Benarkah Masjid Raya yang Dibangun Ahok “Masjid Dhirar”?

JAKARTA (Panjimas.com) – Belum lama ini, Presiden RI Joko Widodo meresmikan Masjid Raya KH Hasyim Ashari di Rusun Persakih Jl. Raya Daan Mogot KM 14 RW 14 Kel. Durikosambi Kec. Cengkareng Jakarta Barat.

Peresmian yang seharusnya dilakukan pada tanggal 16 April 2017 di majukan menjadi hari Sabtu (15 April 2017). Hadir dalam peresmian tersebut Menteri Agama Menteri Agama dan Wakil Gubernur DKI Jakarta Djarot Hidayat. Peresmian ditandai dengan penandatanganan prasasti

Jelang Pilkada, bukan sesekali Ahok melakukan pendekatan kepada umat Islam. Di persidangan kasus penistaan agama, Ahok bilang punya program umroh umat Islam DKI, lalu membangun Masjid Raya di DKI, bahkan rencana membuat pesantren.
Allah telah membongkar kedok jahat kaum kafir dan munafik dengan diturunkannya QS At Taubah ayat 107-110. Tetapi ayat dan peringatan Allah tersebut berlaku sepanjang masa bagi seluruh umat Islam agar tidak mudah terkecoh dengan fenomena Masjid Dhirar.

Dari sejarah Masjid Quba dan Masjid Dhirar sampai kepada Sebab, turunnya ayat 107,108,109 dan 110 dari surat At Taubah, Para Ulama ahli Tafsir dan Shirah sepakat bahwa ayat tersebut berlaku tidak saja bagi Rasulullah Saw dan para sahabat di masa itu.

Fenomena Masjid Dhiror

Berada di Masjid Quba di Kota Madinah ini, mengingatkan kepada sosok Rasulullah Saw. Sekaligus mengingatkan pada pemberitaan tentang berdirinya sebuah yayasan untuk membantu pesantren-pesantren di seluruh Indonesia. Yayasan tersebut didirikan oleh seorang Non-Muslim.

Umat Islam hendaknya waspada terhadap fenomena masjid dhirar. Termasuk Lembaga Pendidikan, Lembaga Sosial atau apapun yang berkaitan dengan aqidah umat Islam dan disana ada campur tangan bantuan kaum kafir. Maka umat Islam tidak boleh mengabaikan peringatan Allah dalam Al Qur’an.

Lalu, apa hubungan Masjid Quba yang dibangun Rasulullah SAW dengan Yayasan Peduli Pesantren, namun dibangun oleh seorang non muslim? Membuka sejarah terkait Masjid Quba di kota Madinah, maka sebagai muslim, wajib mengambil pelajaran. Lalu mengapa Allah menurunkan Surat At Taubah ayat 107-110?

Masjid Quba adalah masjid yang pertama kali dibangun oleh Rasulullah SAW pada 15 abad yang lalu, ketika beliau hijrah ke Kota Madinah, atau tepatnya pada tanggal 8 Rabiul Awal 1 Hijriyah.

Sejak dibangun 15 abad yang lalu hingga hari ini, Masjid Quba telah mengalami beberapa kali renovasi, hingga akhirnya masjid tersebut mengalami perluasan dan sampai hari ini telah berusia 15 abad. Kini, Masjid Quba dapat menampung jamaah sekitar 20 ribu orang.

Dalam Al Qur’an di Surat At Taubah ayat 108, Allah menjelaskan bahwa Masjid Quba dibangun atas dasar taqwa kepada Allah dan didirikan oleh Nabi Allah yang mulia Muhammad SAW.

“Dan (di antara orang-orang kafir itu) ada yang mendirikan masjid untuk menimbulkan bencana (pada orang-orang yang beriman), untuk kekafiran, dan untuk memecah belah di antara orang-orang yang beriman, serta untuk menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu. Mereka dengan pasti bersumpah, ‘Kami hanya menghendaki kebaikan. Dan Allah menjadi saksi bahwa mereka itu Pendusta (dalam sumpahnya).”(QS At-Taubah : 107)

Setelah Masjid Quba’ berdiri dan menjadi pusat kegiatan umat Islam di Kota Madinah, dibangunlah masjid tandingan yang letaknya tidak terlalu jauh dari Masjid Quba. Nama masjid tandingan tersebut adalah Masjid Dhirar. Masjid Dhirar ini dibangun oleh orang-orang Munafik atas prakarsa seorang kafir Nasrani bernama Abu Amir Ar Rahib. Adapun Abu Amir mendapat suntikan dana besar dari kerajaan Romawi kala itu, sehingga masjid yang mereka bangun lebih megah dan lebih bagus dibanding Masjid Quba yang sederhana.

Setelah masjid Dhirar berdiri, orang-orang Munafik mendatangi Rasulullah SAW dan menjelaskan tujuan mereka membangun masjid Dhirar adalah untuk membantu orang-orang lemah dan orang sakit atau orang tua yang tidak mampu datang ke Masjid Quba untuk tetap dapat ibadah dengan adanya masjid tersebut.

Mereka juga mengundang Rasulullah SAW untuk dapat hadir shalat di masjid Dhirar. Mendengar alasan mereka seperti itu, awalnya Rasulullah SAW akan memenuhi undangan mereka setelah pulang dari peperangan Tabuk. Namun dalam perjalanan pulang dari peperangan, Allah membocorkan “Tipu Daya” dan maksud busuk orang Kafir dan kaum Munafik yang telah membangun Masjid Dhirar tersebut, lalu turunnya surat At Taubah ayat 108:

“Janganlah engkau melaksanakan sholat dalam masjid itu selama-lamanya. Sungguh, masjid yang didirikan atas dasar takwa sejak hari pertama adalah lebih pantas engkau melaksanakan sholat di dalamnya. Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Allah menyukai orang-orang yang bersih.” (QS At-Taubah : 108)

Begitu mengetahui siasat buruk orang-orang munafik seperti dalam ayat 107 tersebut, Rasulullah SAW akhirnya memerintahkan para sahabat untuk meruntuhkan masjid tersebut. Kemudian lokasi bangunan masjid Dhirar dijadikan tempat pembuangan sampah dan bangkai binatang

Demikian akhir dari masjid yang didirikan atas dasar kemunafikan, niat yang tidak baik, niat untuk memecah belah umat Islam, dan melakukan propaganda-propaganda yang memicu permusuhan di antara sesama muslim.
Allah SWT berfirman : “Bangunan yang mereka dirikan itu senantiasa menjadi penyebab keraguan dalam hati mereka, sampai hati mereka hancur. Dan Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana.” (QS At-Taubah : 110). []

from Panjimas http://www.panjimas.com/kajian/2017/04/17/benarkah-masjid-raya-yang-dibangun-ahok-masjid-dhirar/
via IFTTT


Tidak ada komentar:

Write a Comment

Komentarlah dengan kata yang baik, bijak dan jelas


Ke atas
close