindakan sesuai kehendaknya. Mereka menghendaki Allah membenarkan dan melegitimasi keinginannya.

Akan tetapi, hikmah ilahiyah menghendaki  lain. Menetapkan apa yang mesti ditetapkan sesuai dengan ilmu-Nya yang terkadang tidak terjangkau akal manusia.Yaitu dengan menunda apa-apa yang ingin manusia segerakan. Sikap sebagian orang yang beriman di masa itu diabadikan oleh Allah dalam Al-Quran.

Allah berfirman

 

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ قِيلَ لَهُمْ كُفُّوا أَيْدِيَكُمْ وَأَقِيمُوا الصَّلاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ

Artinya : Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka: “Tahanlah tanganmu (dari berperang), dirikanlah sembahyang dan tunaikanlah zakat!” ….(An-Nisa ; 77)

 

Dalam tafsir Ibnu Katsir disebutkan bahwa ayat ini berkenaan dengan para sahabat di masa permulaan Islam di kota Makkah. Mereka diperintahkan untuk shalat dan zakat, walaupun tanpa batasan tertentu. Mereka diperintahkan untuk melindungi orang-orang fakir, diperintahkan untuk memaafkan dan membiarkan kaum musyrikin dan sabar hingga batas waktu yang ditentukan. Padahal semangat mereka sangat membara dan amat senang seandainya mereka diperintahkan berperang melawan musuh-musuh Allah.

Namun, Allah belum memperkenankan untuk itu karena tersimpan hikmah yang besar di dalamnya. Diantaranya, minimnya jumlah umat Islam saat itu jika dibandingkan dengan jumlah musuh. Juga kaum muslimin belum memiliki basis yang kuat untuk melakukan konfrontasi. Maka dari itu, umat Islam baru diperbolehkan berperang setelah hijrah di Madinah.

Dibalik sifat ketergesa-gesaan sebagian sahabat dan penundaan yang dilakukan Allah ternyata tersimpan hikmah yang besar. Ini adalah salah satu contoh yang dapat kita pelajari. Terkadang orang beriman dihadapkan pada nafsu ketergesaan yang jika dituruti akan membinasakan dirinya sendiri.

Mungkin hal ini dapat diambil oleh generasi masa kini. Memperjuangkan Islam adalah perkara yang mulia. Dan itu adalah kewajiban setiap muslim untuk menegakkan syariat-Nya bagi mereka yang sadar. Tetapi semua itu harus dilalui step by step dan tidak dapat dicapai secara instan. Harus ada proses menuju kematangan untuk meraih  kejayaan.

Salah satu hal yang sering terjadi adalah adanya sekelompok orang yang bermodal semangat semata. Mereka mengacuhkan alur yang ada dan melewatkan masa tarbiyah ruhiyah atau tazkiyatun nafs. Mereka memperturutkan hawa nafsu dengan sikap ketergesaan. Jika proses tazkiyatun nafs ini dilompati, diabaikan maka akan menimbulkan ketimpangan. Pengabaian ini akan menimbulkan kebengkokan, salah arah, maghrur (tertipu dengan prestasi semu), ifrath dan tafrith serta berbagai penyimpangan lainnya.

Kerusakan Akibat Ketergesaan dan Meninggalkan Tarbiyah Ruhiyah atau Tazkiyatun Nafs

Tazkiyatun nafs seharusnya selalu dilazimi oleh setiap muslim. Terlebih bagi mereka yang mendedikasikan dirinya sebagai bagian dari abnaa’ shahwah al-islamiyah. Setiap tahapan, proses, amanah dan ujian yang dihadapai tidak boleh lepas dari kawalan tazkiyatun nafs.

Syaikh Abdullah Azzam rahimahullah dalam bukunya yang telah diterjemahkan dengan judul  “Wasiat Asy-Syahid Dr. Abdullah Azzam: Beginilah Jihad Mengajariku” disebutkan bahwa pendidikan (tarbiyah) menjadi penting dan sangat mendesak sebelum memanggul senjata. Jika tidak maka orang yang membawa senjata tanpa tarbiyah akan menjadi mafia senjata yang justru mengancam keamanan manusia.

Hal ini juga terjadi pada  jamaah jihad yang kurang memperhatikan aspek pembinaan (tarbiyah) dan aspek keimanan pasukannya. Para murobbi hari ini terlalu sibuk untuk memperbanyak jumlah anggota mereka dan cenderung tergesa-gesa dalam meluluskan para kader yang bisa langsung berpartisipasi di kancah jihad.

Jadi, terkadang kesalahan ini bukan hanya terletak pada personal semata yang begitu bersemangat berjihad.Tetapi juga pada jamaah tergesa-gesa untuk segera merebut daerah dan tempat strategis mengesampingkan penilaian terhadap kualitas dan kelemahan para pasukan. Padahal kelemahan itu sebenarnya disebabkan oleh akumulasi kesalahan masa lalu di saat fase pentarbiyahan.

Ketergesa-gesaan hingga mengesampingkan tarbiyah ini juga berdampak pada ketidakmampuan mengelola konflik-konflik kecil, bukannya mereda justru berubah menjadi lebih rumit dan komplek. Akibat yang paling parah adalah sikap pengakuan bahwa mereka paling benar dan menganggap semua yang tidak berada dalam barisannya adalah salah.

Fase selanjutnya setelah menganggap orang yang berada di luar jamaahnya salah, maka mereka akan mengangkat sejata untuk memeranginya. Sungguh fitnah yang besar disebabkan ketergesaan dalam tarbiyah perjuangan.

Perjuangan yang telah disusupi hawa nafsu akan berdampak pada akibat yang fatal. Dr. Sayyid Muhammad Nuh dalam bukunya Afaat ‘ala Ath-Thoriiq menjabarkan sebab-sebab, gejala-gejala dan akibat yang ditimbulkan oleh seseorang yang berjuang tetapi perjuangannya terkotori oleh hawa nafsu. Diantaranya, seseorang yang mengikuti hawa nafsu menjadi tidak peduli terhadap perbuatan dosa dan maksiat, menganggap perbuatannya tidak mengapa. Mungkin terkena syubhat merasa sudah berjihad jadi jika melakukan dosa kecil tak mengapa.

Akibat lain yang lebih mengerikan adalah bahwa orang yang terbuai hembusan hawa nafsu biasanya menolak menerima nasehat dan masukan. Karena mereka maghrur, tertipu dan merasa dirinya serba tahu dan serba benar. Sungguh akibat yang sangat menakutkan jika kita melewatkan tarbiyah karena nafsu ketergesa-gesaan. Semoga Allah memberikan kita kesabaran dalam proses tarbiyah dan menjauhkan kita dari hawa nafsu yang merusak perjuangan. Wallahu a’lam bi shawab.

Penulis : Dhani El_Ashim

Editor : Arju

The post Tergesa-gesa dan Mengabaikan Tarbiyah Ruhiyah, Bencana Amal Islami appeared first on Kiblat.



from Kiblat /2017/04/18/tergesa-gesa-dan-mengabaikan-tarbiyah-ruhiyah-bencana-amal-islami/
via IFTTT
Sebarkan Lewat Google Plus

0 comments:

Post a Comment

Komentarlah dengan kata yang baik, bijak dan jelas

close