Misteri Akun Bahrun Naim di Grup Telegram Katibah Gonggong Rebus

KIBLAT.NET, Jakarta – Seseorang yang dianggap sebagai Bahrun Naim, masuk ke dalam grup Katibah Gonggong Rebus (KGR). Meski misterius dan diragukan, orang yang disebut-sebut sebagai tokoh ISIS di Indonesia itu memberikan sejumlah perintah kepada kelompok tersebut.

Gigih, Eka, Hadi, Trio, Tarmizi, dan Leonardo yang merupakan anggota Katibah Gonggong Rebus (KGR) ditangkap di Batam, Kepulauan Riau pada Agustus 2016 dengan tuduhan tak main-main, yaitu berencana menyerang Singapura dengan menggunakan roket. Kala itu polisi menyebut rencana serangan roket atas perintah Bahrun Naim. Rencana serangan, kata polisi, dibicarakan melalui grup Telegram.

Orang yang disebut sebagai Bahrun Naim tak serta merta berada di grup Telegram KGR. Kejadian bermula dari jejaring sosial Facebook, saat Gigih berinteraksi dengan sebuah akun yang bernama Bahrun Naim. Gigih mengaku tertarik dengan akun tersebut karena, BN sering membagikan informasi tentang Suriah.

“Dari Facebook pak. Waktu itu sering update info soal pengungsi yang ada di Suriah,” ungkap Gigih saat ditanya jaksa perihal perkenalannya dengan orang yang disebut Bahrun Naim, dalam sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Timur, Rabu (12/04).

Gigih mengaku pernah berbalas berkomentar di status yang diunggah akun Bahrun Naim.Percakapan kemudian berlanjut ke fasilitas pesan di Facebook. Hingga akhirnya mereka saling berbalas komentar dan bertukar nomor telepon.

Akhirnya, Gigih memasukkan nomor Bahrun Naim itu ke dalam grup Telegram Katibah Gonggong Rebus (KGR) meski tak mengenal secara personal orang tersebut. Gigih bersama empat rekannya yaitu Eka, Hadi, Trio, Tarmizi tergabung di grup tersebut. “Kemudian saya invite ke grup tahun 2015,” ungkap Gigih.

Nama akun Telegram orang yang mengaku sebagai Bahrun Naim itu tak sama dengan nama di Facebook. Di grup KGR nama yang muncul adalah Abu Aisyah. Meski demikian, belakangan anggota grup yang lain pun ikut mempercayai jika Abu Aisyah adalah BN.

Dalam perjalanannya, akun Abu Aisyah beberapa kali menyampaikan perintah di dalam grup KGR. Perintah yang pernah disampaikannya antara lain persiapan pergi ke Suriah, mengirimkan uang, dan menerima dua orang ikhwan asing dari Uighur.

Saat akun Abu Aisyah menanyakan di grup siapa yang mau menjemput dua orang Uighur, Gigih dan Trio menyatakan kesanggupannya. Dua orang Uighur yang belakangan diketahui bernama Ali dan Doni, itu dijemput pelabuhan Batam.

“Kasihan pak, yang saya tahu orang Uighur itu ditindas di negaranya,” kata Gigih saat ditanya jaksa perihal asalan kesediaannya menampung dua orang asing itu.

Percakapan lain yang dibicarakan akun Abu Aisyah adalah soal roket. “BN kan cerita, di Suriah ada banyak roket enaknya diapain,” kata Gigih mengucapkan perkataan akun Abu Aisyah di grup KGR.

Dari keenam terdakwa, hanya dua orang yang mengaku menanggapi celetukan akun yang dianggap sebagai Bahrun Naim, yaitu Gigih dan Trio. Sementara, yang lain mengaku tak pernah melihat percakapan tentang roket itu.

“Waktu itu saya nimpali gimana kalo ke Marina Bay (Singapura, red) saja roketnya,” kata Gigih. Dia mengaku ucapannya itu hanya spontanitas.

Sementara Trio sempat menyampaikan pertanyaan terhadap celetukan akun Abu Aisyah. “Lalu bagaimana pembuatan roketnya,” ujarnya persidangan.

Trio mengatakan langsung meninggalkan percakapan grup itu, karena menurutnya hal itu tidak mungkin. Menurutnya, percakapan itu hanya sebatas bercanda. Pasalnya, di bagian akhir obrolan muncul ekspresi tertawa di grup KGR. “Tidak ada follow up,” tandas Trio.

Tak disangka, percakapan itulah yang akhirnya menyeret Gigih dan kawan-kawannya ke meja hijau. Gigih pun mengaku kaget saat penyidik mengungkapkan perihal itu. Pasalnya, dia merasa percakapan itu tidak serius. “Untuk roket itu saya malah kaget saat diinterogasi,” ujar Gigih.

Masih Ragu dengan Bahrun Naim

Saat jaksa menanyakan apakah akun telegram yang memberikan perintah itu benar Bahrun Naim, Gigih pun tak yakin. “Saya tidak tahu itu BN beneran atau tidak,” ujarnya.

“Saya sendiri tidak yakin itu Bahrun Naim atau bukan. Dia kan sering hilang muncul, hilang muncul. Kita ini bingung, grup ini mau dikemanain,” ungkapnya.

Jaksa pun mendesak apakah dia tak berusaha mengecek kebenaran akun Bahrun Naim. Gigih hanya menjawab, “mau ngecek juga tidak tahu.”

Gigih pun mengakun tak tahu jika Bahrun Naim terlibat kasus terorisme. “Saya tidak tahu dia terkait kasus. Belakangan ada penangkapan baru tahu dia tersangkut kasus,” tutupnya.

 

 

Reporter: Imam S.
Editor: Fajar Shadiq

The post Misteri Akun Bahrun Naim di Grup Telegram Katibah Gonggong Rebus appeared first on Kiblat.



from Kiblat /2017/04/15/misteri-akun-bahrun-naim-di-grup-telegram-katibah-gonggong-rebus/
via IFTTT

Daftar dan dapatkan update terkini melalui email.: