Dua Adik Kandung Ahok Tersangkut "Panama Papers", Sebut Mr Kans

KONFRONTASI -  April tahun 2016, Indonesia dihebohkan dengan kebocoran dokumen Panama Papers. Menurut Edward Snowden, bocoran dokumen rahasia tersebut menjadi bocoran terbesar sepanjang data sejarah jurnalisme. Pasalnya hal itu merupakan hasil penyelidikan selama setahun oleh 370 wartawan investigatif dari 76 negara.

“Apa itu panama papers? Tempat persembunyian uang disebuah tempat di luar negeri yang sangat rahasia. Pada intinya bebas dari urusan pajak. Bagi para pengemplang tempat tersebut sebagai surganya pajak. Dari sana berbagai perusahaan dari negara luar didirikan dalam bentuk saham (dicangkang),” ujar pengamat hukum dan sosial, Kan Hiung kepada edunews.id dalam pesan WhatsAppnya, Sabtu (15/4/2017)

Kan menjelasnkan, ada 2961 nama warga negara Indonesia yang terdaftar di dalam dokumen panama papers ini. Disini Kan mengamati, jika konglomerat yang terkenal namanya terdaftar disana dia merasa tidak heran, karena Ia punya alasan bahwa sistem pengontrol keuangan di negara kita sangat lemah dari dulu sampai sekarang.

Nama-nama yang terdaftar di panama papers seperti James Riady (Group Lippo), Franciscus Welirang (PT Indofood Sukses Makmur), Rusdi Kirana (Lion Air Airlines), Chairul Tanjung (Para Group, Banking, Consumer Goods), Hashim Djojohadikusumo ( Arshari Group, Tirtamas Comexindo), Muhammad Aksa Mahmud (Bosowa Group), Anthony Salim, ini semuanya saya tidak heran.

“Dan juga ada dua nama buronan yang kerap dicari seperti Muhammad Riza Chalid dan Djoko Soegiarto Tjandra (Tjan Kok Hui) juga terdaftar disana. Namun, sangat diherankan jika di Panama Papers itu ada nama Rini Soemarno yang saat ini menjabat sebagai Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMNI) kabinet kerja dan masih ada sekitar 2.961 nama lagi,” beber Kan.

Pria yang disapa Mr Kan ini juga menyinggung adik soal nama adik bungsu Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, Fifi Lety Indra yang juga masuk di panama papers. Bahkan, Fifi yang merupakan adik bungsu Ahok itu terdaftar dengan menggunakan dua nama yang berbeda, yakni Fifi Indra dan Fifi Lety Indra & Partners.

“Dulu, pada saat pembongkaran ruko lama (sekarang Mall BTC) di Kota Pangkalpinang, Bangka, nama Fifi Leti Indra kerap disebut sebagai pengacara yang membela kubu benteng. Fifi juga disebut membuka kantor notaris di Jakarta. Namun, nama Fifi belum begitu terkenal,” ujarnya menambahkan.

Sementara kita tahu, lanjut Kan,  Ahok sempat menjadi Bupati Belitung Timur. Berbagai informasi yang pernah ada, Ahok oleh Polda Bangka Belitung sempat dijadikan tersangka kasus hutan lindung dan penambangan liar di Gunung Nayo. Selain itu, informasi yang didapat nama Ahok adalah Basuki Indra. Namun diganti karena ada kasus Kasus tersebut. Kasus Ahok itu juga berhenti ditengah jalan.

 

“Pada 2006-2007, Ahok juga pernah menjadi Staf Khusus Gubernur DKI pada masa Sutiyoso. Tahun 2009-2014 Ahok menjadi anggota DPR RI Komisi II. Dan namanya disebut oleh Muhammad Nazaruddin sebagai saksi di sidang korupsi e-KTP. Muhammad Nazaruddin dalam kesaksiannya mengatakan bahwa semua anggota Komisi II DPR RI periode 2009-2014 menerima uang hasil korupsi proyek e-KTP,” beber Mr Kan lagi.

Selanjutnya tahun 2012 Ahok menjadi Wakil Gubernur DKI kemudian 2014 menjadi Gubernur hingga saat ini. Apalagi kita ketahui ada beberapa kasus besar dan dugaan korupsi yang melibatkan nama Ahok yang sampai saat ini masih merupakan tanda tanya besar bagi masyarakat Indonesia.

“Benang merahnya atas rentetan kejadian tersebut membuat saya curiga. Jika dianalogikan sebagai bakwan, pasti ada isi sesuatu didalam bakwan itu. Kalau seandainya tidak ada nilai saham bisa nggak nama seseorang terdaftar di Panama Papers? Menurut saya seharusnya tanpa ada nilai saham yang cukup besar tidak mungkin nama seseorang bisa terdaftar disana,” kata Kan.

“Kalau begitu uang atau saham siapa dong yang bisa begitu banyak sehingga bisa sampai mendaftarkan atas nama Fifi Indra dan Fifi Lety Indra & Partners di panama papers? Ini tanda tanya besar. Sebelum lakukan kebijakan Tax Amnesty pemerintah sempat mengklaim bahwa uang yang ada di luar negeri semuanya lebih kurang ada Rp 11 ribu triuliun,” tanya Kan lagi.

Jumlah ini sangat besar, kata Kan, apakah jumlah tersebut sudah termasuk yang di panama papers atau belum? dan menurut informasi pemerintah juga pernah mengklaim bahwa jauh sebelumnya pemerintah sudah memiliki data yang cukup lengkap untuk panama papers itu.

“Nah seharusnya jika pemerintah sudah punya data lengkap harus segera diselidiki. Menurut pegamantan saya, nama-nama yang terdaftar di panama papers itu minimal bisa dijerat dua pasal yakni pasal dugaan penggelapan pajak dan dugaan tindak pidana pencucian uang (TPPU). Belum lagi jika sampai ditemukan uang itu hasil dari berbagai kriminal seperti hasil korupsi, penipuan dan lain sebagainya,” imbuh Kan.

Tapi, sambung Kan, sangat aneh sampai sekarang sudah tidak ada kabar berita lagi tentang Panama Papers itu. Seperti tampak tidak ada upaya pengusutan sampai penyelidikan dan sebagainya.

“Saya sangat berharap kasus panama papers ini bisa ditindak oleh aparatur penegak hukum. Terutama nama-nama yang terdaftar disana yang menyangkut posisi sebagai pejabat negara baik itu mantan maupun yang masih menjabat serta yang berkaitan dengan keluarganya. Karena nama-nama mereka memang ada terdaftar disana, dan juga khusus pejabat dan mantan pejabat inilah yang sangat mencurigakan,” pungkasnya.(Juft/Edunews)

Tags: 
Category: 


from Politik http://www.konfrontasi.com/content/politik/dua-adik-kandung-ahok-tersangkut-panama-papers-sebut-mr-kans
via IFTTT


Tidak ada komentar:

Write a Comment

Komentarlah dengan kata yang baik, bijak dan jelas


Ke atas