Editorial: Menyerta Ulama Usai Pilkada

KIBLAT.NET – Esok hari, Pilkada paling kontroversial dalam sejarah Indonesia, akan digelar. Hampir setahun rakyat Indonesia tenggelam dalam perang urat syaraf dan terbelah dalam kubu pro dan kontra Ahok. Sejak berdirinya Republik ini, rasanya baru kali ini di Indonesia ada kepala daerah yang keras kepala dan terang-terangan dalam menunjukkan ketidaksukaan kepada nilai-nilai agama mayoritas.

Urat syarat kita makin terbetot demi mengetahui Pemerintah dengan telanjang memperlihatkan sikap tidak netral. Pemerintah memang tidak secara lugas menyatakan dukungan kepada Ahok. Tetapi sikap berlebihan kepada kubu kontra-Ahok sudah menyiratkan ketidaknetralan tersebut.
Lihat saja misalnya kesigapan aparat keamanan mengkriminalkan tokoh-tokoh GNPF-MUI. Namun ompong dan tak berdaya sekadar untuk menahan Ahok yang sudah jadi tersangka. Alih-alih memenjarakan, sekadar membacakan tuntutan Jaksa Penuntut Umum pun harus ditunda setelah Pilkada. Belum lagi berderet kasus pelanggaran yang dilakukan kelompok pro-Ahok namun tak kunjung jelas penanganannya.

Inilah barangkali yang membuat darah umat Islam naik ke ubun-ubun. Sehingga, hari ini seluruh umat Islam Indonesia kompak untuk mengusung Gubernur Muslim untuk menggantikan Ahok. Sulit menemukan momentum seperti ini, di mana hampir semua lapisan umat dapat bersatu dalam satu barisan yang padu.

Namun melihat kehadiran negara yang berat sebelah, kumpulan survei dan perang opini saja belum menjadi jaminan terwujudnya keinginan menjegal Ahok. Pilkada adalah salah satu instrumen Demokrasi, di mana di dalamnya kecurangan dan keculasan—dan akhirnya kediktatoran—menjadi hal yang lumrah dan halal. Maka, berbagai usaha menghadirkan Gubernur Muslim, juga harus dibarengi dengan kesiapan dan rencana bila Ahok ternyata dimenangkan sebagai penguasa selanjutnya.

Bila Pilkada esok ternyata berhasil memunculkan gubernur baru yang Muslim, tak perlu larut dalam pesta dan suka-cita yang berlebih. Sebab, ada PR baru yang tak kalah berat setelah salah satu mafsadat berhasil dicegah. Yaitu, bagaimana menciptakan maslahat-maslahat umat selanjutnya dengan tetap memberantas mafsadat-mafsadat lain yang lebih besar.

Namun bila takdir Allah menghendaki Ahok tetap berkuasa, kita pun tak perlu kehilangan kontrol dan lepas kendali. Mungkin Allah ingin menunjukkan kepada kita sebuah keputusan yang selama ini masih menjadi berdebatan di antara kita tentang layak tidaknya Demokrasi sebagai sarana membela dan memperjuangkan Islam.

Kita pun harus mawas diri dan kembali kepada bandul sejarah para pendahulu, di mana kemenangan tidak Allah berikan kecuali kepada umat yang telah lolos menjalani tarbiyah yang panjang serta berbagai macam tempaan berat maupun saringan (tamhish) yang ketat.
Apapun dari dua kondisi yang akan terjadi besok, Ulama tetap menjadi peran penentu langkah umat Islam berikutnya. Mereka-lah yang bertanggungjawab untuk terus menyeru dan membimbing umat agar konsisten dalam jalan panjang memberangus kezaliman dan memenangkan Islam.

Maka hari ini umat Islam Indonesia benar-benar membutuhkan kehadiran Ulama yang hanif, mengajak mereka untuk takut kepada Allah dan setia membersamai umat dalam jalan panjang perjuangan ini. Profil ulama seperti itu hanya ada pada mereka yang tak sedikit pun terbersit dalam hati hasrat untuk menangguk keuntungan pribadi; baik berupa popularitas, harta maupun jerat-jerat duniawi lainnya.

Kembali ke hasil Pilkada esok. Suka atau tidak suka, takdir dan ketentuan Allah pasti akan berlaku atas diri kita. Terlepas dari pahit atau manis kita merasakan takdir tersebut, sekali-kali Allah tidak pernah berlaku zalim terhadap hamba-hamba-Nya.

The post Editorial: Menyerta Ulama Usai Pilkada appeared first on Kiblat.



from Kiblat /2017/04/18/menyerta-ulama-usai-pilkada/
via IFTTT

0 Response to "Editorial: Menyerta Ulama Usai Pilkada"

Post a Comment

Komentarlah dengan kata yang baik, bijak dan jelas