Catatan Ahad Pagi: Partai Penguasa Belum Siap Berdemokrasi

Oleh: Muslim Arbi

Terlihat dengan kasat mata dan terang benderang partai penguasa dan koalisi nya yang usung Basuki Tjahaja Purnama dan Djarot Saiful Hidayat dalam Pilgub DKI, 19 April besok tidak berdemokrasi. Semestinya sebagai petahana harus tampilkan cara2 elegant dalam kampanye.

Sejumlah survei yang di rilis umumkan Anies Baswedan dan Sandiago Salahuddin Uno berada pada posisi unggul atas Basuki-Djarot.
Apakah karena ke khawatiran kalah itu sehingga sejumlah trik2 kampanye yang kurang elegan di lakukan?

Semalam sekitar pukul 01.00 dini hari di Majelis Pengajian terjadi peristiwa percobaan pancing kerusuhan dan bakar mobil dan di biarkan meluncur ke arah Jamaah Pengajian Habib Rizieq Shihab di Cawang, Jakarta Timur. Alhamdulillah Habib Rizieq dan Jamaah Pengajian nya selamat dan tidak terpancing.

Aparat Gegana Penjinak Bom pun datang 2 jam ke mudian. Padahal jarak antara Cawang dengan Polda Metro Jaya dekat. Mestinya aparat lebih sigap dan cepat2 bertindak amankan lokasi kejadian dan segera mencari pelaku kejahatan pembakaran mobil itu. Di Lokasi kejadian juga masih tersisa 2 mobil yang berisi Jiregen berisi bensin penuh.

Bisa di tebak. Ini upaya pembunuhan Jamaah Pengajian dan Habib Rizieq yang di lakukan oleh Penjahat yang sudah di rancang. Polisi harus segera menangkap pelakunya.

Beberapa hari beredar video yang isi nya sangat provokatif. Umat Islam di gambarkan sebagai pelaku kerusuhan dengan harapan Umat terpancing agar termakan provokasi itu. Tapi, upaya itu tidak berhasil karena video provokasi gagal pancing Umat. Karena Ulama dan Tokoh2 dapat meredam kemarahan Umat.

Cara2 kampanye bagi2 sembako yang di lakukan oleh pendukung petahana Ahok-Jarot sesungguhnya sangat tidak mendukung perbaikan kualitas demokrasi. Semestinya massa pemilih lebih diberi edukasi politik yang elegan via tema2 kampanye, debat dan visi misi. Bukan dengan cara2 bagi sembako, uang dan trik2 kotor yang rusak Pilgub Ibu Kota.

Sebagai Partai Pemenang Pemilu dan Pilpres 2014 lalu, PDIP sebagai partai yang usung tema dan gerbong demokrasi semestinya lebih kedepan kan kualitas kampanye dalam berdemokrasi di perhelatan Pemilihan Kepala Daerah Ibu Kota.

Tapi, jika benar seperti yang apa di ungkapkan oleh Ketua Umum nya, apa pun cara nya harus menang, Cagub nya yang di usung. Jika yang di inginkan maka bisa saja langkah apa saja di lakukan asal Calon nya menang. Ini tentunya pasti bertentangan dengan kaidah dan norma demokrasi. Demokrasi itu taat Aturan dan UU bukan hantam kromo  asal menang.  Ini berbahaya.

Tidak heran, jika pembagian sembako, politik uang bahkan gunakan simbolisasi agama dengan resmikan Masjid KH Hasyim As'ary jelang Pilgub oleh Kader PDIP yang juga Presiden dan di sarankan oleh sejumlah Tokoh Umat termasuk mantan Ketua PP Muhammaditah Prof Din Syamsuddin, agar di urungkan, tidak akan membantu tingkatkan kualitas Demokrasi di Pilgub DKI.

Bahkan sejumlah Kepala Daerah di minta oleh Ketum Megawati agar berbondong bondong ke Jakarta untuk bantu menangkan Basuki-Djarot. Padahal urusan Pilgub DKI itu urusan Derah Jakarta. Kenapa kepala Daerah di Luar DKI disuruh ke Jakarta? Apakah Megawati sebagai Ketum sudah tidak percaya dengan Koalisi Pendukung Cagub nya dan mesin partai nya sudah tisak bisa di harap lagi?

Jangan sampai mata gelap kekalahan yang akan menghantui pada Pilgub nanti sehingga segala cara di lakukan termasuk design kerusuhan sehingga dengan alasan keamanan Pilgub DKI di tunda dan Opsi berikut nya adalah Kepala Daerah Ibu Kota dapat di tunjuk oleh Presiden seperti yang di suarakan oleh Ahok, Basuki Tjahaja Purnama yang waktu itu masih sebagai Gubernur Ibu Kota?

Semua skenario itu dengan mudah terbaca, dan  para pemilih dan pendamba Ibu Kota Aman, Damai dan Kondusif dapat menggunakan hak pilih nya untuk memilih Gubernur yang sesuai Aturan yang demokratis. Dan ini menjadi pembelajaran Demokrasi bagi Partai Penguasa dan Koalisi nya.

Depok, 16 April 2017****

Category: 


from Tokoh http://www.konfrontasi.com/content/tokoh/catatan-ahad-pagi-partai-penguasa-belum-siap-berdemokrasi
via IFTTT
Sebarkan Lewat Google Plus

0 comments:

Post a Comment

Komentarlah dengan kata yang baik, bijak dan jelas

close