Mengapa Jakarta Butuh Gubernur Baru?

Oleh: Muchtar Effendi Harahap
(NSEAS: Network for South East Asian Studies)

Mengapa rakyat Jakarta butuh Gubernur baru? Jawaban inti adalah karena Gubernur lama (Ahok) tak mampu dan gagal melaksanakan urusan pemerintahan.

Pertanyaan berikutnya, urusan pemerintahan apa saja Gubernur lama tidak mampu dan gagal?  Inilah jawaban edisi pertama:

1. Pendapatan daerah: Tak pernah berhasil raih target capaian alias gagal melulu. Hanya mampu realisasi rencana pendapatan daerah sekitar 70 %, tergolong kinerja lebih buruk.

2. Belanja daerah: Juga tak mampu raih target capaian. Hanya mampu raih sekitar 65 %, kinerja sangat buruk.

3. Pendidikan: Tahun 2016, proyek rehabilitasi 45 sekolah mangkrak. Lebih 40 % rakyat Jakut usia sekolah,  tidak menikmati pendidikan   di SLTA .

4. Kesehatan:Gagal berat raih target capaian penyerapan anggaran. Hanya 47% tercapai.Belum optimal sistem pelayanan kesehatan; masih terbatas jumlah dan kualitas pelayanan RS dan Puskesmas. Dapatkan AHH hanya sekitar 70 thn, masih kurang 5 tahun. Kinerja sangat.. sangat buruk.

5.Pekerjaan umum: Gagal berat raih target capaian penyerapan anggaran. Hanya 47% tercapai. Kinerja sangat.. sangat buruk. Ada  44 proyek konstruksi   mangkrak.

6.Perumahan rakyat: Tak sama sekali sediakan perumahan hak milik kepada rakyat DKI, kecuali Rusunawa. Itupun gagal. Target rencana 45.000 unit Rusunawa, hanya tercapai sekitar 1.500 unit. Gagal total.

7.Perhubungan: Rencana pembangunan  3 koridor busway belum terealisir.  Penyediaan armada busway target jauh tercapai, bahkan 180 unit dimusnahkan. Proyek LRT mangkrak, diambilalih Pemerintah. Luas jalan terbangun, masih sangat minim jauh  dibawah target. Jumlah jembatan terbangun juga masih jauh dibawah target. Target tercapai 1.000 armada angkutan umum diremajakan, gagal total. 4 tahun ini hanya tercapai kurang 400 unit diremajakan. Sangat...sangat buruk.

7.Lingkungan hidup: Penyerapan anggaran hanya 46 %, sangat buruk. Pembangunan RTH, gagal total, realisasi  pembelian lahan nol. Tidak pernah dapat Penghargaan Adipura, kecuali satu kota Jakarta Pusat. Padahal era Fauzi Bowo semua kota dapat Adipura.

8.Kemacetan: issue strategis tahunan  kemacetan tak mampu terpecahkan, bahkan meningkat. Jakarta kota termacet se dunia.

9.Banjir: Issue strategis banjir terus terjadi. Bahkan, cukup merata di sejumlah Ibukota. Tahun 2016 terjadi banjir terbesar sejak 2007. Banjir jalan terus dan belum berkurang signifikan.

10. Perumahan Kumuh:
Untuk memecahkan issue strategis  kawasan dan perumahan kumuh,  dibuat program penataan ulang, bukan penggusuran paksa. Fakta: pilihan Ahok adalah  penggusuran paksa. Dinilai LBH dan Komnasham, telah melanggar HAM. Gagal urus penataan ulang perumahan kumuh.

Tags: 
Category: 


from Opini http://www.konfrontasi.com/content/opini/mengapa-jakarta-butuh-gubernur-baru
via IFTTT

Daftar dan dapatkan update terkini melalui email.: