Pesta pora kemenangan Erdogan

Pendukung Partai AK merayakan kemenangan di Ankara, Turki (16/4/2017. Reuters)
Presiden Tayyip Erdogan telah menyatakan kemenangan atas referendum perubahan konstitusi yang digelar kemarin, Minggu (16/4).

Menurutnya, 25 juta orang mendukung usulan pergantian sistem parlementer menjadi presidensial. Jawaban "Ya" meraih 51,5 persen suara.

Ribuan pendukung mengibarkan bendera di Ankara dan Istanbul untuk merayakannya.

"Ini pertama kalinya dalam sejarah Republik, kita mengubah sistem pemerintahan melalui politik sipil", ujar Erdogan.

Sebagian besar perubahan baru berlaku pada 2019 mendatang.

Presiden akan menunjuk kabinet, sejumlah wakil presiden, dan dapat memilih atau menurunkan pegawai negeri senior tanpa persetujuan parlemen.

Selain itu, paket 18 amandemen yang diusulkan ini juga akan memberikan kewenangan pada presiden untuk menyusun anggaran, menyatakan keadaan darurat, dan pengawasan kementerian tanpa persetujuan parlemen.

Namun, oposisi menuduh adanya penyimpangan dalam pemungutan suara dan ingin menantang hasilnya.

Kepala oposisi dari Partai Republik Rakyat (CHP), Kemal Kilicdaroglu mempertanyakan legitimasi referendum.

Partai ini juga menuntut penghitungan ulang hingga mendapat 60 persen suara, karena Dewan Tinggi Pemilihan Turki (YSK) menghitung surat suara yang belum dicap oleh pejabat, kecuali dapat dibuktikan sebagai penipuan.

Kilicdaroglu menuduh Erdogan ingin menjadi "rezim", dan perubahan yang diusulkan dianggap akan membawa bahaya bagi negara.

Setelah referendum, Lira Turki menguat dari 3,72 menjadi 3,65 terhadap dolar di perdagangan Asia. pada Jumat (14/6).

Politisi Eropa menyatakan keprihatinan. Komisi Eropa, badan eksekutif Uni Eropa, mengatakan bahwa Ankara harus mengadakan "konsensus nasional secara luas" dalam melaksanakan pemungutan suara, mengingat hasil diacapai dengan selisih tipis.

"Berapapun hasilnya, referendum Erdogan ini telah membelah negaranya", cuitan pemimpin kelompok kanan Manfred Weber di Twitter.

Erdogan dan para pendukungnya mengatakan, perubahan diperlukan sebagai upaya menghadapi tantangan keamanan dan politik Turki, serta menghindari koalisi yang rapuh.

"Ini adalah kesempatan kita untuk mengambil kembali kendali negara", ujar Bayram Seker (42) seorang wiraswasta di Istanbul.

"Saya tidak berpikir penguasa tunggal sebagai hal yang menakutkan. Turki di masa lalu pun diperintah oleh satu orang", ujarnya, mengacu pada pendiri Turki modern Mustafa Kemal Ataturk.

Di sisi lain, para penentang menganggap perubahan ini dapat menjadi langkah menuju otoritarianisme. Erdogan dan Partai AK menikmati bagian yang tidak proporsional dari liputan media.

Sementara para pemimpin Partai Rakyat Demokratik pro-Kurdi (HDP) yang menentang perubahan telah dipenjara selama berbulan-bulan.

"Saya memilih "tidak" karena tidak ingin legislatif, eksekutif dan yudikatif diperintah oleh satu orang", ujar Hamit Yaz (34), kapten kapal yang memberikan suara dari Istanbul. (Reuters)

from Risalah TV http://www.risalah.tv/2017/04/pesta-pora-kemenangan-erdogan.html
via IFTTT

0 Response to "Pesta pora kemenangan Erdogan"

Post a Comment

Komentarlah dengan kata yang baik, bijak dan jelas

close