Kontroversi gambar wajah Yesus

Kain kafan dari Turin selama ini diklaim sebagai dasar penggambaran wajah Yesus
Nama Yesus putra Maria adalah sosok yang diyakini sebagai inkarnasi Tuhan menurut ajaran Kristen trinitarian.

Meski ada Kristen versi Unitarian yang menolak status "keilahian" Yesus, bahkan sejumlah sekte juga tidak percaya Yesus disalib.

Namun Kristen Trinitarian berhasil berkembang ke penjuru dunia karena berhasil meraih dukungan dari penguasa Romawi, lalu "membersihkan" sekte yang dianggap bertentangan dengan otoritas Gereja.

Perdebatan ini muncul setelah turunnya kenabian di tanah Arab, dimana Nabi Muhammad diyakini membawa ajaran Islam yang murni seperti ajaran rasul terdahulu tentang Tauhid, termasuk Isa al-Masih bin Maryam Alaihissalam.

Islam meyakini Isa sebagai nabi dan manusia biasa. Ia juga tidak disalib, karena diangkat ke langit.

Di akhir zaman nanti, nabi Isa menjadi umat nabi Muhammad. Ia akan turun lagi ke bumi bergabung dengan umat Islam dan membunuh Dajjal.

Isa dalam Islam dipandang ekuivalen dengan tokoh Yesusnya umat Kristiani.

Perselisihan tentang sosok Yesus rupanya bukan hanya di ranah perdebatan teologi ataupun eskatologi, tapi juga bagaimana wajahnya di internal umat Kristen.

Sumber-sumber sejarawan mengatakan, gambar Yesus yang beredar ke seluruh dunia semuanya bersifat "seni" bukan sejarah.

Versi wajah Yesus bagi Kristen Timur berbeda dengan Barat.

Di Barat, sosok Yesus digambar mirip orang Eropa, berambut Jagung dan mata biru.

Di Timur, Yesus dilukiskan mirip orang Yahudi pada umumnya, sehingga penampakannya lebih gelap.

Tapi ada satu rujukan menarik tentang sumber wajah Yesus, yaitu dari secarik kain yang diklaim adalah kafan saat sosoknya diyakini mati setelah disalib.

Benarkah ada Linen (kain rami) yang membungkus Yesus? Apakah sains menguatkan atau melemahkannya?

Kain kafan Yesus?
Kain Kafan dari Turin adalah salah satu ikon agama yang dihormati oleh jutaan orang Kristen.

Linen ini dipercaya sebagai kain penguburan Yesus Kristus. Tentu saja benda ini banyak menimbulkan adu argumen sengit dalam ilmu kontemporer.

117 tahun lalu, sebuah foto negatif menunjukan adanya gambar tubuh dengan bekas siksa pada linen tersebut. Sejak itu, fisikawan dan kimiawan berusaha memecahkan pertanyaan mengenai usia kain dan komposisi gambar.

Patolog forensik, ahli mikrobiologi, dan ahli botani menganalisis noda darah, bersama dengan bintik kotoran dan serbuk sari di permukaannya.

Namun, hasil penelitian selalu berjumpa dengan kebuntuan. Peneliti tetap tidak dapat memastikan keaslian kain (otentik) atau kemungkinan bahwa kain ini hanya tiruan/ciptaan.

“Sepertinya ilmu pengetahuan tidak dapat akan memberi solusi lengkap atas teka-teki yang bermunculan dari kain kafan ini”, ujar fisikawan Italia Paolo Di Lazzaro.

Penyelidikan ilmiah tentang kafan tersebut dimulai pada tahun 1898. Fotografer amatir dari Italia, Secondo Pia menemukan fakta mengejutkan dari foto efek negatif.

Dalam kondisi normal, memang terlihat bentuk tubuh manusia yang muncul samar di kain. Namun, ketika Pia membuat foto negatif, terlihat seorang pria berjanggut dengan luka di tubuhnya.

AS pernah mempin Proyek Penelitian Kain Kafan Turin (Shroud of Turin Research Project / STRUP) dengan 33 anggota dari latar belakang berbeda.

Analisis mereka menyatakan, tidak ada tanda-tanda pigmen buatan.

“Gambar kain kafan ini adalah nyata dari seorang manusia (yang tampaknya telah) disalib dan dicambuk. Ini bukanlah produk seorang seniman", menurut laporan tahun 1981.

“Terdapat hemoglobin dalam noda darah dan ada hasil positif untuk serum albumin"

Namun laporan tersebut juga mengakui tidak ada kombinasi “fisika, kimia, biologi atau medis” yang memadai dalam menjelaskan gambar ini.

Pada tahun 1988, Vatikan setuju mencari penanggalan kain kafan dengan tes isotop Karbon C-14.

C-14 adalah isotop radioaktif yang ada di alam. Benda atau makhluk hidup menyerapnya. Sehingga bisa dilakukan tes penentuan umur dengan mengetahui waktu paruh atom dan sisa kadarnya.

Sampel kecil dari sudut kain dikirim ke laboratorium Unit Akselerator Radio Karbon (Radiocarbon Accelerator Unit/RAU) Universitas Oxford, Universitas Arizona, dan Institut Teknologi Swiss.

Mereka memperkirakan, material kain kafan ini tercipta pada 1260 M hingga 1390 M, lebih dari satu milenium setelah kisah kematian Yesus.

Hasil penelitian C-14 menjadi titik fokus kontroversi kain kafan. Banyak kritikus mengomentari metodologi dan kesimpulan mereka.

Salah satu kritik inovatif datang dari ahli statistik Universitas Parma Italia, Marco Riani 2010 lalu, serta Anthony Atkinson dari London School of Economics.

Mereka mencatat, laboratorium yang melakukan tes karbon-14 memperkirakan usia kain dengan perbandingan mumi Mesir kuno, makam Nubian abad pertengahan, dan jubah gerejawi Perancis abad pertengahan.

Namun, data mentah dari tes yang sama dari kain kafan membuahkan hasil yang berbeda dengan selisih angka 150 tahun.

Penelitian komputer berhasil mengidentifikasi pola variasi.

"Sampel yang berasal dari tepi atas (untuk penelitian karbon-14) sangat berbeda dengan sampel yang berasal dari potongan tepi bawah", ujar Riani.

Namun ia menegaskan, “Penelitian kami tidak membuktikan bahwa kain kafan itu asli, atau bahwa itu berusia 2.000 tahun"

Selain masalah usia kain, pertanyaan penting lainnya menurut fisikawan Paolo Di Lazzaro adalah bagaimana gambar tubuh tercipta pada kain linen.

Segala upaya ilmiah telah gagal membuat replikasi laboratorium. Hue gambar tersebut sangat tidak biasa, dan penetrasi warna pada kain sangat tipis, yaitu kurang dari 0,7 mikrometer.

Di Lazzaro dan rekannya dari Badan Nasional Italia untuk Teknologi Baru, Energi, dan Pembangunan Ekonomi Berkelanjutan (ENEA) menerbitkan sebuah temuan pada 2011. Mereka berhasil menciptakan gambar yang mendekati rona khas kafan ini pada sebidang persegi kain.

Sayangnya mereka tidak dapat merekonstruksi ulang semua karakteristik fisik dan kimia gambar kain kafan. Tim juga tidak bisa mereproduksi sosok manusia utuh.

Maka, Di Lazzaro menyimpulkan, jika teknologi paling canggih di abad ke-21 tidak bisa menghasilkan replika gambar kain kafan, bagaimana bisa itu dibuat oleh seseorang di abad pertengahan?

“Orang bisa mengambil hipotesis di luar bidang ilmu pengetahuan, keajaiban misalnya", ujar Di Lazzaro.

“Namun keajaiban tidak dapat diselidiki dengan metode ilmiah", lanjutnya.

Sejarah kain dimulai pada tahun 1353, ketika seorang ksatria Prancis Geoffroi de Charny memperoleh kain tersebut dan menitipkannya di sebuah biara di Lirey, Perancis. Pada awal abad ke-16.

Kain dipindahkan ke kota Chambéry dan dimiliki oleh aristokrat House of Savoy. Sayangnya, kain ini rusak akibat kebakaran pada tahun 1532, meninggalkan tanda hangus dan noda air pada kain.

Tahun 1578, Savoys memindahkan kain kafan ke ibukota Turin. Sejak itu, kain kafan ditempatkan di kapel kerajaan, Katedral Santo Yohanes. Pada tahun 1983, Kain diserahkan kepada Gereja Katolik secara hukum.

Vatikan tidak mengambil kesimpulan resmi tentang keaslian kain kafan itu, meski kerap mendorong umat beriman untuk menghormatinya sebagai simbol penderitaan Kristus.

Paus John Paul II pada tahun 1998 menyatakan bahwa “Gereja mempercayakan kepada para ilmuwan untuk terus menyelidiki”. (National Geographic)

from Risalah TV http://www.risalah.tv/2017/04/kontroversi-gambar-wajah-yesus.html
via IFTTT


Tidak ada komentar:

Write a Comment

Komentarlah dengan kata yang baik, bijak dan jelas


Ke atas